ARTI DAN MAKNA KATA SHOLIHIN DALAM AL-QUR'AN

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


ARTI DAN MAKNA KATA SHALIHIN DALAM AL-QUR'AN

Memahami arti dan Makna Kata-kata Sholihin atau Shalihin dalam Al-Quran


A. Pengertian Sholihin


Kata الصَّالِحِينَ adalah bentuk jamak dari kata Assha_lih, yaitu siapa / sesuatu yang memenuhi nilai-nilai, tanpa kekurangan, sungguhnya wujudnya melahirkan manfaat dan kebaikan sempurna sebagaimana dikehendaki Allah swt. Seorang yang saleh adalah siapa yang potensi positifnya menjadikan ia mampu melaksanakan tugas kekhalifahan dengan benar, sehingga melahirkan manfaat dan kebajikan buat diri dan lingkungan. Kebenaran itu lahir dari keyakinan yang benar – sebagaimana yang dijelaskan oleh para rasul tentang Allah, alam, dan lingkungannya. Karena itu, seorang yang shaleh, pastilah melahirkan amal-amal positif yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

Kesalehan bertingkat-tingkat, puncaknya bagi manusia adalah anugerah kenabian dan kerasulan. Permohonan nabi Ibrahim AS. Ini antara lain agar Allah memasukkan beliau dalam kelompok nabi dan rasul sebelum beliau yaitu nabi Nuh, Hud, dan Shaleh AS.

                    

Artinya : Dan kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya'qub, dan kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan kami berikan kepadanya balasannya di dunia*; dan Sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.


Di dalam tafsir Al-Misbah jilid 6 di jelaskan , bahwa As-sholihin maknanya berdasarkan firman allah SWT dalam surat Hud ayat 117 :


ومَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

Artinya : Dan tuhanmu tidak akan membinasakan negeri – negeri secara zalim, selama penduduk nya orang - orang yang berbuat kebaikan . (surat Hut 117)


Dan juga di dalam tafsir As-Sa`di di jelaskan ,yaitu dalam surat Ali-Imran ayat 39 :


فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ

وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ


Artinya: kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab .’’allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) yahya.yang membenarkan sebuah kalimat[firman] dari allah,panutan ,berkemampuan menahan diri [dari hawa nafsu] dan seorang nabi di antara orang-orang saleh. (QS.Ali –imran :39 )



Dan juga firman Allah SWT yang berkenaan dengan orang sholeh dalam surat A-baqoroh ayat 130 :


                     

Artinya : Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh kami Telah memilihnya* di dunia dan Sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.


* di antaranya menjadi; Imam, rasul, banyak keturunannya yang menjadi nabi, diberi gelar khalifatullah.


Abu Ja`faar mengatakan: Allah swt berfirman dalam surat Al-baqoroh ayat 130

    

Artinya ‘Dan sesungguhnya Ibrahim termasuk orang-orang yang shaleh kelak di akhirat !

Orang shaleh dari anak cucu Adam adalah orang yang menjalankan hak-hak Allah. Allah juga telah memberitahukan tentang Ibrahim, kekasihnya, bahwa di dunia ia menjadi orang pilihan dan di akhirat menjadi pemimpin, termasuk dari wali Allah yang mematuhi segala janji-Nya.


               

Artinya : Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.


Menjadi orang baik-baik yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh. Sesudah melakukannya, bertaubatlah, “Dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang shaleh”, yakni taat melakukan kebaikan.

            •                 

Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin*, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

* ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tercantum dalam surat al-baqoroh ayat 130.

Maksudya, setiap orang yang menaati Allah dan Rasulnya sesuai dengan kondisinya dan kadar kewajiban atasnya baik laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa,” mereka itu akan bersama-sama engan orang –orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah” yaitu kenikmatan agung yang menuntut kesempurnaan, kemenangan dan kebahagiaan, “yaitu :Nabi-nabi” orang-orang yang dimuliakan oleh Allah dengan wahyunya dan mengkhususkan mereka dalam kemuliaan itu dengan cara mengutus mereka kepada mahluknya dan menyeru mereka kapada Allah, “para shiddiqin” mereka itu adalah orang-orang yang kepercayaan mereka sempurna terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul, mereka mengetahui kebenaran dan mempercayainya dengan keyakinan diri mereka serta merealisasikannya dengan perkataan, perbuatan, keadaan dan bedakwah kepada Allah, “ dan orang-orang yang mati shahid” yaitu orang-orang yang berperang di jalan Allah demi meninggikan agama Allah lalu mereka terbunuh,” dan orang-orang shaleh” yaitu oaring-orang yang baik lahir dan batin mereka, lalu baik pula perbuatan mereka, maka setiap orang yang mentaati Allah swt niscaya akan bersama orang-orang tersebut dan menjadi teman mereka,” dan mereka itulah teman yang sebaik-bainya” yakni dengan berkumpul bersama mereka dalam surga yang penuh dengan kenikmatan, kesenangan dekat dengan mereka pada sisi Rabb semesta alam.


70. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup Mengetahuinya.


 وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh kami Telah memilihnya*di dunia dan Sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.


*di antaranya menjadi; Imam, rasul, banyak keturunannya yang menjadi nabi, diberi gelar khalifatullah.

Tidak ada yang benci, “kepada agama Ibrahim” setelah Dia mengetahui keutamaannya, “melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri” maksudnya membodohi dan menghinakannya, ridha dengan kehinaannya dan menjualnya dengan transaksi yang merugikan, sebagaimana tidak lebih lurus dan lebih sempurna dari orang yang menyukai agama Ibrahim, kemudian Allah mengabarkan tentang kondisinya di dunia maupun di akhirat seraya berfirman, “dan sungguh kami telah memilihnya di dunia” maksudnya kami

mengutamakannya dan membimbingnya kepada amalan-amalan yang membuatnya termasuk orang-orang yang terpilih dan istimewa, “dan sesungguhnya di akhirat Dia benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh” orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi.


B. Orang-Orang Shaleh Dalam Al-Qur’an


Allah SWT sangat banyak sekali menyebutkan tentang orang-orang yang sholeh dalam Al-Qur`anul karim . diantaranya dalam surat Al-mukminun ayat 1-9 :


                   •               •                       


1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,

3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,

5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki*; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.


*Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.


7. Barangsiapa mencari yang di balik itu* Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.


*Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya.


8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

9. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.





            •        

Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin*, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

*ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

                 

Artinya : Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?".


[*menjadi orang baik-baik yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.

                        

Artinya : Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau Telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan Telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah Aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah Aku dengan orang-orang yang saleh.

.

*yaitu dengan memberikan anak cucu yang baik, kenabian yang terus menerus pada keturunannya, dan puji-pujian yang baik.

      

Artinya : Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.


     

Artinya : Dan kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.


   •           •        

Artinya : Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang Telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan Aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang saleh?"


      

 Lalu tuhannya memilih dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.


C. Bentuk-bentuk Sighat Kata As-shalihin Dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an kata Ash-Shalihin mempunyai banyak bentuk shigat, diantaranya kata shalih dipakai dalam bentuk sighat fi’il madhi mufrod terulang sebanyak 9 kali, dan dalam bntuk jamak terulang sebanyak 6 kali. Kemudian dalam bentuk sighat fi’il mudhari’ mufrad terulang sebanyak 4 kali, dan dalam bentuk jamak terulang 4 kali. Kemudian sighat fi’il amar terulang sebanyak 5 kali. Al-Qur’an juga memakai kata shalih dalam bentuk masdar terulang sebanyak 4 kali, kemudian kata shalih terkadang dalam bentuk isim fa’il mufrod terulang sebanyak 31 kali dalam surat yang berbeda, dan juga dalam bentuk masdar dari fi’il ashlaha terulang sebanyak 4 kali, kemudian dalam bentuk isim fa’il dari Ashlaha mufrad terulang sebanyak 3kali, dan dalam bentuk jamak terulang sebanyak 5 kali.


Berikut adalah tabel nama surat dan jumlah ayat yang mengandung kata Ashalih :


1. Sighat fi’il madhi mufrad


No. Nama Surat Ayat Jumlah kata

1 Al-Ra’du 22 1

2 Al-baqarah 182 1

3 Al-Maidah 39 1

4 Al-An’am 45/48 2

5 Al-A’raf 35 1

6 Al-Syura 40 1

7 Muhammad 2 1

8 Al-Nisa’ 16 1

jumlah 9


2. Fi’il madhi Jama’


No Surat Ayat jumlah

1 Al-baqarah 146 1

2 An-Nisa 146 1

3 Al-Imran 89 1

4 An-Nhal 119 1

5 An-Nur 5 1

6 Al-Anbiyah 90 1



3. Fi’il mudhori’ mufrad


1 Yunus 81 1

2 Muhammad 5 1

3 Al-Ahzab 71 1

4 An-Nisa 128 1


4. Fi’il mudhori’ bentuk jamak


1 As-Syu’arah 152 1

2 Al-Naml 48 1

3 An-Nisa 129 1

4 Al-Baqarah 224 1


5. Fi’il Amar


1 Al-A’raf 142 1

2 Al-Ahqaf 15 1

3 Al-Anfal 1 1

4 Al-Hujarat 9/10 2


6. Bentuk Masdar


1 An-Nisa 128 1

2 At-Tahrim 4 1

3 At-Taubah 120 1

4 Al-Hud 46 1


7. Isim Fa’il bentuk mufrad


1 Al-Baqarah 62 1

2 Al-Maidah 69 1

3 Al-A’raf 186/190 2

4 At-Taubah 102 1

5 An-Nahl 97 1

6 Al-Mukmin 40 1

7 Al-Kahf 82, 88, 110 3

8 Maryam 60 1


8. Mashdar dari fi’il ashlaha


1 Al-Baqarah 220 1

2 An-Nisa 114 1

3 Al-Baqarah 228 1

4 An-Nisa 35 1


HUKUM BERCANDA DAN ADABNYA DALAM ISLAM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia----Hidup ini bisa indah dan bisa juga suram, hidup yang indah diwarnai dengan suasana yang menyenangkan, ceria dan penuh kebahagiaan, ada tawa dan canda dalam kebahagiaan itu. Tetapi akan terasa sepi hidup ini jika tidak pernah ada canda tawa dengan orang-orang yang ada disekitar kita. Bercanda yang kerap kali menjadi obat yang ampuh untuk menyegarkan suasana hati tatkala kita akan merasa jenuh dengan berbagai kesibukan dan tanggung jawab di dalam kehidupan.

HUKUM BERCANDA DAN ADABNYA DALAM ISLAM

Islam tidak melarang kita bercanda (al-mizaah). "Bercanda diperbolehkan sebagaimana dalam hal ini dilakukan oleh Nabi SAW," kata Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam adab Islam menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah. Walau demikian, ada tata krama atau adab yang harus diperhatikan ketika sedang bercanda.

Salah satu di antara adab itu merupakan niat yang benar sebaiknya seseorang bercanda dengan niat untuk menghilangkan rasa kebosanan dan lesu serta untuk menyegarkan jiwa dengan sesuatu yang dibolehkan sehingga ia akan memperoleh semangat baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. "Bahwa sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niatnya. Maka dari itu, sebaiknya setiap muslim menghadirkan niat yang benar dalam setiap ucapan dan perbuatannya," kata Sekh Abbdul Aziz.

Bercanda tidak boleh berlebihan atau melampaui batas. Sikap yang seperti ini hanya akan menjatuhkan martabat. Orang lain menjadi tidak peduli, tidak hormat, dan menggunjingkan kita. Berlebihan ketika sedang bercanda bisa membuat orang lain sakit hati karena tersinggung oleh kata-kata yang kita ucapkan.

Bercanda harus 'pilih-pilih orang, Artinya, ada orang-orang tertentu yang tergolong asik untuk diajak bercanda. Contohnya, orang yang selalu serius dalam menanggapi setiap ucapan atau perbuatan. Bercanda dengan orang seperti ini dapat berakibat buruk. Oleh Karena itu, tidak sepatutnya bercanda kecuali dengan orang yang dapat menerima canda kita.

Hal lainnya juga yang harus diperhatikan ketika bercanda yaitu tempat dan kondisi. Dalam hal ini, tidak sepatutnya bercanda pada tempat atau kondisi yang serius, contohnya pada majelis ilmu, majelsi penguasa, dan majelis hakim ketika memberikan kesaksian, pada saat talak, dan sebagainya.

Selanjutnya hindari kata-kata yang kotor dan tertawa yang berlebihan sampai terpingkal-pingkal. Banyak tertawa bisa mengeraskan hati dan mematikannya. Sedangkan, tertawa terpingkal-pingkal selain bisa mematikan hati dapat menghilangkan kewibawaan dan ketenangan. Lalu, bercanda dengan orang-orang yang membutuhkan, misalnya anak-anak. Nabi Muhammad SAW pun cukup sering bercanda dengan anak-anak.


Bercanda dibagi menjadi dua yaitu:

Pertama, bercanda dengan ringan. Bercanda dengan ringan atau biasanya tersenyum malah sangat diperbolehkan, dalam hadis Rasulullah SAW bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." Selain itu, senyum adalah salah satu media untuk membahagiakan hati orang lain yang bisa mendatangkan pahala dari Allah SWT.

Tetapi ada perbedaan antara tertawa dengan senyum. Senyum termasuk ke dalam kategori tertawa yang ringan, tidak membuat orang yang melakukannya tidak dengan mengeluarkan suara yang keras dan kencang. Tertawa ringan ini sangat diperbolehkan oleh syariat. Ulama yang berpendapat bahwa senyum merupakan sebuah perkara yang sunnah.

Adapun dalam bercanda yang kedua, yaitu tertawa dengan terbahak-bahak. Tertawa merupakan hal yang sering kita lakukan yang bisa jadi kita tidak sadar jika kita sudah tertawa sehari lima kali. Tertawa membuang-buang waktu. Oleh karena itu, tertawa yang berlebihan dilarang dan diharamkan. Ingat, kita boleh tertawa. Tetapi tidak boleh berlebihan. Tertawa bisa mematikan hati, dan segala hal yang bisa mematikan hati termasuk dalam perkara yang terlarang.

Karena hati mati, kita jadi sulit untuk menerima nasehat yang berupa kebenaran. Pemilik hati yang mati itu akan jauh dari Allah SWT. Rasulullah SAW senantiasa menyampaikan bahwa jika bercanda itu harus secara proporsional. Namun beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak atau bercanda yang terlalu berlebihan.


Perkara yang di haramkan dalam bercanda

Seperti disampaikan di atas bahwa ada hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam bercanda. Dalam bukunya, Syeikh Abdul Aziz mengingatkan kepada kita agar menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT pada saat bercanda. Salah satunya, bercanda dengan menakut-nakuti, seperti menggunakan topeng yang menakutkan, berteriak dalam kegelapan, menyembunyikan barangnya, dan sebagainya. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh," (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Diharamkan pula berdusta ketika bercanda. Bahwa sesungguhnya dusta itu tidak diperbolehkan, bagaimanapun keadaannya. Perhatikan Nabi SAW bersabda: "Bahwa sesungguhnya aku bercanda, tetapi aku tidak mengatakan kecuali yang benar.

Allah SWT mengharamkan untuk bercanda dengan cara melecehkan orang tertentu. Contohnya, melecehkan penduduk daerah tertentu, dan menyebutkan aib mereka dengan tujuan agar membuat orang lain tertawa.

Satu hal lagi, Allah SWT melarang kita untuk bercanda dengan mencela, menuduh, atau menyakiti sahabatnya dengan perbuatan yang keji. Misalnya, seseorang berkata kepada temannya, "Hal anak anjing!" dan lain sebagainya.

Sayangnya, selama ini banyak diantara kita yang belum memahami tata krama dalam bercanda. Misalnya paling jelas yaitu seperti pada program-program lucu atau lawak di televisi yang kerap kebablasan karena kurang memperhatikan adab dalam bercanda. Karena itu, mulai sekarang perhatikan tata krama yang digariskan oleh Islam dalam bercanda. Insya Allah, ke depannya akan menjadi yang lebih baik lagi. 

Demikian tentang hukum dan adab bercanda dalam Islam, semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi kita semua, semoga Allah SWT selalu meridoi setiap amal perbuatan kita yang berusaha beradab sehari-hari...Amiin.   

Tidak perlu bersedih dengan apa yang tidak kita miliki

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

 Tidak perlu bersedih dengan apa yang tidak kita miliki


EMBUN PAGI

Rabu, 20 Desembar 2023

7 Jumadil Akhir 1445 H

~~~~~~~


🍏

Tidak perlu bersedih dengan apa yang tidak kita miliki, mulailah bersyukur dengan apa yang di hadapan kita


Dengan bersyukur niscaya nikmat akan ditambah oleh-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ 

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah:152)


🍎

"Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (QS.Ibrahim:7)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidak 


Tidak perlu bersedih dengan apa yang tidak kita miliki, mulailah bersyukur dengan apa yang di hadapan kita


Dengan bersyukur niscaya nikmat akan ditambah oleh-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah:152)


🍎

"Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (QS.Ibrahim:7)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278)


bimbinganislam.


▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️

📡 Republished by :


╔═📚💎══════════╗

🌟MEDIA DAKWAH SUNNAH🌟

╚══════════✒💎═╝


📌 "Berpegang Teguh Dengan Al Quran Dan Sunnah."


♻️ Silahkan dishare

ADAB DAN RUKUN-RUKUN MEMBACA AL-QUR'AN

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI-Pendidikan Agama Islam---- Al Qur'an merupakan kitab suci umat islam yang diturunkan kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW. Al Qur'an itu diturunkan untuk dibaca seluruh umat di dunia, Membaca Al Quran banyak memberikan manfaat karena di dalamnya terdapat petunjuk hidup di dunia. Namun beberapa orang suka merasa malas membacanya. Padahal keutamaan membaca Al Quran ini luar biasa besar.

Allah Ta’ala berfirman,


كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).


Banyak sudah bukti nyata yang tejadi karena keajaiban membaca Al Quran. Mulai dari lebih berkah kehidupan hingga dimudahkan segala urusan dunia dan menuju akhirat. Karena itu sangat peting bagi umat muslim memiliki waktu khusus setiap hari untuk senantiasa membaca Al Quran. 

Seorang muslim yang membaca Al Quran akan dibalas oleh Allah SWT berupa satu kebaikan. Dan dari satu kebaikan tersebut akan dilipat gkamukan menjadi 10 kebaikan. Kebaikan yang didapatkannya bisa menghapus kesalahan yang telah dilakukan. Semakin banyak membaca Al Quran maka pahala yang didapatkannya juga semakin besar.

Maksud dan tujuan utama adalah mengambil manfaat dari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Membaca Al-Qur’an merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an sendiri adalah sebuah amal shalih, namun kita tidak mengkhusukan hanya membaca Al-Qur’an dan berhenti di sana. Lebih dari itu, kita harus merenungi makna dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi no. 2915. Dinilai shahih oleh Al-Albani).


Karena begitu pentingnya manfaat membaca Al Qur'an, maka bacalah Al Qur'an dengan baik dan benar, termasuk juga cara dan adab ketika membacanya. Berikut inilah Adab membaca Al Qur'an yang baik benar;
  1. Sebaiknya berwudhu (dalam keadaan suci)
  2. Membersihkan mulut
  3. Berpakaian yang bersih
  4. Duduk ditempat yang bersih
  5. Niat membaca Al-Qur'an karena Allah Ta'ala
  6. Membaca dengan pelan, tartil dan tidak tergesa-gesa.
  7. Membaca dengan khusyu'
  8. Membaguskan suara saat membaca Alquran.
  9. Dimulai dengan Ta'awudz dan basmallah kecuali surat Bar'ah (At-Taubah) tanpa basmalah.
  10. Pada penutup bacaan sebaiknya membaca Shadaqallahul 'azhim.
  11. Disunnahkan sujud tilawah pada tiap akhir ayat sajdah. Doa sujud tilawah.


Membaca Al Qur'an juga perlu diperhatikan rukun-rukunnya, ada 3 (tiga) hal yang minimal harus dipenuhi dalam menjalankan rukun-rukun membaca Al Qur'an

Rukun membaca Alquran

1. Niat

Setiap ibadah yang kita lakukan sebagai umat muslim, memerlukan niat yang menjadi ruh serta penentu apakah ibadah itu murni sebagai penghambaan ataukah ada kepentingan tersendiri di baliknya.

Begitupun dalam membaca Alquran, kita harus memiliki niat. Niat tersebut adalah niat Lillahi Ta'ala, atau niat karena Allah.

Niat membaca Alquran karena untuk beribadah kepada Allah, maka dalam setiap bacaan Alquran yang kita lantunkan akan memperolah banyak keberkahan dan syafaat atau pertolongan.

2. Qira'at

Rukun membaca Alquran yang berikutnya adalah qira'at. Artinya bacaan Alquran itu harus sesuai dengan bacaan yang diajarkan oleh Nabi saw. Bacaan Alquran adalah sunah muttaba'ah.

Oleh karena itu, bacaan yang shahih mesti melingkupi tiga syarat, yaitu: sanadnya yang bersambung secara mutawatir, cocok dengan rasm (tulisan) mushaf, serta tidak menyalahi kaidah bahasa Arab fasih yang dipraktekkan di zaman nubuwwah ketika diturunkannya Alquran.

Bacaan yang salah akan merusak makna dari sebuah ayat, sehingga melahirkan tadabbur dan pedoman yang salah pula. Untuk menghindari hal tersebut, maka cara membaca Alquran wajib baik dan benar sehingga tidak merusak sisi mukjizatnya maupun makna dan tujuannya.

3. Tartil

Rukun ketiga dalam membaca Alquran yaitu tartil. Tartil berarti membaguskan bacaan sesuai huruf-hurufnya dan mengungkapkan penggalan ayat-ayat dalam arti yang sesungguhnya, sehingga tampak merdu jika didengarkan.

Membaca Alquran sendiri termasuk ibadah paling utama di antara ibadah-ibadah yang lain, sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nu'man ibn Basyir:

"Qoola rosulullahi shollallahu 'alaihi wasallam: afndolu ibaadati ummati qiroo 'atul quran"

Artinya:

"Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda, sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Alquran." (HR. al-Baihaqi).

Demikianlah mengenai adab dan rukun-rukun membaca Al Qur'an, Semoga bermanfaat. Terimakasih. Wassalam.

HUKUM MENGUCAPKAN SALAM KETIKA MENDENGAR NAMA NABI MUHAMMAD SAW DISEBUT

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI----Jika kita mendengar nama Nabi Muhammad, biasanya kita menjawabnya dengan memberikan salam, shallallahu alaihi wa sallam. Namu bagaimana hukumnya seseorang yang ketika mendengar nama Rasulullah lalu tidak memberikan salam?l

Salam dan sholawat kepada Nabi Muhammad

Harus kita pahami bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan para malaikatnya pun memberikan salam kepada manusia terbaik di muka bumi ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,: 
 







yang artinya,“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai, orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (Qs. Al-Ahzaab: 56).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di masa hidup maupun ketika beliau sudah meninggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi-Nya dan membersihkan beliau dari tindakan atau pikiran jahat orang-orang yang berinteraksi dengan beliau.

Shalawat Allah kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan pemberikan pujian-Nya. Dan yang dimaksud shalawat para malaikat adalah do’a dan istighfar. Sedangkan yang dimaksud shalawat dari ummat beliau adalah do’a dan mengagungkan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin Bab Shalawat Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Disunnahkan –sebagian ulama mewajibkannya– mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali menyebut atau disebut nama beliau, yaitu dengan ucapan: “shallallahu ‘alaihi wa sallam,” (al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam,” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal no. 1736, dengan sanad shahih).

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan bahwa disunnahkan bagi para penulis agar menulis shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh, tidak disingkat (seperti SAW, penyingkatan dalam bahasa Indonesia – pent) setiap kali menulis nama beliau.

Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat juga mengatakan dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa disukai apabila seseorang menulis nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bershalawatlah dengan lisan dan tulisan.

Bershalawat artinya:

Kalau dari Allah berarti memberi rahmat. Dari Malaikat berarti memintakan ampunan. Dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Sayyidina Muhammad.

Dan jika bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu, hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misal, dengan mengucapkan “shallallaahu ‘alaih” (semoga Allah melimpahkan shalawat untuk beliau), atau hanya mengucapkan :” ‘alaihis salaam” (semoga keselamatan dilimpahkan untuk beliau). Hal itu karena Allah SWT telah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya (shalawat dan salam). Jadi, ucapkan shalawat dan salam dengan sempurna.

Adapun bentuk shalawat dan salam yang paling ringkas ada 3, yaitu :
  1. Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
  2. ‘Alaihish shalaatu wassalaam
  3. Allaahumma shalli wasallim ‘alaih
Mengucapkan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh syariat pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah mu’akkadah. Seperti memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni:
  1. Ketika shalat di akhir tasyahud
  2. Di akhir Qunut
  3. Kemudian saat khutbah (Khutbah jumat, hari raya, dan Istsiqa’)
  4. Kemudian setelah menjawab adzan
  5. Ketika berdoa
  6. Ketika masuk dan keluar masjid
  7. Nabi Muhammad Saw juga menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jumat.

Beliau bersabda, yang artinya, “ Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jumat, barangsiapa bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Al Baihaqi (III/249)

Manfaat Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Kemudian Ibnul Qayyim rahimallah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi SAW, sedikitnya ada 40 manfaat.

Di antara manfaat itu adalah:

1) Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT 

2) Mendapatkan ganjaran 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk Nabi SAW
  
3) Diharapkan doa menjadi terkabul apabila didahului dengan shalawat 

4) Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW, yaitu jika ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan kepada Allah ta’ala agar memberikan wasilah (kedudukan tinggi) kepada beliau SAW pada hari kiamat. 

5) Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa

6) Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi SAW menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepada Beliau.

Tetapi tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau SAW kecuali berdasarkan dalil shahih dari Al Qur’an dan Assunnah.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi yang mulia ini, juga bagi keluarga beliau, para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat. Ketahuilah saudaraku, shalawat ummat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk dari sebuah do’a. Begitu juga dengan makna salam kita kepada sesama muslim. Karena do’a merupakan bagian dari ibadah, makan tidaklah ibadah itu akan mendatangkan sesuatu selain pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu apakah kita akan berlaku kikir dalam beribadah dengan menyingkat salam dan shalawat kepada kekasih Allah yang telah mewariskan ajaran Islam sebagai rahmat bagi alam semesta?.  

Wallahu A’lam bissawab.

DI MANA ALLAH ? (MEMAHAMI TAUHID)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI----Allah yang menciptakan kita mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, do'a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana Tuhan akan selalu sesat, dan tidak mengetahui bagaimana caranya beribadah yang benar. Sifat  atas atau tinggi yang dimiliki Allah atas makhluk-Nya tidak berbeda dengan sifat-sifat Allah yang lain sebagaimana diterangkan dalam Al Qur'an dan hadits shaheh, seperti 'mendengar', melihat, berbicara, turun dan lain-lain.

DI MANA ALLAH ? (MEMAHAMI TAUHID)

Aqidah para ulama salaf yang shaleh dan golongan yang selamat yaitu "Ahlussunnah wal jama'ah mempunyai keyakinan sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitabullah tanpa ta'wil (menggeser ma'na yang asal ke ma'na yang lain), ta'til (meniadakan ma'nanya sama sekali) dan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya). Hal ini berdasarkan firman Allah :


"Tiadak ada suatu apapun yang sama dengan Allah dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat." (Asysyura : 11)


Sifat-sifat Allah ini antara lain sifat atas atau tinggi tadi mengikuti dzat Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut juga wajib sebagaimana juga iman kepada dzat Allah. Imam Malik ketika ditanya tentang ma'na "istiwa" dalam firman Allah :


beliau menjawab : Istiwa itu sudah dimaklumi, yaitu berarti "Tinggi". Tetapi bentuknya bagaimana tidak diketahui, kita hanya wajib mengimaninya.

Perhatikanlah jawaban Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada istiwa itu wajib diketahui oleh setiap muslim. Tetapi bagaimana tingginya Allah dan hanya Allah saja yang mengetahui. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al Qu'an dan hadits - antara lain sifat ketinggian Allah yang mutlak dan Allah di atas langit - maka orang itu berarti telah mengingkari ayat Al qur'an dan hadits yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan, keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapapun. Usaha sekelompok ulama yang datang belakangan untuk mena'wilkan ayat-ayat Al qur'an yang berhubungan dengan sifat Allah, yang terpengaruh oleh sifat yang merusak aqidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari dzat-Nya. Mereka bertentangan dengan metode ulama salaf yang dinilai lebih selamat, lebih tahu dan lebih kuat argumentasinya.



ALLAH DI ATAS ARASY


Al Qur'an hadits shaheh dan naluri serta cara berfikir yang sehat akan mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.


1. Allah SWT berfirman :


"Allah yang maha pengasih itu "Istawa" di atas arasy" (Taha : 4).


Sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhari, para tabiin menafsirkan istawa dengan naik dan tinggi.



2. Allah berfirman :



"Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit? Dia akan menjungkir-balikan bumi bersama kamu." (Almulk : 16)


Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud yang di langit adalah Allah seperti dituturkan dalam kitab Tafsir Ibnul-Jauzi.



3. Firman Allah SWT :


Orang-orang takut kepada Tuhannya yang di atas mereka (Al-Nahl: 150)



4. Firman Allah tentang Nabi Isa As :


"Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya." (Annisa : 158).


Maksudnya Allah menaikan Nabi Isa ke langit.



5. Allah berfirman :


"Ialah Allah yang ada di langit-langit." (Alan'am : 3)


Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut : Para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka.


Adapun firman Allah :


"Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada." (Alhadid : 4)


Yang dimaksud adalah Allah itu selalu bersama kita, dimana Allah mendengar dan melihat kita, seperti keterangan dalam Ibnu Katsir dan Jalalain.


6. Rasulullah SAW Mi'raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu (Riwayat Bukhari dan Muslim).


7. Rasulullah SAW bersabda :

"Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal saya ini dipercaya oleh Allah yang ada di langit?" (Riwayat Bukhari dan Muslim).


8. Rasulullah SAW bersabda : "Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu." (Riwayat Turmudzi).


9. Rasulullah SAW pernah menanyai seorang wanita budak : "Dimana Allah?" Jawabnya : "Di langit!" Rasulullah bertanya lagi : "Siapa saya?" Dijawab lagi  : "Kamu Rasulullah." Lalu Rasul Allah bersabda : "Merdekakanlah dia karena dia seorang mukminah!"


10. Sabda Rasulullah SAW : "Arsy berada di atas, dan Allah berada di atas arsy. Allah mengetahui keadaan kamu."


11. Abu Bakar Shiddiq berkata : "Barang siapa menyembah Allah maka Allah berada di langit, ia hidup dan tidak mati." (Riwayat Imam Darimi dalam Alradd alal Jahmiyah).


12. Abdullah bin Mubarak pernah ditanya :  "Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?" Maka beliau menjawab : "Tuhan kita di atas langit, di atas arsy, berbeda dengan makhluk-Nya." Maksudnya dzat Allah berada di atas arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluknya, dan keadaannya di atas arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.


13. Imam Abu Hanafah menulis kitab kecil berjudul "Sesungguhnya Allah itu di atas arsy." Beliau menerangkan hal itu seperti dalam kitabnya "Al-Ilm wal-Muta'allim."


14. Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan "Subhana Rabiala'la (maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdoa ia juga mengangkat tangannya dan menadahkan ke langit.


15. Anak kecil ketika anda tanya di mana Allah, mereka akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit.


16. Otak yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah berada di semua tempat, niscaya Rasulullah pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di SEGALA TEMPAT berarti Allah juga berada ditempat-tempat yang najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan itu.


KESIMPULAN 

Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Al Qur'an dan hadits adalah wajib. Tidak boleh membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga kita hanya mau beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa mendengar dan melihatnya Allah tidak sama dengan mendengar dan melihat makhluk, maka ia juga harus percaya bahwa Allah itu tinggi di atas langit dengan cara dan sifat yang sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat tingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitab-Nya dan sabda-sabda Rasulullah SAW. Fitrah dan cara befikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.

INILAH 25 NASEHAT ISLAM PENTING YANG BERSUMBER DARI AL-QUR'AN DAN HADIST

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

25 Nasihat Islami yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Al Qur’an dan Hadits adalah dua pedoman utama manusia dalam menjalani hidup di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Ketika mengalami masalah dan hambatan, mnusia seringkali butuh nasihat islami untuk lebih mengingat Allah SWT agar kembali sejuk hati dan pikirannya. Salah satu caranya adalah dengan menyimak kata-kata nasihat islami yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Berikut ini adalah kata-kata nasihat islami yang sekiranya mampu menyejukkan hati dan pikiran.
  1. Dan tolong-menolonglah kalian dalam melaksanakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”. (Al-Mâidah : 2)
  2. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. — (QS.2:216), Al Quran
  3. Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. (HR. Tirmidzi)
  4. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. — (QS.2:245), Al Quran
  5. Takutlah kalian terhadap sikap kikir, karena sesungguhnya kikir itu telah membinasakan orang2 sebelum kalian.(HR Muslim)
  6. Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. (QS. Al-Tahrim: 8)
  7. Kejujuran adalah ketentraman, dan kebohongan adalah kebimbangan. (HR.Tirmidzi)
  8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. — (QS.2:277), Al Quran
  9. Tidak kecewa orang yang istikharah, tidak menyesal orang yang bermusyawarah & tidak akan melarat orang yang hemat.(HR.Thabrani)
  10. Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. — (HR. Ad-Dailami), Hadist
  11. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan.(HR.Muslim)
  12. “Barangsiapa yang mengucapkan : “Subhanallahil ‘Adhim wa bi-Hamdih”, ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma di surga” (HR. Turmudhi)
  13. Allah lebih mengetahui terhadap apa yang mereka lakukan sejak mereka diciptakan.(HR.Bukhari,Muslim)
  14. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. — (QS.2:212), Al Quran
  15. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (Thaha:2)
  16. Orangtua adalah pintu surga yang paling tengah, apabila kamu mau maka sia-siakanlah pintu tersebut atau peliharalah.(HR.Tirmidzi)
  17. Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. — (HR. Bukhari), Hadist
  18. Termasuk dari kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.(HR.Tirmidzi)
  19. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. — (QS.16:18), Al Quran
  20. Di antara akhlak seorang mukmin adalah baik dalam berbicara, tekun bila mendengarkan, berwajah ceria, dan menepati janji.(HR. Ad-Dailami)
  21. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
  22. Sungguh sangat unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)
  23. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.(HR. Muslim)
  24. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad) agar kalian diberikan rahmat.” (QS. Ali ‘Imran: 132)
  25. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Az Zumar:10)
Demikianlah 25 Nasihat Islami yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, semoga bermanfaat. terimakasih.

INILAH YANG HARUS DILAKUKAN SUAMI MENURUT RASULULLAH SAW. KETIKA ISTRI HAID

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Bermesraan antara suami istri menurut Islam merupakan muamalah. Berikut inilah keterangan-keterangan dari Rasulullah saw. tentang muamalah suami istri saat sang istri haid.

Dalam Shahing Bukhari juz I kitab al-Haid, banyak diveritakan sikap dan perilaku Nabi terhadap istri-istrinya saat mereka haid. Pada uatu ketika bertuturlah Aisyah, istri Nabi yang paling muda dinikahi:

     "Aku menyisir rambut Rasulullah saw. saat aku haid,"

Ketika Rasulullah saw. beri'tikaf di masjid, Aisyah juga senantiasa menyisir rapi rambut Rasulullah dari dalam kamarnya sendiri. Memang kamarnya Aisyah bersebelahan dengan masjid dan amat dekat sekali. Rasulullah tinggal mengeluarkan kepalanya, dan Aisyah nongol dari jendela, terus menyisir rambur Rasulullah saw.

     "Rasulullah saw. pernah bersandar di pangkuanku, kata Aisyah di lain waktu, sementara aku sedang haid dan beliau sambil membaca Al-Qur'an."


Kita lihat bagaimana Rasulullah saw. bermesraan dengan istrinya, padahal ia sedang haid. Islam memang mengajarkan kelembutan dan kehalusan sikap dalam berumah tangga. JIka istri sedang haid, sang suami tidak boleh menelantarkannya, apalagi menyianyakannya.

Kita simak terus akhlak Rasulullah terhadap istri-istrinya saat mereka haid.

Ummu Salamah, istri Rasulullah yang lain, mengisahkan pula bagaimana kelembutan suaminya terhadap dirinya saat ia sedang haid. Katanya: "Ketika aku tiduran bersama Nabi dalam satu kain, tiba-tiba aku haid. Aku pun pergi diam-diam mengambil baju haidku. Ketika itu Rasulullah bertanya: Apa dinda haid? Ya, jawabku. Tak kusangka beliau memanggilku, lalu aku tiduran lagi bersamanya dalam satu selimut."

Menurut Maemunah, isteri Rasulullah yang lain lagi, apabila Rasulullah saw. hendak bermesraan dengan istrinya saat ia haid, maka beliau memerintahkan istrinya agar memakai sarung. Oleh Rasulullah saw. dimaksudkan agar darah haidnya tidak tembus keluar, lalu menempel ke pakaian Rasulullah saw.. Juga mungkin agar tidak bersentuhan langsung tubuhnya dengan tubuh Rasulullah saw., hingga gairah berhubungan suami istri tetap aman terkendali.


Itulah sebagian kecil nikmatnya kita beragama Islam. Aturan membumi dan syari'atnya manusiawi. Tapi ingat, sesudah Allah swt. Banyak memberikan karunianya-Nya, kita tidak boleh mengingkariny-Nya. Tidak pula kita meremehkan syari'atnya. Misalnya, tentu Anda sudah tahu bahwa berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan adalah haram. Kaffaratnya juga berat. Siapa yang melakukannya ia berdosa.

Demikian pula berkenaan dengan larangan mengumpuli istri yang sedang haid. Suami dan istri sama-sama berdosa. Keduanya harus bertaubat dan mengeluarkan shadaqah. Meski tidak seberat berhubungan suami istri saat Ramadhan, namun dosa adalah dosa dan bisa membawa pelaku ke neraka Na'udzubillah.

Demikianlah tentang hubungan kemesraan suami istri dan apa yang harus dilakukan oleh seorang suami ketika istrinya sedang haid. semoga bermanfaat. terimakasih.

* * *

INILAH KEUTAMAAN DAN PAHALA MENANAM POHON HIJAU MENURUT ISLAM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Menanam sebuah pohon itu penting dan sangat bermanfaat, tidak hanya bagi diri sendiri, juga bagi orang banyak di sekitar kita. Selama ini ada sebagian orang menyangka bahwa program penghijauan bukanlah suatu amalan yang mendapatkan pahala di sisi Allah, sehingga ada diantara mereka yang bermalas² dalam mendukung program tersebut. Demi menepis persangkaan yang salah ini, kali ini kami akan mengulas PENTINGNYA PENGHIJAUAN menurut tuntunan Rasulullah SAW beserta dalil²nya.

Mungkin anda masih mengingat sebuah hadits yang masyhur dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya”. [HR. Muslim]

Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau telah meninggal- selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.

Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy]
Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah SWT sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.

Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya” . [HR. Muslim]

Penghijauan alias REBOISASI merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia.

Jika demikian banyak manfaat dari REBOISASI alias penghijuan, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits lainnya, seperti beliau pernah bersabda,
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad]

Rasulullah SAW tidak mungkin memerintahkan suatu perkara kepada umatnya dalam kondisi yang genting dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara itu amat penting, dan besar manfaatnya bagi seorang manusia. Semua ini menunjukkan tentang keutamaan “Go Green” alias program penghijauan.

Saking besarnya manfaat dari penghijauan lingkungan alias REBOISASI,tanah yang dahulu kering kerontang bisa berubah menjadi tanah subur.Sungai yang dahulu gersang, dengan reboisasi bisa berubah menjadi berair.

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah yang shohih,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا
“Tak akan tegak hari kiamat sampai tanah Arab menjadi tanah subur, dan sungai-sungai”. [HR. Ahmad]

Sebagian orang menyangka bahwa program penghijauan bukanlah suatu amalan yang mendapatkan pahala di sisi Allah, sehingga ada diantara mereka yang bermalas-malasan dalam mendukung program tersebut. Demi menepis persangkaan yang salah ini, kali ini kami akan mengulas PENTINGNYA PENGHIJAUAN menurut tuntunan Rasulullah beserta dalil²nya.

Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy]

Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya” . [HR. Muslim]

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- berkata menjelaskan faedah- faedah dari hadits yang mulia ini, “Di dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman, bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari kiamat masih ada.

Jika demikian banyak manfaat dari REBOISASI alias penghijauan, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits lainnya, seperti beliau pernah bersabda,
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad]

Rasulullah tidak mungkin memerintahkan suatu perkara kepada umatnya dalam kondisi yang genting dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara itu amat penting, dan besar manfaatnya bagi seorang manusia. Semua ini menunjukkan tentang keutamaan “Go Green”alias program penghijauan yang digalakkan oleh pemerintah kita –semoga Allah memberikan balasan kebaikan bagi mereka-.
Saking besarnya manfaat dari penghijauan lingkungan alias REBOISASI, tanah yang dahulu kering kerontang bisa berubah menjadi tanah subur.Sungai yang dahulu gersang, dengan reboisasi bisa berubah menjadi berair.

Rasulullah SAW pernah bersabda
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا
“Tak akan tegak hari kiamat sampai tanah Arab menjadi tanah subur, dan sungai-sungai”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/370 & 417), dan Muslim dalam Kitab Ash-Shodaqoh (2336)],

Ketika para sahabat mendengarkan hadits-hadits ini, maka mereka berlomba-lomba dan saling mendorong untuk melakukan program penghijauan ini, karena ingin mendapatkan keutamaan dari Allah -Azza wa Jalla- di dunia dan di akhirat berupa ganjaran pahala.

Para pembaca yang budiman, jika kita mau membuka sebagian kitab-kitab hadits yang berisi keterangan dan petunjuk jalan hidup para salaf (pendahulu) kita dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya, maka kita akan mendapatkan manusia-manusia yang memiliki semangat dalam menggalakkan perintah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam perkara ini.

Seorang tabi’in yang bernama Umaroh bin Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshoriy Al-Madaniy -rahimahullah- berkata,

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ‏‎ ‎يَقُوْلُ لأَبِيْ : مَا يَمْنَعُكَ‏‎ ‎أَنْ تَغْرِسَ أَرْضَكَ ؟ فَقَالَ‏‎ ‎لَهُ أَبِيْ : أَنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ‏‎ ‎أَمُوْتُ غَدًا ، فَقَالَ لَهُ‏‎ ‎عُمَرُ : أَعْزِمْ عَلَيْكَ‏‎ ‎لَتَغْرِسَنَّهَا, فَلَقَدْ‏‎ ‎رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ‏‎ ‎يَغْرِسُهَا بِيَدِهِ مَعَ أَبِيْ

“Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada bapakku, “Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?” Bapakku berkata kepada beliau, “Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati besok.” Umar berkata kepadanya, “Aku mengharuskan engkau (menanamnya). Engkau harus menanamnya!” Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob menanamnya dengan tangannya bersama bapakku.” [HR. Ibnu Jarir Ath-Thobariy sebagaimana dalam Ash-Shohihah (1/1/39)]

Al-Imam Al-Bukhoriy -rahimahullah- meriwayatkan sebuah atsar dari Nafi’ bin Ashim bahwa,

أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ‏‎ ‎عَمْرٍو قَالَ لابْنِ أَخٍ لَهُ‏‎ ‎خَرَجَ مِنَ الْوَهْطِ : أَيَعْمَلُ‏‎ ‎عُمَّالُكَ ؟ قَالَ : لاَ أَدْرِيْ ،‏‎ ‎قَالَ : أَمَا لَوْ كُنْتَ‏‎ ‎ثَقَفِيًّا لَعَلِمْتَ مَا‎ ‎يَعْمَلُ عُمَّالُكَ ، ثُمَّ‏‎ ‎الْتَفَتَ إِلَيْنَا فَقَالَ :‏‎ ‎إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا عَمِلَ مَعَ‏‎ ‎عُمَّالِهِ فِيْ دَارِهِ – وَقَالَ‏‎ ‎أَبُوْ عَاصِمٍ مَرَّةً : فِيْ‏‎ ‎مَالِهِ – كَانَ عَامِلاً مِنْ‏‎ ‎عُمَّالِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Dia pernah mendengar Abdullah bin Amer -radhiyallahu anhu- berkata kepada keponakannya yang telah keluar dari kebunnya, “Apakah para pekerjamu sedang bekerja?” Keponakannya berkata, “Aku tak tahu.” Beliau berkata, “Ingatlah, andaikan engkau adalah orang Tsaqif, maka engkau akan tahu tentang sesuatu yang dikerjakan oleh para pekerjamu.” Kemudian beliau menoleh kepada kami seraya beliau berkata, “Sesungguhnya seseorang bila bekerja bersama para pekerjanya di kampungnya atau hartanya, maka ia adalah pekerja di antara pekerja-pekerja Allah -Azza wa Jalla-.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (448). Syaikh Al-Albaniy men-shohih-kan hadits ini dalam Shohih Al-Adab (hal. 154)]

Amer bin Dinar -rahimahullah- berkata,

عَنْ عَمْرٍو قَالَ: دَخَلَ عَمْرُو‎ ‎بْنُ الْعَاصِ فِيْ حَائِطٍ لَهُ‏‎ ‎بِالطَّائِفِ يُقَالُ لَهُ‏‎ ‎الْوَهْطُ, فِيْهِ أَلْفُ أَلْفِ‏‎ ‎خَشَبَةٍ اِشْتَرَى كُلَّ خَشَبَةٍ‏‎ ‎بِدِرْهَمٍ –يَعْنِيْ: يُقِيْمُ‏‎ ‎بِهِ اْلأَعْنَابَ-‏‎

“Amer bin Al-Ash pernah masuk ke dalam suatu kebun miliknya di Tho’if yang dinamai dengan “Al-Wahthu”. Di dalamnya terdapat satu juta batang kayu. Beliau telah membeli setiap kayu dengan harga satu dirham. Maksudnya, beliau menegakkan dengannya batang-batang anggur.” [HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (46/182)]

Para pembaca yang budiman, perhatikanlah sahabat Amer bin Al-Ash telah berani berkorban demi memelihara tanaman-tanaman yang terdapat dalam kebunnya. Semua ini menunjukkan kepada kita tentang semangat para sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam melaksanakan perintah dan anjuran beliau dalam menghijaukan lingkungan. Maka contohlah mereka dalam perkara ini, niscaya kalian mendapatkan keutamaan sebagaimana yang mereka dapatkan. Namun satu hal perlu kita ingat bahwa usaha dan program penghijauan seperti ini terpuji selama tidak melalaikan kita dari kewajiban, seperti jihad, sholat berjama’ah, mengurusi anak dan keluarga atau kewajiban-kewajiban lainnya yang sepatutnya kita utamakan karena Allah. 

Sumber: 
https://id-id.facebook.com/ForumHijauIndonesia/posts/247881641969607
https://fadhlihsan.wordpress.com/2010/03/15/pahala-bagi-orang-yang-menanam-pohon-sewaktu-di-dunia/
https://petanirumahan.com/2013/07/11/hadits-hadits-anjuran-bercocok-tanam-bagian-i/

Cari Artikel