HUKUM BERCANDA DAN ADABNYA DALAM ISLAM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia----Hidup ini bisa indah dan bisa juga suram, hidup yang indah diwarnai dengan suasana yang menyenangkan, ceria dan penuh kebahagiaan, ada tawa dan canda dalam kebahagiaan itu. Tetapi akan terasa sepi hidup ini jika tidak pernah ada canda tawa dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Bercanda yang kerap kali menjadi obat yang ampuh untuk menyegarkan suasana hati tatkala kita akan merasa jenuh dengan berbagai kesibukan dan tanggung jawab di dalam kehidupan.

HUKUM BERCANDA DAN ADABNYA DALAM ISLAM

Islam tidak melarang kita bercanda (al-mizaah). "Bercanda diperbolehkan sebagaimana dalam hal ini dilakukan oleh Nabi SAW," kata Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam adab Islam menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah. Walau demikian, ada tata krama atau adab yang harus diperhatikan ketika sedang bercanda.

Salah satu di antara adab itu merupakan niat yang benar sebaiknya seseorang bercanda dengan niat untuk menghilangkan rasa kebosanan dan lesu serta untuk menyegarkan jiwa dengan sesuatu yang dibolehkan sehingga ia akan memperoleh semangat baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. "Bahwa sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niatnya. Maka dari itu, sebaiknya setiap muslim menghadirkan niat yang benar dalam setiap ucapan dan perbuatannya," kata Sekh Abbdul Aziz.

Bercanda tidak boleh berlebihan atau melampaui batas. Sikap yang seperti ini hanya akan menjatuhkan martabat. Orang lain menjadi tidak peduli, tidak hormat, dan menggunjingkan kita. Berlebihan ketika sedang bercanda bisa membuat orang lain sakit hati karena tersinggung oleh kata-kata yang kita ucapkan.

Bercanda harus 'pilih-pilih orang, Artinya, ada orang-orang tertentu yang tergolong asik untuk diajak bercanda. Contohnya, orang yang selalu serius dalam menanggapi setiap ucapan atau perbuatan. Bercanda dengan orang seperti ini dapat berakibat buruk. Oleh Karena itu, tidak sepatutnya bercanda kecuali dengan orang yang dapat menerima canda kita.

Hal lainnya juga yang harus diperhatikan ketika bercanda yaitu tempat dan kondisi. Dalam hal ini, tidak sepatutnya bercanda pada tempat atau kondisi yang serius, contohnya pada majelis ilmu, majelsi penguasa, dan majelis hakim ketika memberikan kesaksian, pada saat talak, dan sebagainya.

Selanjutnya hindari kata-kata yang kotor dan tertawa yang berlebihan sampai terpingkal-pingkal. Banyak tertawa bisa mengeraskan hati dan mematikannya. Sedangkan, tertawa terpingkal-pingkal selain bisa mematikan hati dapat menghilangkan kewibawaan dan ketenangan. Lalu, bercanda dengan orang-orang yang membutuhkan, misalnya anak-anak. Nabi Muhammad SAW pun cukup sering bercanda dengan anak-anak.


Bercanda dibagi menjadi dua yaitu:

Pertama, bercanda dengan ringan. Bercanda dengan ringan atau biasanya tersenyum malah sangat diperbolehkan, dalam hadis Rasulullah SAW bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." Selain itu, senyum adalah salah satu media untuk membahagiakan hati orang lain yang bisa mendatangkan pahala dari Allah SWT.

Tetapi ada perbedaan antara tertawa dengan senyum. Senyum termasuk ke dalam kategori tertawa yang ringan, tidak membuat orang yang melakukannya tidak dengan mengeluarkan suara yang keras dan kencang. Tertawa ringan ini sangat diperbolehkan oleh syariat. Ulama yang berpendapat bahwa senyum merupakan sebuah perkara yang sunnah.

Adapun dalam bercanda yang kedua, yaitu tertawa dengan terbahak-bahak. Tertawa merupakan hal yang sering kita lakukan yang bisa jadi kita tidak sadar jika kita sudah tertawa sehari lima kali. Tertawa membuang-buang waktu. Oleh karena itu, tertawa yang berlebihan dilarang dan diharamkan. Ingat, kita boleh tertawa. Tetapi tidak boleh berlebihan. Tertawa bisa mematikan hati, dan segala hal yang bisa mematikan hati termasuk dalam perkara yang terlarang.

Karena hati mati, kita jadi sulit untuk menerima nasehat yang berupa kebenaran. Pemilik hati yang mati itu akan jauh dari Allah SWT. Rasulullah SAW senantiasa menyampaikan bahwa jika bercanda itu harus secara proporsional. Namun beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak atau bercanda yang terlalu berlebihan.


Perkara yang di haramkan dalam bercanda

Seperti disampaikan di atas bahwa ada hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam bercanda. Dalam bukunya, Syeikh Abdul Aziz mengingatkan kepada kita agar menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT pada saat bercanda. Salah satunya, bercanda dengan menakut-nakuti, seperti menggunakan topeng yang menakutkan, berteriak dalam kegelapan, menyembunyikan barangnya, dan sebagainya. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh," (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Diharamkan pula berdusta ketika bercanda. Bahwa sesungguhnya dusta itu tidak diperbolehkan, bagaimanapun keadaannya. Perhatikan Nabi SAW bersabda: "Bahwa sesungguhnya aku bercanda, tetapi aku tidak mengatakan kecuali yang benar.

Allah SWT mengharamkan untuk bercanda dengan cara melecehkan orang tertentu. Contohnya, melecehkan penduduk daerah tertentu, dan menyebutkan aib mereka dengan tujuan agar membuat orang lain tertawa.

Satu hal lagi, Allah SWT melarang kita untuk bercanda dengan mencela, menuduh, atau menyakiti sahabatnya dengan perbuatan yang keji. Misalnya, seseorang berkata kepada temannya, "Hal anak anjing!" dan lain sebagainya.

Sayangnya, selama ini banyak diantara kita yang belum memahami tata krama dalam bercanda. Misalnya paling jelas yaitu seperti pada program-program lucu atau lawak di televisi yang kerap kebablasan karena kurang memperhatikan adab dalam bercanda. Karena itu, mulai sekarang perhatikan tata krama yang digariskan oleh Islam dalam bercanda. Insya Allah, ke depannya akan menjadi yang lebih baik lagi. 

Demikian tentang hukum dan adab bercanda dalam Islam, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi kita semua, semoga Allah SWT selalu meridoi setiap amal perbuatan kita yang berusaha beradab sehari-hari...Amiin.   

TIPS AGAR RAMBUT SEHAT TIDAK PUTIH BERUBAN SEPERTI RASULULLAH

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI-Pendidikan Agama Islam---Tips agar rambut sehat dan tidak beruban seperti Rasulullah. Banyak dari kita yang mengeluhkan perubahan terhadap pernampilan kepala karena uban yang tumbuh di kepala. Kita sering melakukan segala cara untuk mengatasi uban, mulai dari obat-obatan hingga trapi tertentu yang diharapkan dapat menghilangkan uban tersebut.

Tahukah anda, ternyata ada cara dan tips yang ampuh menurut Rasulullah untuk mengatasi uban di kepala.

Rasulullah Muhammad SAW ketika meninggal rambut dikepala beliau hanya ditemukan 3 lembar uban. Ini membuktikan bagaimana sehatnya fisik, jiwa, hati dan pikiran Rasulullah.

Berikut tips agar rambut selalu sehat hitam dan tidak beruban seperti Rasulullah.

1. Bersabar

Rasulullah selalu bersabar dan paling sabar dalam segala hal. 

2. Tidak Pernah Marah

Rasulullah tidak pernah marah kecuali terkait pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah SWT.

3. Jauh dari penyakit hati. 

Rasulullah jelas Tidak memiliki Penyakit Hati---Penyakit hati dapat membuat kerusakan pada fisik dan tubuh manusia. Seseorang yang selalu memlihara dan memiliki penyakit hati, akan mengalami perubahan dan kerusakan pada fisiknya, salah satunya pada pertumbuhan rambutnya.
Penyaskit hati bisa berupa; - Sirik, dengki, ria, sombong dll

4. Berwudhu

Membasuh kepala dalam berwudu memeberikan dampak yang baik terhadap kesehatan fisik terutama pada bagian kepala. Berwdhu meluruhkan dosa-dosa dan membersihkan pikiran yang jelek dari kepala. 


Tonton video Ceramah ustat Basalam tentang Penyakit hati, berupa perbedaan fisik antara seseorang yang memiliki penyakit hati dan yang bersih hatinya berikut ini :



Demikian cara dan tips yang ampuh menurut Rasulullah untuk mengatasi uban di kepala. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

INILAH ALASAN ILMIAH DILARANG KELUAR RUMAH SAAT MAGHRIB SENJA TIBA

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia----Saat senja telah tiba dan Maghrib merupakan waktunya Shalat  tiga rakaat, yang dilakukan pada saat ketika bumi berpindah waktu dari siang menjadi malam hari. Saat Maghrib tiba, orang tua biasanya menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan menghentikan aktivitas di luar rumah. Orang tua jaman dahulu banyak yang masih percaya bahwa saat Maghrib tiba, akan banyak hantu, setan dan jin yang berkeliaran yang akan mengganggu atau merasuki manusia. Setelah Magrib, mereka kembali membiarkan anak-anaknya untuk bermain di luar rumah.
Senja-Maghrib
Bagi umat Islam, larangan keluar senja ketika maghrib tiba, merupakan suatu yang memang sangat diyakini kebenarnnya. Tetapi pada umumnya mereka hanya meneruskan kebiasaan orang tua dan tidak mengetahui bahwa sebenarnya larangan ini ada dalilnya yaitu dalam hadist Nabi. Dalam sabdanya, Nabi SAW mengatakan bahwa ketika Maghrib, akan banyak setan dan jin yang berkeliaran. Ternyata, hadist Nabi ini bisa dijelaskan secara ilmiah.


Dalam hadist Nabi Muhammad SAW bersabda “Jangan kalian membiarkan anak anak kalian di saat matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam sebab setan berpencar jika matahari terbenam sampai menghilang kegelapan malam,”  (Dari Jabir dalam kitab Sahih Muslim).

Selain itu juga dijelaskan dalam Sahih Muslim Nabi, bersabda: 

Jika sore hari mulai gelap maka tahanlah bayi bayi kalian, sebab iblis mulai bergentayangan pada saat itu. Jika sesaat dari malam telah berlalu maka lepaskan mereka, kunci pintu-pintu rumah dan sebutlah nama Allah, sebab setan tidak membuka pintu yang tertutup. Dan tutup rapat tempat air kalian dan sebutlah nama Allah. dan tutup tempat makanan kalian dan sebutlah nama Allah. meskipun kalian mendapatkan sesuatu padanya.” (HR Muslim)


Hadist Nabi SAW ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Sebuah buku ilmiah keagamaan karya Prof. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS berjudul The Science Of Shalat yang diterbitkan Qultummedia  menjelaskan bahwa menjelang Maghrib, alam akan berubah menjadi spektrum cahaya berwarna merah. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetis (EM) yang memiliki spectrum warna yang berbeda satu sama lain. Setiap warna dalam spectrum mempunyai energi, frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda.

Dalam bukunya dijelaskan bahwa ketika waktu Maghrib tiba, terjadi perubahan spectrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis, yakni spektrum warna merah. Pada waktu ini,  jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi bersamaan dengan warna alam. Pada waktu Maghrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.

Dalam Islam, pada waktu magrib dijelaskan bahwa setan bersamaan dengan datangnya kegelapan mulai menyebar mencari tempat tinggal, karena mereka tersebar dengan pemandangan luar biasa biasa dan jumlah yang tidak ada yang tahu selain Allah. Sebagian setan takut dari kejahatan setan yang lain, sehigga setan harus memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat berlindung dan mencari tempat aman.

Maka ia bergerak dengan cepat melebihi kecepatan manusia dengan kecepatan berlipat lipat, beberapa dari mereka berlindung dalam wadah kosong, berlindung ke rumah kosong, dan beberapa dari mereka berlindung kepada sekelompok manusia yang sedang duduk duduk. Mereka tentu tidak merasakannya, mereka ikut menimbrung supaya menjadi aman dari penindasan saudara sesama setan yang juga berkeliaran seperti angin di bumi karena yang boleh hidup hanya yang kuat saja.

Kadang kala setan mengganggu anak kecil manusia untuk dijadikan tempat berlindung. Selain itu setan juga berlindung ditempat yang kotor seperti pada popok bayi yang sudah kotor. Mereka lebih memilih popok bayi karena najis sebagai tempat persembunyian, sehingga mendorong mereka untuk tinggal.

Anda pasti pernah menemukan beberapa anak menjerit tiba-tiba dan beberapa yang menggelapar dalam tidurnya karena gangguan iblis yang merasukinya saat dijadikan tempat berlindung.

Adapun mengenai makhluk gaib yang keluar pada waktu tersebut, target utamanya adalah anak-anak yang usianya masih di bawah dua tahun dan Ibu hamil. Konon selain psikis, jin ini juga bisa menyebabkan penyakit fisik. Untuk itu, perlu bagi kita untuk mengenali siapa jin tersebut, bagaimana kerjanya, serta cara mengantisipasinya.

Jin wanita yang disebutkan tesebut bernama Ummu Sibyan Mereka akan mengganggu anak-anak yang usianya di bawah dua tahun serta ibu hamil. Jin ini pernah menemui Nabi Sulaiman as dan menjelaskan kepada beliau apa target utamanya.

Ia datang dengan ciri-ciri yang sangat menakutkan, terlebih saat melakukan aksinya pada saat magrib. Perempuan tua ini memiliki rambut beruban, dengan dua bola mata berwarna biru, kedua-dua keningnya bertanduk, betisnya kecil, rambut kusut, mulutnya menganga, mengeluarkan pucuk api, dan bisa memecahkan benda besar dengan pekikan suaranya.


Nabi Sulaiman kemudian bertanya pada jin tersebut;,

Siapa kamu? Apa kamu manusia atau jin? Karena aku tidak pernah melihat orang sepertimu.

Perempuan itu menjawab:

Akulah Ummu Sibyan (Ibu penyakit sawan) yang dapat menguasai ke atas anak Adam lelaki dan perempuan, aku bisa masuk ke rumah-rumah, bisa berkokok seperti ayam, menyalak seperti anjing, melenguh seperti lembu, bersuara seperti keledai dan kura-kura dan bersiul seperti ular.”

Si jin menjelaskan lagi, jika ia bisa bertukar wajah dan berubah sesuai dengan keinginannya. Kemudian, bisa mengikat rahim perempuan serta membunuh anak-anak yang masih ada di dalam rahim. Mereka masuk ke perut lalu menendang bayi yang masih di dalam rahim, hingga sang Ibu keguguran. Mereka juga mengganggu anak-anak kecil memberikan rasa panas dan kesakitan yang mengerikan.

Nabi Sulaiman menangkapnya dan berkata : “Wahai perempuan yang celaka! Kamu tidak boleh lari dari genggamanku sampai memberikan satu perjanjian dan sumpah setia kepada anak-anak Adam, lelaki dan perempuan”.

Dalam keseharian, mungkin kita sering melihat anak-anak yang menangis ketika maghrib tiba. Tidak hanya itu, mereka menjerit dengan mata terbelalak ke arah tertentu seperti melihat sesuatu. Tidak jarang, anak-anak juga demam tinggi hingga berakibat fatal yakni kematian.


Orang tua seharusnya mengikuti anjuran Nabi SAW ini. Menutup pintu ketika magrib, serta menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Pasalnya, gangguan dari jin Ummu Sibyan ini bisa menyebabkan penyakit bagi anak seperti sawan tangisan, autisme, kenakalan, dan berbagai komplikasi otak.

Karena itula pada waktu maghrib, kita dihimbau untuk berhati-hati dan tidak keluar rumah, menjauh dari hewan, seperti kucing, burung, dan mengurangi kecepatan saat mengemudi mobil karena dikuatirkan menabrak anjing atau hewan lain yang bisa jadi telah dirasuki setan, dan tidak boleh jalan jalan di tempat sepi atau duduk di tempat itu, atau melempar batu ke dalam kamar mandi, kebun dan laut.


INILAH DOSA JARIAH BESAR YANG TETAP MENGALIR MESKI SUDAH MENINGGAL

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia-----Sebagian manusia bisa dengan mudah melakukan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena seringnya dilakukan, tindakan tersebut terkadang dianggap biasa sehingga tidak terasa seperti dosa. Padahal dosa bukanlah perkara main-main.

Balasannya mutlak neraka yang sudah disiapkan Allah SWT bagi hamba-Nya yang ingkar. Ternyata, setelah meninggal tanggungjawab terhadap dosa maksiat yang pernah dilakukan tidak terputus begitu saja, akan mengalir hingga hari perhitungan kelak.


Selama perbuatan maksiat tersebut masih berdampak dan berpengaruh kepada orang lain, maka dosanya akan tetap mengalir kepada pelakunya meski Ia sudah meninggal. Apa saja dosa-dosa tersebut? Berikut ulasannya.

Jika biasanya kita mengenal amal jariyah yang pahalanya mengalir meski sudah meninggal, maka ada juga dosa jariyah yang di janjikan Allah SWT akan diterima manusia. Saat sudah meninggal, seseorang akan tetap mendapatkan dosa karena perbuatannya semasa di dunia masih berpengaruh buruk terhadap orang lain.

Padahal di alam barzah manusia sangat membutuhkan limpahan pahala sebagai pertolongan mereka menunggu hari kiamat. Namun karena dosa jariyah ini mereka justru harus menanggung dosa-dosa yang dilakukan orang lain, akibat pengaruh atas tindakan maksiat yang pernah Ia lakukan semasa hidup.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Inilah dosa jariah besar yang tetap mengalir meski seseorang sudah meninggal dan berada di alam kuburnya.

1. Menjadi Pelopor Maksiat

Pelopor merupakan orang yang pertama melakukan suatu tindakan sehingga yang lain turut mengikuti. Pengikutnya bersedia meniru baik dengan paksaan maupun tanpa diminta sama sekali. Kondisi ini akan sangat bagus jika menjadi pelopor untuk tujuan yang baik. Namun bagaimana jika menjadi pelopor maksiat?

Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Orang yang menjadi pelopor ini sama sekali tidak mengajak orang di lingkungannya untuk berbuat maksiat serupa. Ia juga tidak memberikan motivasi kepada orang lain untuk mengikutinya. Namun karena perbuatannya ini Ia berhasil menginsipirasi orang lain melakukan maksiat serupa.

Itulah mengapa anak Nabi Adam, Qabil, yang menjadi orang pertama yang membunuh manusia harus bertangungjawab atas semua kasus pembunuhan di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya).

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana dosa yang akan ditanggung pelopor dan pendesign rok mini, baju you can see, penyebar video porno dan masih banyak tindak maksiat lainnya. Sebagai pelopor dosa mereka akan terus mengalir hingga hari kiamat kelak. 


2. Mengajak Orang lain Melakukan Kesesatan dan Maksiat

Berbeda dengan pelopor yang hanya menginspirasi orang lain, orang yang satu ini dengan nyata mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan tindakan maksiat. Merekalah merupakan juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan.

Dalam Alquran Allah SWT menceritakan bagaimana orang kafir kelak akan menerima dosa dari kekufurannya. Belum lagi dengan dosa-dosa orang-orang yang juga mereka sesatkan.

“Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan).”(QS. an-Nahl: 25)

Ayat ini memiliki makna yang sama dengan  hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya).

Contoh mudah terkait hadist ini adalah orang-orang yang menjadi propaganda kesesatan, mereka menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, mengajak masyarakat untuk berbuat kesyirikan dan bid’ah.

Merekalah para pemilik dosa jariyah, lantas bagaimana dosa mereka? Selama masih ada manusia yang mengikuti apa yang mereka serukan, maka selama itu pula orang ini turut mendapatkan limpahan dosa, sekalipun dia sudah dikubur tanah.

Termasuk juga mereka yang mengiklankan maksiat, memotivasi orang lain untuk berbuat dosa, sekalipun dia sendiri tidak melakukannya, namun dia tetap mendapatkan dosa dari setiap orang yang mengikutinya.

Semoga kita lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih banyak melakukan amal shaleh dibanding dosa-dosa maksiat. Karena hidup tidak hanya semata di dunia lalu selesai ketika sudah meninggal. Namun perjalanan masih panjang untuk menuju kehidupan yang kekal.

INILAH 10 PINTU-PINTU MASUK SETAN KE DALAM HATI MANUSIA

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-harimanusia---Seperti yang disebutkan bahwa hati manusia itu diibaratkan benteng, sementara setan ibarat musuh yang ingim menembus masuk ke dalam benteng, lalu memiliki dan menguasainya. Benteng tidak akan dapat diselamatkan dari serangan musuh kecuali dengan mengadakan penjagaan pada pintu-pintunya, menutup rapat-rapat setiap celah yang memungkinkan dijadikan jalan masuk bagi musuh. Jika seseorang tidak mengetahui pintu-pintu itu, maka ia tidak mungkin dapat melindunginya dengan baik.

Memelihara dan menjaga hati dari godaan setan itu wajib hukumnya, bagi setiap hamba yang sudah mukalaf. Sesuatu yang menjadi sarana terlaksananya sesuatu yang wajib, maka wajib pula hukumnya. Seseorang tidak akan dapat menangkal setan menerobos masuk ke dalam hati, kecuali dengan mengetahui telebih dahulu pintu-pintu masuk yang akan dilaluinya, sehingga mengetahui jalan masuk setan ke dalam hati, hukumnya menjadi wajib pula.

Jalan-jalan setan dan pintu-pintu masuknya ke dalam hati itu adalah sifat-sifat yang melekat pada manusia yang jumlahnya begitu banyak. Tetapi kami akan menunjuk pada pintu-pintu besar yang tidak akan membuat setan berdesak-desakan masuk ke dalamnya betapapun besar jumlah setan dan bala tentaranya yang akan melaluinya.

Berikut ini adalah 10 sepuluh Di antara pintu-pintu setan yang besar itu, ialah:

1. Amarah
Amarah merupakan jalan besar bagi masuknya setan ke dalam hati. Karena ketika terjadi amarah akal menjadi tidak berfungsi dengan baik. Jika tentara akal lemah, tentu sangat mudah bagi tentara setan untuk melakukan serangan dan menguasai hati manusia.

2. Menurutkan nafsu Syahwat
Syahwat juga merupakan jalan besar bagi masuknya setan ke dalam hati. Karena ketika terjadi  nafsu Syahwat dan kita selalu menurutkannya, akal menjadi tidak berfungsi dengan baik. Jika tentara akal lemah, tentu sangat mudah bagi tentara setan untuk melakukan serangan dan menguasai hati manusia.

3. Dengki dan rakus
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain adalah dengki dan rakus. Ketika seorang hamba terhadap suatu apapun, maka kerakusan akan menjadikannya buta dan tuli, sehingga setan mudah masuk dan menggodanya.

4. Makan kekenyangan
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain juga adalah makan sampai kenyang, sekalipun apa yang ia makan itu makanan yang halal dan bersih. Karena kekenyangan akan memperkuat syahwat padahal syahwat itu adalah sejatan setan.

5. Gemar Menghias Pakaian, Rumah dan Prabotannya
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain adalah senang terhadap urusan hias-menghias perabot rumah tangga, pakaian dan rumah. Adalah setan jika setan melihat semua itu, ia akan menguasai hati manusia, bertelur dan menetas di sana. Ia selalu mengajak seseorang untuk membangun rumah, menghiasi atapnya, dindingnya serta memperluas bangunannya. Setan juga selalu mendorong seseorang untuk berhias dan unjuk gaya dengan pakaian yang indah, aksesoris yang wah dan kendaraan yang bagus. Sehingga ia akan bergelimang dalam kondisi yang seperti itu sepanjang hidupnya.

6. Rakus kecintaan, Kekaguman dan Mengkultuskan Individual seseorang
Diantara pintu-pintu besar setan yang lain adalah tamak kepada manusia - ketamakan dimaksud bisa terjadi karena cinta, kagum, ingin mendapatkan sesuatu dari yang dicintai atau dikagumi, misalnya; ketika ketamakan telah menguasai hatinya, maka setan akan selalu berupaya memoles dan menghiasi dirinya dengan berbagai macam riya' dan sikap dan gaya hidup yang dibuat-buat penuh kepalsuan di hadapan orang yang ditamaki (dicintai dan dikagumi tersebut). Sehingga orang yang ditamaki itu, seolah-olah menjadi sesembahannya.
 
7. Tergesa-gesa dan Tidak Konsisten
Diantara pintu-pintu besar bagi masuknya setan kedalam hati manusia adalah  ketergesa-gesaan dan tidak konsisten dengan suatu perkara. Rasulullah saw. pernah bersabda;
Artinya; "Tergesa-gesa itu dari setan, sedangkan kehati-hatian itu dari Allah Ta'ala."
Seyogyanya setiap pekerjaan itu dilakukan setelah dicermati dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Sementara pencermatan memerlukan perenungan dan ketelitian, sedangkan ketergesa-gesaan mencegah yang demikian itu. Ketika seseorang tergesa-gesa, maka setan menyusupkan kejahatan kepadanya tanpa diketahuinya.
 
8. Kecintaan Pada Dirham, Dinas dan Berbagai Jenis Harta Benda Lainnya
Pintu besar yang lain bagi setan untuk masuk dan menguasai hati manusia adalah dirham, dinar dan semua jenis harta benda yang berupa hewan piaraan, sawah ladang dan lainnya. Setiap kelebihan dari kadar makanan dan kebutuhan pokok lainnya, adalah menjadi tempat bersarangnya setan.

9. Kikir dan Takut Miskin
Sifat kikir dan takut miskin inilah yang menghalangi berinfak dan bersedekah. Kedua sifat itulah yang mendorong seseorang untuk menimbun dan menumpuk-numpuk harta benda. Dengan sikap yang demikian itu, pada hakekatnya justru mengundang siksaan yang sangat pedih yang dijanjikan bagi orang-orang yang suka menumpuk harta.

10.Fanatik Bermadzhab, Hawa Nafsu dan Dendam dalam Permusuhan.
Diantara pintu-pintu masuk setan yang lain lagi ialah tawashul; fanatik bermadzhab, hawa nafsu, dendam dan permusuhan, memandang musuh-musuhnya dengan pandangan yang rendah dan hina. Semua itu termasuk di antara hal-hal yang dapat membuat manusia rusak dan fasek.

Demikian keadaan hati manusia dalam kaitannya dengan pintu-pintu masuk setan ke dalamnya, semoga kita selalu terhindar dari yang demikian itu. Waallaahu a'lam bis-shawaab.

MENGETAHUI DAN MEMAHAMI TENTANG HATI (AL-QALB)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia---Ketahuilah bahwa pengertian dan nama dari Hati (Al-Qalb) banyak yang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang berbeda. Sehingga terjadi beberapa kesalahan dan kekeliruan yang sering terjadi seringkali diakibatkan ketidak pengertian mereka terhadap istilah tersebut, karena di samping memiliki persamaan, dalam banyak hal juga memiliki perbedaan. Apa sebenarnya hati itu ? dalam banyak perdebatan Tasawup orang awam sering dihubungkan-hubungkan dengan ruh, benarkah demikian?. Nah pembahasan berikut ini semoga dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang hati tersebut.

Dalam banyak literatur di jelaskan Lafal al-Qalb (hati) memiliki dua makna, yaitu :

Pertama: Daging yang berbentuk sanuba yang terletak di sisi kiri dada. Dalam bentuknya yang khas di tengahnya diging ini terdapat rongga yang berisi darah hitam yang menjadi sumber ruh dan kehidupan. Namun bukan menjadi tujuan kita membahasa bentuk dan bagaimananya daging tersebut secara lahir dalam pembahasan ini. Karena dalam konteks ini tidak berkaitan dengan tujuan keagamaan tetapi menjadi tujuan obyek kajian para dokter. Karena hati dalam bentuknya semacam ini terdapat juga pada organ tubuh binatang, bahkan juga terdapat pada mayit.

Oleh karena itu, ketika kita menyebut istilah al-qalb dalam pasal ini, yang kita maksud bukanlah orang hati yang hanya berbentuk septong daging yang tidak berharga. Hati yang merupakan organ tubuh yang berbentuk sepotong daging itu dapat diraba dan dilihat oleh idera manusia bahkan dapat pula dilihat oleh binatang.

Kedua, Sesuatu (rohani) yang sangat halus dan bersifat rabbani. Hati dalam arti sesuatu yang sangat halus (lathifah) ini, memiliki hubungan dengan hati yang bersifat jasmani. Hati dalam arti kedua inilah merupakan hakekat dan jati diri manusia. Hati dalam arti inilah yang bisa mengetahui, mengenal serta mengerti sesuatu. Dan dialah yang menjadi sasaran lawan bicara (yang terbebani hukum-hukum syari'at) yang dikenal sangsi, celaan dan yang dituntut tanggung jawabnya. Hati dalam arti ini memiliki hubungan dengan hati yang menjadi organ tubuh jasmani. Namun hubungan antara keduanya sulit diketahui dan cukup membingungkan akal kebanyakan manusia. Karena keterkaitan hubungan itu lebih luas daripada sekedar hubungan kebendaan (jasmaniah), antara sifat dan yang disifati, antara pengguna alat dengan alat itu sendiri dan lebih luas daripada hubungan antara tempat dengan yang menempati itu.


Pembahasan mengenai hal tersebut secara mendalam, kita coba untuk menghindarinya, karena dua alasan, yaitu :

Pertama: Pembahasan mengenai hal itu secara terperinci dan mendalam berhubungan erat dengan ilmu mukasyafa (terbukanya suatu tabir hati, sehingga perkara yang gaib menjadi terlihat jelas olehnya), sementara hal demikian bukan menjadi pokok bahasan kita dalam tulisan ini. Karena yang menjadi obyek utama bahasan kami dalam pasal ini adalah yang terkait dengan ilmu-ilmu mu'amalah.

Kedua: Pembahasan hal tersebut secara mendalam akan memasuki wilayah pembahasan rahasia ruh dan mengenai yang terakhir inipun, tidak pernah dibahas oleh Rasulullah saw. - Hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah membicarakan rahasia ruh dan esensinya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim (muttafaq 'alaih), dari Ibnu Mas'ud terkait dengan pertanyaan orang Yahudi kepada Nabi saw. mengenai ruh. Mendapat pertanyaan itu Nabi lebih memilih diam tidak memberikan jawaban atas pertanyaan mereka hingga turun ayat sebagai berkut:

Artinya:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kami diberi pengetahuan melainkan sedikit."   (QS. Al Isra' : 85).

Maka, yang selain beliu juga tidak patut membicarakaannya lebih jauh, apa lagi dengan pembicaraan yang tidak ada dasar dan landasannya. 

Jadi, yang dimaksud, ketika kita menyebut istilah al-qalb dalam pembahasan ini yang di maksud adalah sesuatu yang sangat halus (al-lathifah) yang bersifat rohaniah, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Kami bermaksud hanya menyebut sifat-sifatnya dan berbagai kondisinya, bukan mengenai hakekat zatnya. Dan inilah yang kami maksudkan dengan ilmu mu'malah tersebut. Yang diperlukan dalam ilmu mu'amalah hanyalah pengetahui sifat-sifat dan berbagai ihwalnya, bukan mengenai esensi dan hakekat zatnya. 

8 KIAT AGAR MENDAPATKAN REZEKI HALAL BERLIMPAH, BERKAH DAN BERMANFAAT

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia-----Rezeki banyak melimpah tidak sama konsepnya dengan rezeki yang halal dan berkah. Bisa jadi seseorang mempunyai rezeki yang banyak tetapi tidak terdapat keberkahan di dalamnya. Makna kata berkah sendiri berarti al-ziyadah yang artinya bertambah dan al-namaa’ yang artinya tumbuh berkembang. Menurut Imam Al Baghawy, yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan ilahiy dalam sesuatu. Maka di dalam Islam rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan mengandung kebaikan di dalamnya. Sehingga bisa kita katakan, kalau seseorang mempunyai rezeki yang berkah, maka rezekinya bertambah-tambah di dalamnya dengan terdapat pula banyak kebaikan yang tiada berkurang.


Adapun ikhtiar atau cara agar rezeki lancar, barokah dan halal sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW. Insya Allah sebagai berikut:

1. Menjauhi pekerjaan yang haram dan syubhat

Dalam arti kata taat kepadanya dan tidak melakukan dosa. Karena dosa menutup pintu rezeki. Rasulullah bersabda: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmizi). Dekatkan diri kepada Allah dengan ibadah ma’dah tambahan seperti sholat Dhuha dan Tahajud.


2. Bekerja sungguh-sungguh

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rizki yang halal.” (HR. Adailami).


3. Mengadukan masalah rezeki ini hanya kepada Allah SWT

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberinya rizki, baik segera ataupun lambat.”[HR. Abu Dawud dan Turmidziy, Abu 'Isa berkata hadits ini hasan shahih gharib]

4. Banyak membaca istighfar. 

Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah swt akan menjadikan setiap kesulitan kelapangan, dan setiap kesempitan jalan keluar, dan Allah akan memberinya rejeki dari jalan yang tidak pernah disangka-sangkanya.“ [HR. Imam Ahmad dalam Musnad]

5. Sabar dan banyak membaca la hawla wa la quwwata illa billah

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya anak laki-laki ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy yang bernama Salim, telah ditawan oleh orang-orang musyrik. Kemudian, ia mendatangi Rasulullah saw dan mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah, sambil berkata, “Sesungguhnya, musuh telah menawan anaknya, dan ibunya menjadi sangat sedih. Lantas, apa yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah saw menjawab, ” Bertaqwalah kepada Allah, bersabarlah, dan aku anjurkan agar kamu dan isterimu memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa bi al-Allah”. Lalu, ia kembali ke rumahnya dan berkata kepada isterinya,”Rasulullah saw telah memerintahkan aku dan kamu untuk memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa bi al-Allah”. Isterinya menjawab, “Baiklah.” Keduanya segera melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah saw. Akhirnya, anaknya berhasil meloloskan diri dari musuh, dan menggiring ternak-ternak mereka. Kemudian, ia membawa ternak-ternak itu di hadapan ayahnya. Jumlah ternak itu adalah 4000 ekor kambing, dan Rasulullah saw memberikan ternak itu kepadanya.[Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-Thalaq:3]

6. Tawwakal sepenuhnya kepada Allah SWT.  

“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rejeki kepada kalian, sebagaimana Allah telah memberi rejeki kepada burung yang berangkat di pagi buta dengan perut kosong, dan kembali ke sarangnya dengan perut kenyang.”[HR. Bukhari].


7. Bershadaqahlah dan Nafkahkanlah harta tersebut kepada yang berhak

Rasulullah bersabda ”Ada tiga hal yang aku bersumpah kepadanya dan aku akan menyampaikan suatu berita kepadamu, maka perhatikan benar-benar. Tiadalah akan berkurang harta seseorang karena shadaqah….dan tiadalah seseorang membuka pintu meminta-minta melainkan Allah akan membukakan kepadanya pintu kemiskinan.”[HR. Turmudziyy] “Janganlah kamu menutup-nutupi apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan menutupi rizkimu.” Dalam riwayat lain dinyatakan, “Nafkahkanlah hartamu serta jangan kamu menghitung-hitungnya, maka Allah swt akan menghitung-hitungnya untukmu; dan janganlah kamu menakar-nakarnya, niscaya Allah Alah menakar-nakarnya untuk kamu.” [HR. Bukhari dan Muslim].


8. Tolonglah Agama Allah dengan menegakkan Syariat Islam secara kaffah

Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 7:” Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“. Kiat yang terakhir inilah yang harus diperhatikan dengan serius oleh umat Islam pada saat sekarang ini. Islam sebagai jalan kehidupan tidak tegak di masyarakat kita pada saat ini dengan tidak adanya Daulah Islam sebagai wadah tegaknya Syariat Islam. Sehingga membuat sistem perekonomian yang dimana umat mencari rezeki pada saat sekarang ini merupakan sistem perekonomian yang tidak mendukung mereka untuk mendapatkan rezeki yang banyak, lancar dan barokah. Lihatlah bagaimana susahnya sebagian orang hanya untuk mendapatkan sesuap nasi sehari, dan kemudian tidak lepasnya setiap usaha dari riba, sehingga untuk memastikan apakah harta yang kita cari pada saat sekarang ini berkah dan halal,sangatlah susah sekali.

Sebenarnya Allah tidak memerlukan pertolongan karena Allah Maha Kaya, tetapi itulah cara bagi kita untuk menolong diri kita sendiri, mari kita tolong Agama Allah, agar rezeki kita banyak, lancar, halal dan Berkah.

Wallahua’alam Bishawwab.

KATA-KATA BIJAK TENTANG TERUS BERBUAT KEBAIKAN

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Seorang pemuda kehilangan sepatunya di laut,
lalu dia menulis di pinggir pantai ...
LAUT INI MALING ...

Tak lama datanglah nelayan yg membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai ...
LAUT INI BAIK HATI ...

Seorang pemuda tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai,
LAUT INI PEMBUNUH ...

Tak lama datanglah Seorang lelaki yg menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai..
LAUT INI PENUH BERKAH ...

Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu !!!!!!

Maka .......

JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA.
.
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik.
Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.

Ali bin abi thalib berkata:
"Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada
siapa pun,
Karena yang menyukai mu tidak butuh itu,
Dan yang membenci mu tidak percaya itu.
.
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi
Siapa yang mau berbuat baik.
.
Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan ...
Namun Hapuslah kesalahan...
demi lanjutnya Persaudaraan..
.
Jika datang kepadamu gangguan...
Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.
.
Kurangi mengeluh teruslah berdoa dan berikhtiar.
Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu.”

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1438 H

INILAH KEUTAMAAN BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA SENDIRI

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Pada suatu hari seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW, ia mengadukan bahwa ayahnya telah mencuri hartanya. Rasulullah kemudian berkata kepadanya, ''Pergilah dan datanglah kemari bersama ayahmu.''

Ketika lelaki tadi pergi, Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah dan bersabda, ''Wahai Muhammad, Tuhanmu mengucapkan salam kepadamu dan berfirman, 'Jika orang tua anak tersebut tiba, maka tanyakanlah apa yang telah dia ucapkan dalam hatinya yang tidak terdengar oleh kedua telinganya'.'' Setelah berkata demikian, Malaikat Jibril pergi. Tidak lama kemudian, lelaki tadi datang bersama ayahnya. Nabi SAW kemudian bertanya kepada ayah lelaki tadi, katanya, ''Mengapa anakmu mengadu bahwa engkau mencuri hartanya?''

''Ya Rasulullah, tanyakanlah kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa; kepada salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri?'' jawab ayah lelaki tadi. ''Perkenankanlah aku untuk tidak membahas hal ini, tetapi ceritakanlah kepadaku apa yang kau ucapkan dalam hatimu yang tidak didengar oleh kedua telingamu?'' tanya Rasulullah sebagaimana yang diajarkan Malaikat Jibril sebelumnya.

''Demi Allah wahai Rasulullah, Allah selalu membuat kami semakin yakin kepadamu. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tidak didengar oleh kedua telingaku,'' jawabnya.

''Sampaikanlah, aku akan mendengarkannya,'' jawab Nabi SAW.

Tidak diduga, ternyata ayah lelaki tadi kemudian membacakan sebuah syair yang bagus yang ditujukan kepada sang anak buah hatinya:

Ketika engkau lahir, aku memberimu makan
Dan ketika engkau tumbuh dewasa, aku selalu menjagamu
Engkau diberi minum dari jerih payahku
Jika malam hari engkau sakit
Maka, sepanjang malam aku tidak tidur
Bergadang memikirkan penyakitmu
hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk
Seakan-akan aku yang sakit, bukan kau
Air mataku pun mengalir deras
Dan jiwaku khawatir kau akan mati
Padahal Dia tahu bahwa ajal akan tiba sesuai waktunya
Saat engkau mencapai usia yang tepat
Saat di mana kuharapkan dirimu
Kau balas diriku dengan kekejaman dan kekasaran
Seakan-akan engkau pemberi nikmat
Dan yang dermawan
Andai saja ketika tak dapat kaupenuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku sebagai tetangga
Yang hidup berdampingan

Mendengar syair yang dibacakan ayah lelaki tadi, tidak terasa Rasulullah pun meneteskan air mata dan berkata kepada anak tersebut, ''Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu.''

Laki-laki itu pun tertunduk lesu dan merasa malu. Ia kini menyadari betapa besar curahan kasih sayang orang tuanya kepada dirinya. Karena kesadarannya telah terbuka, maka hartanya itu diikhlaskan kepada ayahnya. Dan, lelaki beserta orang tuanya pun akhirnya minta izin pergi meninggalkan Nabi SAW dengan perasaan damai.

* * *

MASALAH TALQIN MAYIT SETELAH DIKUBURKAN

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Permasalahan Talqin Mayit merupakan salah satu hal yang krusial dan perlu difahami secara benar, mengingat ibadah adalah hal yang bersifat Tawqîfiyyah (sebatas nash dan sumbernya) sehingga di dalam melaksanakannya perlu ada nash yang pasti; shahih, sharih (jelas) dan kuat.


Dalam hal ini perlu ada pemilahan; antara Talqin Mayit yang disyari'atkan dan yang tidak disyari'atkan. Yang disyari'atkan adalah Talqin Mayit sebelum meninggal alias saat menghadapi sakratul maut karena memang didukung oleh dalil-dalil yang shahih. Yaitu, menalqinkan orang yang sedang sekarat tersebut dengan kalimat Tauhid "Lâ ilâha Illallâh".



Sedangkan yang tidak disyari'atkan adalah ketika sudah meniggal dunia, apalagi sudah dikuburkan. Adalah musibah besar bilamana hal yang serius seperti ini dilakukan berdasarkan hadits yang tidak ketahuan juntrungannya; apakah dapat dijadikan hujjah atau tidak. 


Nah, dalam silsilah kali ini kami mengangkat hadits tentang talqin mayit setelah dikuburkan tersebut, Bagaimanakah kualitasnya?, silahkan simak!


Hadits Ketiga
تَلْقِيْنُ اْلمَيِّتِ بَعْدَ الدَّفْنِ
"Menalqin Mayit adalah setelah dikuburkan"

Sumber Hadits
Redaksi seperti ini diriwayatkan di dalam Mu'jam ath-Thabaraniy dengan SANAD DLA'IF (LEMAH)

Catatan Terhadap Kualitas Hadits

Komentar tentang kualitas hadits tersebut diatas disebutkan oleh Imam as-Suyuthiy di dalam bukunya ad-Durar al-Muntatsirah Fil Ahâdîts al-Musytahirah.


Penahqiq (analis) buku tersebut, Syaikh Muhammad Luthfiy as-Shabbâgh menyatakan bahwa hadits tersebut berstatus : MAWDLU' 
Hal ini berdasarkan:

1.    Kitab al-Fawâ`id al-Majmû'ah Fil Ahâdîts al-Mawdlû'ah karya Imam asy-Syawkaniy, Hal.268
2.    Kitab Talkhîsh al-Habîr Fî Takhrîj Ahâdîts ar-Râfi'iy al-Kabîr karya Ibn Hajar, Jld.II, Hal.136, sekalipun beliau sudah berupaya untuk menguatkannya.
3.    Kitab Zâd al-Ma'âd karya Ibn al-Qayyim, Jld.I, Hal.145. Beliau mengomentari hadits diatas, "Tidak shahih (bila dikatakan) Marfû' (terangkat periwayatannya hingga sampai kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam)."
4.    Kitab Subul as-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm karya ash-Sha'âniy, Jld.II, Hal.113. Beliau berkata, "Pengarang kitab al-Manâr berkata, 'Sesungguhnya ulama yang menggeluti hadits tidak meragukan lagi hadits talqin tersebut adalah MAWDLU'.' "
5.    Kitab Fatâwa an-Nawawiy karya Imam an-Nawawiy, Hal.37
6.    Kitab Majma' az-Zawâ`id karya Ibn Hajar al-Haytamiy, Jld.III, Hal.45.



Syaikh Muhammad Luthfiy ash-Shabbâgh selanjutnya berkata, "Sedangkan menalqinkan mayit sebelum meninggal (saat menghadapi sakarat) dengan kalimat Tauhid, maka hal ini memang valid dan banyak sekali hadits-hadits Shahîh yang menegaskan hal itu. Bisa dilihat pada komentar kami terhadap hadits no.322 pada kitab Mukhtashar al-Maqâshid (al-Hasanah, karya as-Sakhawiy-red.,) dengan tahqiq kami."


(Diambil dari: Kitab ad-Durar al-Muntatsirah Fil Ahâdîts al-Musytahirah karya Imam as-Suyuthiy, tahqiq, Syaikh Muhammad Luthfiy ash-Shabbâgh, Hal.196, Hadits no.469.

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK KAUM GHURABA

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Dari Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dimulai dalam kondisi asing, dan akan kembali sebagaimana ia dimulai (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuraba' (orang-orang yang asing tersebut)". [H.R.Muslim].

KAJIAN BAHASA : 
  1. Lafazh ghariiban ; yang merupakan derivasi (kata turunan) dari lafazh al-Ghurbah memiliki dua makna: pertama, makna yang bersifat fisik seperti seseorang hidup di negeri orang lain (bukan negeri sendiri) sebagai orang asing. Kedua, bersifat maknawi -makna inilah yang dimaksud disini- yaitu bahwa seseorang dalam keistiqamahannya, ibadahnya, berpegang teguh dengan agama dan menghindari fitnah-fitnah yang timbul adalah merupakan orang yang asing di tengah kaum yang tidak memiliki prinsip seperti demikian. Keterasingan ini bersifat relatif sebab terkadang seseorang merasa asing di suatu tempat namun tidak di tempat lainnya, atau pada masa tertentu merasa asing namun pada masa lainnya tidak demikian.
  2. Makna kalimat " bada-al Islamu ghariibaa [Islam dimulai dalam kondisi asing]" : ia dimulai dengan (terhimpunnya) orang per-orang (yang masuk Islam), kemudian menyebar dan menampakkan diri, kemudian akan mengalami surut dan berbagai ketidakberesan hingga tidak tersisa lagi selain orang per-orang (yang berpegang teguh kepadanya) sebagaimana kondisi ia dimulai.
  3. Makna kalimat " fa thuuba lil ghurabaa' [maka berbahagialah bagi kaum ghuraba' (orang-orang yang asing tersebut) ] " : Para ulama berbeda pendapat mengenai makna lafazh thuuba . Terdapat beberapa makna, diantaranya: fariha wa qurratu 'ain (berbahagia dan terasa sejuklah di pandang mata); ni'ma maa lahum (alangkah baiknya apa yang mereka dapatkan); ghibthatan lahum (kesukariaanlah bagi mereka); khairun lahum wa karaamah (kebaikan serta kemuliaanlah bagi mereka); al-Jannah (surga); syajaratun fil jannah (sebuah pohon di surga). Semua pendapat ini dimungkinkan maknanya dalam pengertian hadits diatas.

INTISARI DAN HUKUM-HUKUM TERKAIT 
  1. Hadits tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan para Shahabat radhiallaahu 'anhum yang telah masuk Islam pada permulaan diutusnya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam karena karakteristik tentang ghuraba' tersebut sangat pas buat mereka. Keterasingan (ghurbah) yang mereka alami adalah bersifat maknawi dimana kondisi mereka menyelisihi kondisi yang sudah berlaku di tengah kaum mereka yang telah terwabahi oleh kesyirikan dan kesesatan.
  2. Berpegang teguh kepada Dienullah, beristiqamah dalam menjalankannya serta mengambil suri teladan Nabi kita, Muhammad Shallallâhu 'alaihi wasallam adalah merupakan sifat seorang Mukmin yang haq yang mengharapkan pahala sebagaimana yang diraih oleh kaum ghuraba' tersebut meskipun (dalam menggapai hal tersebut) kebanyakan orang yang menentangnya. Yang menjadi tolok ukur adalah berpegang teguh kepada al-Haq, bukan kondisi yang berlaku dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Allah Ta'ala berfirman: "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya..." (Q.S. 6:116). 
  3. Besarnya pahala yang akan diraih oleh kaum ghuraba' serta tingginya kedudukan mereka. Yang dimaksud adalah kaum ghuraba' terhadap agamanya alias mereka menjadi asing lantaran berpegang teguh kepada al-Haq dan beristiqamah terhadapnya, bukan mereka yang jauh dari negeri asalnya dan menjadi asing disana.
  4. Dalam beberapa riwayat, dinyatakan bahwa makna al-Ghuraba' adalah orang yang baik/lurus manakala kondisi manusia sudah rusak. Juga terdapat makna; mereka adalah orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa kelurusan jiwa semata tidak cukup akan tetapi harus ada upaya yang dilakukan secara bijak, lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memperbaiki kondisi manusia yang sudah rusak agar label ghuraba' yang dipuji dalam hadits diatas dapat ditempelkan kepada seorang Mukmin. 

Wassalam...!!


KAYU BAKAR API NERAKA - Kaum wanita adalah yang paling banyak, kenapa?

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Mukaddimah
Islam adalah agama yang universal dan sangat memperhatikan permasalahan yang berkaitan dengan wanita secara transparan dan proporsional. Ia menempatkan wanita dalam kedudukan yang layak dan bermartabat dimana sebelumnya di masa Jahiliyyah, dianggap sebagai "harta pusaka" yang diwariskan dan dipergilirkan; dia dapat diwariskan kepada anak. Disamping itu, dia juga dianggap sebagai noda yang dapat mencemarkan keluarga bila terlahirkan ke dunia sehingga harus dienyahkan dari muka bumi sebelum sempat menghirup udara kehidupan dengan cara menanamnya hidup-hidup.

Kedudukannya yang semacam inilah kemudian diangkat dan dihormati setinggi-tingginya oleh Islam, diantaranya; dia dijadikan orang yang paling pertama harus dipersembahkan bakti kepadanya ketika menjadi seorang ibu, adanya satu surat dalam al-Qur'an yang dinamakan dengan kaumnya (an-Nisa'), menjanjikan bagi orangtua yang berhasil mendidiknya sebagai jalan masuk surga, dan banyak lagi yang lain.

Namun begitu, Islam juga menyebutkan bahwa kaum wanita adalah orang-orang yang kurang akal dan diennya, banyak mengeluh/permintaan serta suka memungkiri kebaikan suami.

Berkaitan dengan yang terakhir ini, sudah bukan merupakan rahasia lagi bahwa di abad kontemporer ini banyak sekali isteri-isteri -yang barangkali karena memiliki jasa dan andil dalam pemenuhan anggaran belanja rumah tangganya- merasa diatas angin dan tidak sedikit yang semena-mena terhadap suami. Hal ini terjadi, lebih dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap agama yang merupakan sesuatu yang esensial bagi seorang calon suami sebelum berubah menjadi suami melalui aqad yang sah. Sang suami hendaknya dalam memilih calon isteri lebih memprioritaskan sisi keshalihahannya.

Karena kurangnya pemahaman agama, sang isteri tidak mengetahui bahwa sebenarnya agama mewajibkannya untuk patuh dan taat kepada suami bahkan kerelaan suami terhadapnya ibarat prasyarat masuk ke surga –disamping syarat-syarat yang lain yang berkaitan dengan syarat diterimanya amal manusia secara umum- sebagaimana dalam makna hadits yang menyatakan bahwa siapa saja isteri yang meninggal dunia sementara suaminya rela terhadapnya maka dia akan masuk surga.

Dari kurangnya pemahaman agama tersebut kemudian berdampak kepada banyak kaum wanita yang bekerja di luar rumah dan berbaur dengan kaum lelaki dengan anggapan bahwa mereka memiliki hak yang sama dengan kaum pria dalam segala bidang tanpa terkecuali, sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh kaum feminis, termasuk dalam urusan rumah tangga. Lapangan kerja yang disesaki oleh tenaga wanita mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran di kalangan kaum pria, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga namun tidak memiliki skil yang cukup untuk bekerja sehingga mendorong sang isteri untuk keluar rumah, terkadang menggantikan posisi suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tentunya hal ini memiliki implikasi negatif, belum lagi dari sisi syar'inya, terhadap watak sang isteri. Dia seakan merasa telah berjasa dan memiliki andil dalam menghidupi keluarganya sedangkan sang suami hanya seorang penganggur. Atau dalam kondisi yang lain, dia memiliki pekerjaan dan gaji yang jauh lebih tinggi dari sang suami. Hal ini, kemudian dijadikan alasan yang kuat untuk memberontak, menyanggah, meremehkan bahkan memperbudak sang suami. Suami yang, misalnya, memiliki gaji kecil terkadang nafkah yang diberikannya kepada keluarga, disambut oleh isterinya dengan rasa ketidakpuasan dan kurang berterimakasih. Apalagi, bila kebetulan sang isteri juga bekerja dan gajinya lebih besar dibanding suami, tentu akan lebih parah lagi sikapnya terhadap suaminya yang seorang penganggur atau bergaji kecil. Dalam pada itu, hanya wanita-wanita shalihah yang memahami agama mereka dengan baik dan tahu bagaimana bersikap kepada suami-lah yang terselamatkan dari kondisi seperti itu.

Mengingat betapa urgennya pembahasan tentang hal ini dari sisi agama dan perlunya kaum wanita mengetahuinya, khususnya tentang ancaman terhadap wanita yang melakukan hal tersebut alias banyak mengeluh/permintaan dan suka memungkiri kebaikan suami, maka kami berupaya menuangkannya dalam bagian pembahasan hadits kali ini-disamping pembahasan tentang hal yang lain- dengan harapan, kiranya ada dari sekian banyak kaum wanita, yang menyempatkan diri membaca tulisan ini. Kami mengambil materi pembahasan hadits ini dari sebuah kajian hadits berbahasa Arab oleh seorang Syaik dan kami anggap laik untuk diturunkan.

Kami berharap bagi pembaca yang kebetulan menemukan kesalahan, khususnya dari sisi materi dan bahasa (terjemahan), agar sudi kiranya memberikan masukan yang positif kepada kami sehingga pada pembahasan hadits selanjutnya dapat dihindarkan. Wallaahu a'lam.

Naskah Hadits
Dari Jabir bin 'Abdullah –radhiallaahu 'anhuma- dia berkata: "Aku melaksanakan shalat pada hari 'Ied bersama Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam ; beliau memulai dengan shalat dulu sebelum khuthbah, tanpa azan dan iqamah, kemudian berdiri sambil merangkul Bilal. Beliau memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah, mengajak berbuat ta'at kepadaNya, mewasiati manusia dan mengingatkan mereka, kemudian beliau berlalu (setelah berbicara panjang lebar-red) hingga mendatangi (menyentuh permasalahan-red) kaum wanita lantas mewasiati dan mengingatkan mereka, sembari bersabda: ' bersedekahlah! Karena sesungguhnya kebanyakan kalian adalah (menjadi) kayu api neraka Jahannam'. Lalu seorang wanita yang duduk ditengah-tengah mereka berkata: kenapa demikian wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: 'karena kalian banyak keluhkesah/permintaannya dan memungkiri (kebaikan yang diberikan oleh) suami'.
Jabir berkata: "lalu mereka bersedekah dengan perhiasan-perhiasan mereka dan melempar anting-anting dan cincin-cincin mereka kearah pakaian bilal". (H.R.Muttafaqun 'alaih).

Sekilas tentang periwayat hadits
Dia adalah seorang shahabat yang agung, Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram al-Anshary. Dia dan ayahnya mendampingi Rasulullah sebagai shahabat. Bersama ayahnya menyaksikan "Bai'atul 'Aqabah al-Akhirah". Ayahnya termasuk salah seorang "Nuqaba' " (pemimpin suku) yang ikut dalam bai'at tersebut. Dia ikut serta dalam banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Dia berkata:"Aku ikut serta berperang bersama Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sebanyak 19 kali peperangan". Dia adalah salah seorang dari "al-Muktsirûn li riwâyatil hadits" (kelompok shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits) dari Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Dia memiliki halaqah (kelompok pengajian) di al- Masjid an-Nabawy. Halaqah ini banyak dihadiri oleh orang-orang yang ingin menggali ilmu darinya. Dia juga termasuk orang yang dipanjangkan umurnya oleh Allah dan merupakan salah seorang shahabat yang paling belakangan meninggal di Madinah. Dia wafat disana pada tahun 78 H dalam usia 94 tahun.

Faedah-Faedah Hadits Dan Hukum-Hukum Terkait
A.    Hadits yang mulia diatas menjelaskan beberapa hukum yang terkait dengan shalat 'Ied, diantaranya:
o    Hadits tersebut menyatakan bahwa dalam shalat 'Ied tidak ada azan dan iqamah.
o    Khuthbah 'Ied hendaknya mencakup ajakan agar bertaqwa kepada Allah Ta'âla sebab ia merupakan kolektor semua kebaikan, demikian pula ajakan agar berbuat ta'at kepada-Nya dan saling mengingatkan dalam hal itu.
o    Khuthbah dilakukan setelah shalat 'Ied bukan sebelumnya sepertihalnya pada shalat Jum'at. Masing-masing dari keduanya memiliki dua khuthbah * akan tetapi pada shalat Jum'at dilakukan sebelum shalat sedangkan pada 'Ied dilakukan sesudah shalat. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan para Khalifah-nya ar-Rasyidun. * terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah khuthbah shalat 'Ied; ada ulama yang mengatakan sekali saja dan ada yang mengatakan dua kali. Ibnu Qayyim al-Jauziah nampaknya menguatkan pendapat kedua, yakni dua kali.
o    Shalat dalam dua 'Ied hukumnya adalah fardhu kifayah; untuk itu seorang Muslim harus berupaya secara optimal dalam melakuksanakannya, menghadiri serta mendengarkan khuthbahnya agar mendapatkan pahala dan mendapatkan manfaat dari wejangan dan at-Tadzkir (peringatan) yang disampaikan oleh Imam/khathib.

B.    Islam sangat memperhatikan eksistensi kaum wanita dan menempatkan mereka kepada kedudukan yang agung dan tinggi; spesialisasi serta karakteristik mereka dalam beberapa hukum terlihat dalam hadits diatas, diantaranya:
o    Bahwa Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam mengkhususkan bagian khuthbah tersendiri buat mereka dalam khuthbah 'Ied, setelah mewasiati dan mengingatkan kaum lelaki. Untuk itu, hendaknya seorang Imam/khathib pada 'Ied mengkhususkan khuthbahnya untuk mereka dan membicarakan problematika mereka. Khuthbah khusus ini diberikan bila mereka tidak mendengarkan khuthbah yang bersifat umum akan tetapi bila mereka mendengarkannya maka hendaknya dia menjadikan sebagian dari khuthbah tersebut, khusus berkaitan dengan perihal kaum wanita.
o    Bahwa seorang wanita diharamkan berbaur dengan kaum lelaki atau berjejal dengan mereka baik hal itu dilakukan di masjid-masjid ataupun di tempat lainnya. Akan tetapi semestinya, kaum wanita berada di tempat-tempat yang sudah dikhususkan untuk mereka. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari hal-hal yang menyebabkan timbulnya fitnah atau menjadi sarana dalam melakukan hal-hal yang diharamkan. Tidak berbaurnya wanita dengan kaum lelaki sudah merupakan kaidah umum yang wajib difahami oleh seorang wanita Muslimah dan wali-nya karena banyak sekali faedah-faedah yang didapat dari hal tersebut.
o    Mendapatkan 'ilmu merupakan hak semua orang; laki-laki dan wanita, untuk itu hendaknya seorang wanita berupaya secara optimal dalam menuntut ilmu yang dengannya dia memahami agamanya. Diantara sarana itu adalah: gairah serta semangatnya dalam mendengarkan wejangan-wejangan, juga, bertanya tentang hal-hal yang sulit baginya, sebagaimana tampak dalam hadits diatas.
o    Secara global kaum wanita memiliki sifat-sifat, diantaranya: banyak keluhan/permintaan dan memungkiri kebaikan suami alias terhadap nafkah yang telah diberikan olehnya. Sifat-sifat ini merupakan sifat yang tercela yang dapat menggiringnya ke neraka. Oleh karena itu, seorang wanita Muslimah harus menghindari hal itu dan berupaya keras untuk menjauhinya.
o    Ciri khas seorang wanita Muslimah adalah bersegera dalam berbuat kebajikan dan memenuhi panggilan iman. Hendaklah dia menambah aset kebajikannya sebanyak yang mampu dilakukan.
o    Kepemilikan terhadap harta merupakan hak laki-laki dan wanita, masing-masing memiliki harta secara sendiri-sendiri dan kewenangan dalam memberdayakannya; oleh karena itulah, isteri-isteri para shahabat bersegera dalam menginfaqkan harta-harta mereka tanpa meminta izin terlebih dahulu dari suami-suami mereka. Seorang wanita berhak memberdayakan hartanya dan menginfaqkannya meskipun tidak mendapat izin dari sang suami. Dalam hal ini, Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam telah menyetujui tindakan isteri-isteri para shahabat radhiallaahu 'anhunna.

C.    Khathib dan Penceramah memiliki tanggung jawab yang besar



Hal ini disebabkan mereka adalah bertindak sebagai orang yang menyampaikan permasalahan halal dan haram dari Allah Ta'ala. Dari sini, seorang khathib hendaknya melakukan tanggung jawab tersebut sebaik-baiknya; menceramahi manusia dengan apa yang mereka ketahui, mengajarkan mereka hal-hal yang bersifat agamis dan duniawi yang tidak mereka ketahui, mensugesti mereka untuk berbuat kebajikan, memperingatkan mereka dari berbuat kejahatan serta menjelaskan kepada mereka hal-hal yang dapat mendekatkan diri mereka kepada surga dan menyelamatkan mereka dari neraka. Demikian pula, hendaknya mereka menghindari berbicara tentang hal-hal yang tidak bersinggungan langsung dengan kepentingan umum kaum muslimin dan hal yang tidak bermanfaat bagi agama mereka.


D.    Sedekah memiliki faedah yang besar dan buah yang agung di dunia dan akhirat

Diantaranya; bahwa ia menjaga dari keterjerumusan kedalam api neraka, dan ini diperkuat oleh sabda beliau yang lain: "takutlah kepada api neraka meskipun (bersedekah) dengan sebelah dari buah tamar/kurma".


E.  Islam selalu berupaya agar seorang Muslim dalam berinteraksi dengan orang lain menggunakan manhaj yang transfaran dan proporsional meskipun terhadap orang yang paling dekat hubungannya dengannya

Dengan demikian, dia mesti meletakkan sesuatu sesuai dengan proporsinya; yang memiliki keutamaan ditempatkan sesuai dengan keutamaannya, yang memiliki hak diberikan haknya yang sepatutnya, tidak mengurangi hak manusia, menjauhi setiap hal yang dapat menyakiti mereka serta menghindari perkataan yang kotor dan mungkir terhadap jasa yang telah diberikan kepadanya.



F.     Seorang penuntut ilmu harus haus akan ilmu, banyak bertanya kepada gurunya tentang kesulitan yang dihadapinya

Namun, hendaknya pertanyaan yang disampaikan dilakukan dengan penuh kesopanan dan tatakrama agar dia mendapatkan jawaban sesuai dengan apa yang diinginkannya dari gurunya tersebut. (Rabu, 27-2-2002 M=15-12-1422 H)

Cari Artikel