DI MANA ALLAH ? (MEMAHAMI TAUHID)

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI----Allah yang menciptakan kita mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, do'a dan shalat kita. Orang yang tidak tahu di mana Tuhan akan selalu sesat, dan tidak mengetahui bagaimana caranya beribadah yang benar. Sifat  atas atau tinggi yang dimiliki Allah atas makhluk-Nya tidak berbeda dengan sifat-sifat Allah yang lain sebagaimana diterangkan dalam Al Qur'an dan hadits shaheh, seperti 'mendengar', melihat, berbicara, turun dan lain-lain.

DI MANA ALLAH ? (MEMAHAMI TAUHID)

Aqidah para ulama salaf yang shaleh dan golongan yang selamat yaitu "Ahlussunnah wal jama'ah mempunyai keyakinan sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitabullah tanpa ta'wil (menggeser ma'na yang asal ke ma'na yang lain), ta'til (meniadakan ma'nanya sama sekali) dan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya). Hal ini berdasarkan firman Allah :


"Tiadak ada suatu apapun yang sama dengan Allah dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat." (Asysyura : 11)


Sifat-sifat Allah ini antara lain sifat atas atau tinggi tadi mengikuti dzat Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut juga wajib sebagaimana juga iman kepada dzat Allah. Imam Malik ketika ditanya tentang ma'na "istiwa" dalam firman Allah :


beliau menjawab : Istiwa itu sudah dimaklumi, yaitu berarti "Tinggi". Tetapi bentuknya bagaimana tidak diketahui, kita hanya wajib mengimaninya.

Perhatikanlah jawaban Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada istiwa itu wajib diketahui oleh setiap muslim. Tetapi bagaimana tingginya Allah dan hanya Allah saja yang mengetahui. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al Qu'an dan hadits - antara lain sifat ketinggian Allah yang mutlak dan Allah di atas langit - maka orang itu berarti telah mengingkari ayat Al qur'an dan hadits yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan, keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapapun. Usaha sekelompok ulama yang datang belakangan untuk mena'wilkan ayat-ayat Al qur'an yang berhubungan dengan sifat Allah, yang terpengaruh oleh sifat yang merusak aqidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari dzat-Nya. Mereka bertentangan dengan metode ulama salaf yang dinilai lebih selamat, lebih tahu dan lebih kuat argumentasinya.



ALLAH DI ATAS ARASY


Al Qur'an hadits shaheh dan naluri serta cara berfikir yang sehat akan mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.


1. Allah SWT berfirman :


"Allah yang maha pengasih itu "Istawa" di atas arasy" (Taha : 4).


Sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhari, para tabiin menafsirkan istawa dengan naik dan tinggi.



2. Allah berfirman :



"Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit? Dia akan menjungkir-balikan bumi bersama kamu." (Almulk : 16)


Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud yang di langit adalah Allah seperti dituturkan dalam kitab Tafsir Ibnul-Jauzi.



3. Firman Allah SWT :


Orang-orang takut kepada Tuhannya yang di atas mereka (Al-Nahl: 150)



4. Firman Allah tentang Nabi Isa As :


"Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya." (Annisa : 158).


Maksudnya Allah menaikan Nabi Isa ke langit.



5. Allah berfirman :


"Ialah Allah yang ada di langit-langit." (Alan'am : 3)


Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut : Para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka.


Adapun firman Allah :


"Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada." (Alhadid : 4)


Yang dimaksud adalah Allah itu selalu bersama kita, dimana Allah mendengar dan melihat kita, seperti keterangan dalam Ibnu Katsir dan Jalalain.


6. Rasulullah SAW Mi'raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu (Riwayat Bukhari dan Muslim).


7. Rasulullah SAW bersabda :

"Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal saya ini dipercaya oleh Allah yang ada di langit?" (Riwayat Bukhari dan Muslim).


8. Rasulullah SAW bersabda : "Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu." (Riwayat Turmudzi).


9. Rasulullah SAW pernah menanyai seorang wanita budak : "Dimana Allah?" Jawabnya : "Di langit!" Rasulullah bertanya lagi : "Siapa saya?" Dijawab lagi  : "Kamu Rasulullah." Lalu Rasul Allah bersabda : "Merdekakanlah dia karena dia seorang mukminah!"


10. Sabda Rasulullah SAW : "Arsy berada di atas, dan Allah berada di atas arsy. Allah mengetahui keadaan kamu."


11. Abu Bakar Shiddiq berkata : "Barang siapa menyembah Allah maka Allah berada di langit, ia hidup dan tidak mati." (Riwayat Imam Darimi dalam Alradd alal Jahmiyah).


12. Abdullah bin Mubarak pernah ditanya :  "Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?" Maka beliau menjawab : "Tuhan kita di atas langit, di atas arsy, berbeda dengan makhluk-Nya." Maksudnya dzat Allah berada di atas arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluknya, dan keadaannya di atas arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.


13. Imam Abu Hanafah menulis kitab kecil berjudul "Sesungguhnya Allah itu di atas arsy." Beliau menerangkan hal itu seperti dalam kitabnya "Al-Ilm wal-Muta'allim."


14. Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan "Subhana Rabiala'la (maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdoa ia juga mengangkat tangannya dan menadahkan ke langit.


15. Anak kecil ketika anda tanya di mana Allah, mereka akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit.


16. Otak yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah berada di semua tempat, niscaya Rasulullah pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di SEGALA TEMPAT berarti Allah juga berada ditempat-tempat yang najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan itu.


KESIMPULAN 

Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Al Qur'an dan hadits adalah wajib. Tidak boleh membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga kita hanya mau beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa mendengar dan melihatnya Allah tidak sama dengan mendengar dan melihat makhluk, maka ia juga harus percaya bahwa Allah itu tinggi di atas langit dengan cara dan sifat yang sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat tingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitab-Nya dan sabda-sabda Rasulullah SAW. Fitrah dan cara befikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.

INILAH MAKNA DAN PENGERTIAN TAHLIL

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI---Tahlilan merupakan kegiatan membaca serangkaian ayat Alquran dan zikir-zikir dengan maksud menghadiahkan pahala bacaannya kepada orang yang telah meninggal. "Tahlilan" berasal dari kata bahasa Arab tahlīl (تهليل) yang berarti membaca kalimat Lā ilāh(a) illa Allāh (لا إله إلا الله “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah”), salah satu yang dibaca pada kegiatan tahlilan. Tradisi tahlilan biasa diselenggarakan setiap malam Jumat atau pada hari-hari kesekian setelah meninggalnya seseorang, meskipun tidak terbatas pada dua kesempatan tersebut.

Makna dan pengertian Tahlil

Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.

Sudut pandang lain melihat bahwa kegiatan yang sama merupakan “acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah,” karena memang penyelenggara memberikan makanan hidangan dan untuk dibawa pulang.


1. MAKNA TAHLIL

Lafazh tahlil berasal dari kata:

هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا


"Halal" "Yuhalil" "Tahlil"

Artinya: "Mengucapkan la ilaha illallah"

Kalimat "la ilaha illallah" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna: "tidak ada Tuhan selain Allah."



Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata:
  هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا

yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
 
“Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Artinya:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. ." (QS.Muhammad, 19).

Kalimat "la ilaha illallah" disebut juga dengan kalimat tauhid karena dengan kalimat ini seseorang meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, artinya mengakui ke-Esa-an Allah

Kalimat "la ilaha illallah" disebut juga "kalimatul-ikhlas," (HR Tabrani) karena murni hanya berbicara tentang Allah SWT, tidak ada pembicaraan lain.

Kalimat ini disebut juga dzikir, karena denganNya seseorang berdzikir mengingat Allah SWT.

Kalimat "la ilaha illallah" disebut juga kalimat thayyibah (kata-kata yang baik), da'watul-haq (seruan kebenaran) dan al 'urwah al da'watul-haq (seruan kebenaran) dan al 'urwah al wustqa (pegangan yang kokoh).

Kalimat "la ilaha illallah" terdiri dari "nafi" dan "itsbat" "nafi" adalah menafikan (membatalkan semua yang dituhankan dan membatalkan ibadah kepada semua yang dituhankan, berbunyi: illallah.

Lafazh Allah berasal dari kata ilah (...), jamaknya alihah (...) artinya apa saja yang disembah atau yang dipertuhankah. Kemudian Lafazh ilah ini ditambah dengan alif dan lam makrifah, sehingga menjadi alilah (...), kemudian huruf hamzahnya dibuang dan lam pertama dimasukan ke dalam lam kedua (idgam), maka jadilah Allah (اللَّهُ).

Sungguh menjakjubkan, apapun huruf dipermulaannya yang dikurangi, maknanya akan selalu menunjukkan kepada Dia yang punya nama. Kalau alif dihilangkan, maka akan muncul lillah (...), berarti untuk Allah atau karena Allah: kalau lam pertama dihapus, muncul lahu (...) berarti bagi-Nya; begitu pula jika lam kedua dibuang, maka akan tersisa huruf ha. Bila huruf ha ini dibaca secara sukun (...) maka akan muncul ucapan : "ah". inilah bunyi rintihan semua manusia yang menderita atau meringis, hal ini merupakan sebutannya terhadap Tuhan baik orang itu kenal kepada-Nya atau tidak.

Pada perkembangan terakhir, Allah hanya nama yang diperuntukan bagi Tuhan yang sebenarnya dan berhak untuk disembah.

2. TAHLIL DAN SYAHADAT

Seorang non muslim jika ia memeluk Islam dan Mualaf, ia harus mengatakan kalimat ""la ilaha illallah". Dengan kalimat ini ia mengakui ke-Esa-an Allah SWT. Hal ini disebut dengan syahadat tauhid. Syahadat tauhid ini disempurnakan dengan pengakuan akan kerasulan Nabi Muhammad SAW yang disebut syahadat rasul; sehingga berbunyi:

.........................


Artinya:
"Aku bersaksi (mengakui) bahwa tidak ada Tuhan (yang disembah dengan sebenarnya) melainkan Allah dan aku bersaksi (mengakui) bahwa Muhammad adalah Rasul Allah."

Dengan demikian, syahadat terbagi dua yaitu: syahadat tauhid dan syahadat Rasul.

1). Syahadat Tauhid:

................

Dengan kalimat ini seseorang :
  • Mengakui bahwa hanya Allah-lah yang menciptakan alam semesta (Rabb al-'Alamin). pengakuan ini disebut Tauhid Rububiyyah.
  • Mengakui bahwa Allah-lah yang berhak disembah dan ditaati segala aturan (syari'at) Nya. Pengakuan  ini disebut Tauhid Uluhiyyah.

2). Syahadat Rasul:

Dengan kalimat ini seseorang mengakui bahwa:

a. Allah yang disembah dan ditaati itu adalah Tuhan yang diterangkan oleh Nabi          Muhammad SAW, yang Maha Esa pada Dzat, sifat dan Af"al-Nya.
- Dzat Allah SWT diyakini akan wujud eksistensi-Nya
- Sifat Allah SWT disaksikan bekas-bekasnya melalui ayat-ayat-Nya yang terpampang di alam semesta dan pada diri manusia sendiri.
- Af'al Allah SWT dihayati terjadinya melalui gerak dan diam yang ada pada alam semesta ini di setiap saat dan waktu.

b. Ibadah yang dilaksanakan harus sesuai dengan acuan yang dicontohkan oleh  Nabi Muhammad SAW dan untuk mencari ridha Allah SWT (ikhlas untuk-Nya).

Demikianlah tentang makna dan pengertian Tahlil, yang terkait dengan kegiatan Tahlilan yang sering dilakukan di masyarakat kita. Semoga tulisan ini bermanfaat, terimakasih sudah berkunjung kembali di blog sisa Harimanusia ini. Wassalam...

KEUTAMAAN BERZIKIR "LAA ILAHA ILALLAH"

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Dalam hidup ini kita dianjurkan untuk selalu berzikir, bertasbih kepada Allah SWT. Kalimah ‘La Ilaha Illallah’ berisi penuh seluruh tasbih, tahmid dan takbir atau segala pujian kepada Allah SWT. Berzikir akan mendorong tubuh bergerak atau harakah secara hakiki. Hal ini tentu saja sukar dijelaskan dalam penjabaran lidah kita yang terbatas. Dalam tasawuf, harakah ini disusun begitu rupa sehingga menimbulkan rentak berbaris demi proses taqarrub. Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, "Kalimat Tauhid (Laa ilaha illallah) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung."

Tapi  tahukah kita ternyata keutamaan kalimat tauhid atau tahlil ini sungguh luar biasa, berikut adalah beberapa keutamaan kalimat tahlil "Laa ilaha ilallah" :

1. Kalimat 'Laa ilaha illallah' merupakan harga surga, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,"Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah 'lailaha illallah', maka dia akan masuk surga" (HR. Abu Dawud 1621)

2. Kalimat 'Laa ilaha ilallah' adalah kebaikan yang paling utama, Abu Dzar berkata,"Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal." Lalu Abu Dzar berkata lagi, "Wahai Rasulullah, apakah 'laa ilaha illallah' merupakan kebaikan?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan."

3. Kalimat 'Laa ilaha illallah' adalah dzikir yang paling utama, Dari Jabir rodhiyallohu 'anhu , dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam beliau bersabda : "Dzikir yang paling utama adalah laa ilaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah."(HR. Ibnu Majah, An Nasa'I - Shohih Targhib wa Tarhib : 1526 )

4. Kalimat 'Laa ilaha ilallah' adalah pelindung api neraka, Dari Umar rodhiyallohu 'anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah sholallohu 'alaihi wasallam bersabda : "Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaha illallah. (HR. Hakim - Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 ). Suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wa salam mendengar muadzin mengucapkan 'Asyhadu alla ilaha illallah'. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, "Engkau terbebas dari neraka."(HR. Muslim no. 873)

5. Kalimat 'Laa ilaha illallah' adalah dzikir dan perantara doa, Dari Abu Sa'id Al Khudri rodhiyallohu 'anhu dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam beliau bersabda : Musa berkata : Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang aku akan berdzikir dan berdoa kepadaMu dengannya. Allah berfirman : Wahai Musa ucapkanlah Laa ilaha illallah. Musa berkata : Wahai Tuhanku seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini. Allah berfirman : Wahai Musa ! Seandainya langit tingkat tujuh dan apa yang ada didalamnya serta bumi tingkat tujuh selain Aku diletakkan di suatu timbangan, dan laa ilaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan berat timbangan laa ilaha illallah." (HR. Ibnu Hibban, Hakim - Fathul Bari : 11/28 )

6. Kalimat 'Laa ilaha ilallah' menunda kiamat, Dari Anas bin Malik rodhiyallohu 'anhu ia berkata : Rasulullah sholallohu'alaihi wassalam bersabda : "Tidak akan terjadi kiamat (apabila) masih ada orang yang menyebut laa ilaha illallah".(HR. Ibnu Hibban, - Ta'liqotul Hisan : 6809, Ash Shohihah : 3016).

7. Dzikir Laa ilaha illallah pahalanya paling banyak,Sebagaimana terdapat dalam shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,"Barangsiapa mengucapkan 'laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syay-in qodiir' [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian.Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu." (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018).

Dan masih banyak lagi keagungan – keagungan dzikir tahlil "Laa ilaha illaallah", marilah kita berdzikir "laa ilaha illaallah" sebanyak – banyaknya dengan hati yang tulus ikhlas diwaktu pagi dan petang, sebagaimana firman Allah "Wahai orang – orang beriman, berdzikirlah kepada Allah, sebanyak – banyaknya." (Al- Ahdzab:41).

Dengan ini jelaslah keutamaan dzikir 'laa il aha illallah' sebagai kunci kebaikan dan adabnya. Mudah-mudahan yang sedikit ini dapat bermanfaat. Wassalam...

MENGENAL SIFAT DUA PULUH DALAM AGAMA ISLAM

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Berikut ini, kita akan mencoba  membahas tentang sifat duapuluh, di sini kita akan mendiskusikan satu persatu dari 20 sifat yang wajib bagi Allah secara terinci, dengan tidak lupa mengemukakan dali aqli dan dalil nagli bagi masing-masing sifat tersebut. Kemudian kita akan melihat beberapa pesan dan nasihat tentang apa yang harus kita lakukan sebagai seorang Mu'min yang meyakini dengan benar-benar bahwa Allah bersifat dengan sifat-sifat tersebut. Sehingga dengan demikian akan menjadi sempurnalah iman yang dimiliki oleh Mu'min tersebut sebagai bekal di dunia menuju akhirat kelak.

Adapun tentang sifat-sifat Allah lainnya yang tak terhingga banyaknya, maka kewajiban bagi setiap mukallaf adalah mengetahuinya secara ijmal saja. Yaitu bahwa Allah swt. Itu muttashifun bi kulli kamaal (bersifat dengan segala kesempurnaan). Sedang mengenai sifat-sifat yang mustahil bagi Allah 'Azza wa Jalla, maka hal itu adalah lawan dari duapuluh sifat wajib bagi-Nya. Dan di sini akan diterangkan secara terperinci. Akan halnya sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya secara ijmal, maka hal itu tercakup dalam perkataan yang berbunyi: muanazzahu 'an kulli naqshin wa maa kahthara bil-baal (Allah itu suci dari segala sifat kekurangan (ketidaksempurnaan) dan apa saja yang terlintas dalam hati manusia).

Berikut ini 20 duapuluh sifat yang wajib dan yang mustahil bagi Allah swt, yaitu :

1. Wujud
@@
Wujud berarti ada, maka mustahil Allah itu tidak ada.

Allah swt. berfirman:
@@@@
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya". Q.S, As-Sajdah : 4)

Maka sepatutnyalah bagi setiap muslim dan Mu'min yang mempunyai keyakinan yang benar untuk senantiasa ingan kepada Allah pada setiap kali memandang segala sesuatu yang maujud (berwujud) di alam ini.

2. Qidam
@@
Qidam artinya terdahulu (tanpa ada awalnya), maka mustahil didahului oleh 'adam (ketiadaan).
Allah swt. berfirman:
@@@ 
"Dia-lah (Allah) yang Awal dan yang Akhir". Q.S. Al-Hadid : 3

Maksudnya, bahwa Allah itu terdahulu tanpa ada awalnya dan terkemudian tanpa ada akhirnya. Maka sepatunyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa memanjatkan syukur kepada Allah, yang dengan taufik-Nya telah menjadikannya seorang Mu'min dan Muslim.

3. Baqa'
@@@
Baqa' artinya kekal (abdi), maka mustahil dikenai fana' (kebinasaan).
Allah swt. berfirman:
@@@
"Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan". Q.S Ar-Rahman:27

Maka sepatutnya lah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa mengingat mati. Yakni, bahwa pada saatnya nanti maut pasti akan menjemputnya. Sehingga ia pun akan segera bertaubat memohon ampunan kepada Allah dari segala dosanya sebelum ajal tiba.

4. Mukhalafatu lil-Hawadits
@@@
Mukhalafatu lil-Hawadits artinya berlawanan dengan segala sesuatu yang baru, maka mustahil bagi Allah bersamaan dengan segala sesuatu yang baru.
@@@
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia". Q.S Asy-Syu'ara:11
Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk banyak-banyak mengucap tasbih dan pujian kepada Allah, agar ia memperoleh rahmat-Nya

5. Qiyamuhu Binafsihi
@@@
Qiyamuhu Binafsihi artinya berdiri dengan dirinya sendiri, maka mustahil tidak berdiri dengan sendirinya. Dengan kata lain, Allah tidak bergantung atau berhajat kepada yang lain.
Allah swt. berfirman:
@@@
"Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam,". (Q.S. Al-Ankabut:6).

Maka sepatutnya bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk menyatakan hajat dan pertolongan kepada Allah. karena ia mengetahui bahwa Allah Mahakaya dari sekalian alam, dan bahwa alam seluruhnya ini Allah semata. 

6. Wahdaniyah 
@@@
Wahdaniyah artinya Esa dzat-Nya, sifat-Nya dan fi'il-Nya maka mustahil Allah itu terbilang dzat, sifat dan fi'il-Nya Allah swt. berfirman: 
@@@
"Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Mahaesa'". Q.S. Al-Ikhlas: 1

Maka sepatutnya bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinana yang benar untuk melihat dan meyakini bahwa setiap kejadian yang ada di alam itu semuanya merupakan fi'il (perbuatan) Allah semata.

7. Qudrat
@@@

Qudrat itu artinya kuasa, maka mustahil Allah itu tidak kuasa. 
Allah swt. berfirman:
@@@
"Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu". (Q.S. Al-Baqarah: 20)

8. Iradat
@@@
Iradat artinya berkehendak (berkeinginan), maka mustahil Allah bersifat terpaksa.
Allah swt. berfirman:
@@@
"Sesungguhnya Tuhanmu) Maha melaksanakan apa yang ia kehendaki" (Q.S. Hud: 107)

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan bersabar atas setiap bala' dunia.

9. 'Ilmun 
@@@

'Ilmun artinya mengetahui, maka mustahil Allah itu jahil (tidak mengetahui).
Allah swt. berfirman:
@@@

"Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". Q.S. An-Nisa': 176

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk memperbanyak rasa takut melakukan perbutan maksiat kepada Allah, karena tidak ada suatu pun perbuatan yang terluput dari pengetahuan Allah.

10. Hayat
@@@

hayat artinya hidup, maka mustahil Allah itu mati. Allah swt. berfirman:
@@@

"Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (Kekal) yang tidak mati". Q.S. Al-Furqan: 58.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa berserah diri (bertawakal) kepada Allah Yang Hidup dan Yang tidak akan mati.


11. Sam'un
@@@

Sam'un artinya mendengar, maka mustahil Allah itu tuli. Allah swt, berfirman
@@@

"Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Q.S. Al-Baqarah: 256.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa takut (memelihara diri dari) berkata-kata yang haram, karena sesungguhnya Allah Maha Mendengar segala perkataan hamba-Nya.

12. Bashar
@@@

Bashar artinya melihat, maka mustahil Allah itu buta.
Allah swt. berfirman:

"Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". Q.S. Al-Hujurat: 18

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu.min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa memelihara diri dari setiap perbuatan yang diharamkan, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat setiap perbuatan hamba-Nya.

13. Kalam
@@@

Kalam artinya berbicara, maka mustahil Allah itu gagu. Allah swt. berfirman:
@@@

"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung". Q.S. An-Nisa': 164

Maka sepatutnyalah bagi setiam Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa berdzikir kepada Allah dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah Kalamul-Lah.


14. Qadirun
@@@

Qadirun artinya yang kuasa, maka mustahil Allah itu bukan yang kuasa. Dalilnya sama dengan yang ada dalam sifat Qudrat.


15. Muridun
@@@

Muridun artinya berkehendak, maka mustahil Allah tidak berkendak. Dalilnya sama dengan yang ada dalam sifat Iradat.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk memperbanyak permohonan (doa) kepada Allah agar dikaruniai kebahagiaan dunia dan akhirat, dan dijauh dari segala bala' dunia dan akhirat.


16. 'Alimun
@@@

'Alimun artinya yang mengetahui, maka mustahil Allah itu tidak mengetahui. Dalilnya sama dengan yang ada dalam sifat 'Ilmun.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu.min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap keadaan, dan memohon pemeliharaan-Nya dari setiap kejahatan dunia dan akhirat.


17. Hayyun
@@@

Hayyun artinya yang hidup, maka mustahil Allah itu mati. Dalilnya sama dengan yang pada sifat Hayat.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa berserah diri kepada Allah dalam setiap keadaan.

18. Sami'un
@@@

Sami'un artinya yang mendengar, maka mustahil Allah itu tuli. Dalilnya sama dengan yang ada dalam sifat Sam'un

Maka sepatutnyalah bagi setia Mu'min yang memiliki keyakinana yang benar untuk senantiasa memperbanyak puji dan syukur serta doa kepada Allah Yang Maha Mendengar.


19. Bashirun
@@@

Bashirun artinya yang melihat, maka mustahil Allah itu buta. Dalilnya sama denan yang ada dalam sifat Bashar.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk senantiasa memperbanyak rasa malu melakukan dosa dan kelalaian kepada Allah Yang Maha Melihat.


20. Mutakallimun
@@@

Mutakallimun artinya yang berbicara, maka mustahil Allah itu gagu. Dalilnya sama dengan yang ada dalam sifat Kalam.

Maka sepatutnyalah bagi setiap Mu'min yang memiliki keyakinan yang benar untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an dengan khusyu' dan dengan mengkaji dan mempelajari artinya.

Demikian tentang mengenal sifat dua puluh dalam agama Islam, semoga dapat dipahami dan jadi amal yang baik untuk kita semua, semoga juga bermanfaat untuk menambah ilmu dan pengetahuan kita tentang ajaran agama Islam dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Terimakasih. Wassallam...

Sumber : dirangkum dari buku Sifat dua Puluh Bahasa Arab Melayu, Al-Habib Usman bin Abdullah bin Yahya

PENGERTIAN IMAM KEPADA ALLAH SWT DALAM PANDANGAN ISLAM - TAUHID

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Menurut pengertian bahasa, kata Iman adalah percaya atau membenarkan. Menurut ilmu tauhid, iman berarti kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati (pembenaran hati), diikrarkan secara lisan, dan mengamalkan atau direalisasikan dalam perbuatan dengan anggota badan.

Berdasarkan pengertian itu, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa iman kepada Allah SWT adalah mempercayai atau meyakini akan adanya Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan segala kemahasempurnaan-Nya. Kepercayaan tersebut diyakini dalam hati sanubari, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan amal saleh. Hal tersebut dapat dijabarkan dalam penjelasan berikut ini :

"Membenarkan dengan hati" maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.

"Mengikrarkan dengan lisan" maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat "Laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan Rasulullah" (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

"Mengamalkan dengan anggota badan" maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya. Kaum salaf menjadikan amal termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu bisa bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal shalih. 

Dalam firman-Nya, Allah SWT menyatakan: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebajikan. Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan (sebagian) harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang menempati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itula orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Al-Baqarah, 2: 177).

Rasa percaya akan adanya Sang Maha Pencipta Tunggal, Allah SWT, dapat ditumbuhkan dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menggunakan akal pikiran yang sehat untuk memerhatikan segala apa yang telah diciptakan Allah SWT, seperti alam semesta dan segala isinya. Imam Syafi'i yang hidup antara tahun 150 H-204 H (767 M-820 M), membuktikan kebenaran Ada dan Kuasanya Allah dengan memerhatikan tumbuhan murbei. Hasil amatab Imam Syafi'i menyimpulkan bahwa tumbuhan murbei mempunyai bermacam-macam kegunaan. Apabila daun tersebut dimakan oleh ulat sutera, maka kepompong ulat sutera yang makan daun murbei akan menjadi bahan kain sutera yang berkualitas dan indah dipakai. Kalau daun tersebut dimakan oleh, maka sapi tersebut akan menghasilkan susu yang enak diminum.

Malaikat Yang Datang Bertanya:

Umar bin Al-Khattab r.a menceritakan bahwa pada suatu ketika Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih, berambut sangat hitam, bekas telapak kakinya tidak terlihat, dan tidak seorang pun sahabat sahabat Rasulullah SAW yang hadir waktu itu mengenalnya. Lalu lelaki itu mengemukakan beberapa pertanyaan tentang rukun Islam, rukun iman, dan tentang ihsan. Mengenai rukun iman ia bertanya, "Beritahukanlah saya tentang keimanan!" Rasulullah SAW menjawab: "Hendaklah engkau beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan qadar (takdir) yang baik ataupun buruk." Lelaki itu lalu berkata, "Tuan benar." (H.R. Muslim). 

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis nabi, yang diperkuat oleh akal sehat, maka hukum beriman kepada Allah SWT itu adalah fardu'ain. Jika ada orang yang mengaku Islam, tetapi tidak percaya kepada Allah SWT, maka orang tersebut dianggap telah murtad (keluar dari Islam).  

ASMAUL HUSNA - 99

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

01 Ar-Rahman -Yang Maha Pemurah
02 Ar-Rahim -Yang Maha Mengasihi
03 Al-Malik -Yang Maha Menguasai
04 Al-Quddus -Yang Maha Suci
05 Al- Sallam -Yang Maha Selamat Sejahtera
06 Al-Mu’min -Yang Maha Melimpahkan Keamanan
07 Al-Muhaimin -Yang Maha Pengawal serta Pengawas
08 Al-Aziz -Yang Maha Berkuasa
09 Al-Jabbar -Yang Maha Kuat
10 Al-Mutakabir -Yang Melengkapi Segala Ke Besarannya
11 Al-Khaliq -Yang Maha Pencipta
12 Al-Bari -Yang Maha Menjadikan
13 Al-Musawwir -Yang Maha Pembentuk
14 Al-Ghaffar -Yang Maha Pengampun
15 Al-Qahhar -Yang Maha Perkasa
16 Al-Wahhab -Yang Maha Penganugerah
17 Al-Razzaq -Yang Maha Pemberi Rezeki
18 Al-Fattah -Yang Maha Pembuka
19 Al-’Alim -Yang Maha Mengetahui
20 Al-Qabidh -Yang Maha Pengekang
21 Al-Basit -Yang Maha Melimpah Nikmat
22 Al-Khafidh -Yang Maha Perendah (Pengurang)
23 Ar-Rafi’ -Yang Maha Peninggi
24 Al-Mu’izz -Yang Maha Mengasihi dan menghormati (Memuliakan)
25 Al-Muzill -Yang Maha Menghina
26 As-Sami’ -Yang Maha Mendengar
27 Al-Basir -Yang Maha Melihat
28 Al-Hakam -Yang Maha Mengadili
29 Al-’Adl -Yang Maha ‘Adil
30 Al-Latif -Yang Maha Lembut serta Halus
31 Al-Khabir -Yang Maha Mengetahui
32 Al-Halim -Yang Maha Penyabar
33 Al-’Azim -Yang Maha Agung
34 Al-Ghafur -Yang Maha Pengampun
35 Asy-Syakur -Yang Maha Bersyukur
36 Al-’Aliy -Yang Maha Tinggi serta Mulia
37 Al-Kabir -Yang Maha Besar
38 Al-Hafiz -Yang Maha Memelihara
39 Al-Muqit -Yang Maha Menjaga
40 Al-Hasib -Yang Maha Penghitung
41 Al-Jalil -Yang Maha Besar serta Mulia
42 Al-Karim -Yang Maha Pemurah
43 Ar-Raqib -Yang Maha Waspada
44 Al-Mujib -Yang Maha Pengkabul
45 Al-Wasi’ -Yang Maha Luas
46 Al-Hakim -Yang Maha Bijaksana
47 Al-Wadud -Yang Maha Penyayang
48 Al-Majid -Yang Maha Mulia
49 Al-Ba’ith -Yang Maha Membangkitkan Semula
50 Asy-Syahid -Yang Maha Menyaksi
51 Al-Haqq -Yang Maha Benar
52 Al-Wakil -Yang Maha Pentadbir
53 Al-Qawiy -Yang Maha Kuat
54 Al-Matin -Yang Maha Teguh
55 Al-Waliy -Yang Maha Melindungi
56 Al-Hamid -Yang Maha Terpuji
57 Al-Muhsi -Yang Maha Penghitung
58 Al-Mubdi -Yang Maha Pencipta dari Asal
59 Al-Mu’id -Yang Maha Mengembali serta Memulihkan
60 Al-Muhyi -Yang Maha Menghidupkan
61 Al-Mumit -Yang Mematikan
62 Al-Hayy -Yang Senantiasa Hidup
63 Al-Qayyum -Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64 Al-Wajid -Yang Maha Penemu
65 Al-Majid -Yang Maha Mulia
66 Al-Wahid -Yang Maha Esa
67 Al-Ahad -Yang Tunggal
68 As-Samad -Yang Menjadi Tumpuan
69 Al-Qadir -Yang Maha Berupaya
70 Al-Muqtadir -Yang Maha Berkuasa
71 Al-Muqaddim -Yang Maha Menyegera
72 Al-Mu’akhkhir -Yang Maha Penangguh
73 Al-Awwal -Yang Pertama
74 Al-Akhir -Yang Akhir
75 Az-Zahir -Yang Zahir
76 Al-Batin -Yang Batin
77 Al-Wali -Yang Wali / Yang Memerintah
78 Al-Muta’ali -Yang Maha Tinggi serta Mulia
79 Al-Barr -Yang banyak membuat kebajikan
80 At-Tawwab -Yang Menerima Taubat
81 Al-Muntaqim -Yang Menghukum (mereka yang bersalah)
82 Al-’Afuw -Yang Maha Pengampun
83 Ar-Ra’uf -Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84 Malik-ul-Mulk -Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85 Dzul-Jalal-Wal-Ikram -Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86 Al-Muqsit -Yang Maha Saksama
87- Al-Jami’ -Yang Maha Pengumpul
88- Al-Ghaniy -Yang Maha Kaya serta Serba Lengkap
89- Al-Mughni -Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90 Al-Mani’ -Yang Maha Pencegah
91 Al-Darr -Yang Mendatangkan Mudharat
92 Al-Nafi’ -Yang Memberi Manfaat
93 Al-Nur -Yang bercahaya
94 Al-Hadi -Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95 Al-Badi’ -Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96 Al-Baqi -Yang Maha Kekal
97 Al-Warith -Yang Maha Mewarisi
98 Ar-Rasyid -Yang Memimpin (Ke arah Kebenaran)
99 As-Sabur -Yang Maha Penyabar





* * *

Hakekat Syahadat “la ilaha illallah” dan Keistimewaannya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

KEISTIMEWAAN KALIMAT SYAHADAT

Kalimat syahadat yang sering diucapkan oleh kaum muslimin dalam kesehariannya memiliki kedudukan yang amat tinggi dan keutamaan yang istimewa di dalam agama Islam. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa kalimat syahadat adalah pintu menuju Islam. Seorang non muslim tidak akan dikatakan muslim hingga ia membaca kalimat syahadat. Selain itu, kalimat syahadat merupakan kunci untuk menuju surga Allah ta’ala.
Maka di dalam salah satu sabdanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa siapa yang akhir ucapannya adalah la ilaha illallah niscaya ia akan masuk surga. Beliau juga bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ.

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang berucap la ilaha illallah dengannya ia mengharap wajah Allah.” (HR. Muslim)
Kalimat syahadat juga terkenal dengan ungkapan kalimat ikhlas atau kalimat tauhid atau juga kalimat thayyibah. Sebab konsekuensi dari kalimat mulia ini bagi orang yang melafalkannya ialah, ia harus meninggalkan segala macam peribadatan kepada selain Allah dan wajib menujukan segala macam ibadah hanya kepada-Nya semata.
Atas dasar beberapa keutamaan ini, kita ketahui begitu perlu dan butuhnya kita mendalami hakekat kalimat la ilaha illallah.


MAKNA KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH

Mayoritas kaum muslimin mengartikan kalimat ini dengan ucapan “tiada Tuhan selain Allah”. Namun pada nyatanya tuhan itu banyak, hanya saja semua tuhan yang dijadikan sesembahan oleh kaum musyrikin adalah batil. Sedangkan Tuhan yang Haq hanyalah satu; Tuhan saya, Tuhan anda, Tuhan kita semuanya, yaitu Allah Tuhan semesta alam.
Allah ta’ala sendiri menyebutkan bahwa tuhan itu berbilang. Namun semuanya adalah batil kecuali Dia semata. Firman-Nya:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ.

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhan yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. al-Hajj: 62)
Maka itu tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kaumnya untuk meninggalkan tuhan-tuhan mereka yang batil dan mentauhidkan Allah semata dengan serta merta mereka mengingkari dan berkata, sebagaimana yang difirmankan Allah:

أَجَعَلَ اْلآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ.

“Mengapa ia (Muhammad) menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya Ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Adapun makna yang benar dari kalimat tauhid ini adalah “Tiada Tuhan yang Haq kecuali Allah” atau “Tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah,” yang mana dalam bahasa Arabnya berbunyi “Laa ma’buuda bihaqqin Illalllahu”. (asy-Syahadatan, Syaikh Abdullah Jibrin hal. 15)

Inilah makna yang benar yang menyatakan bahwa tiada Tuhan yang berhak untuk dialamatkan kepada-Nya ibadah kecuali hanya Allah semata. Sebab hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ.

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. al-Anbiya`: 25)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Tuhan Yang Maha Menciptakan segala-galanya itulah yang berhak untuk diibadahi.” (al-Ushul ats-Tsalatsah, Syaikh Muhammad at-Tamimi).

RUKUN KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH

Ulama menjelaskan bahwa kalimat tauhid la ilaha illallah terdiri dari dua rukun:
Pertama: la ilaha, tiada tuhan yang haq, ini berarti menafikan atau meniadakan segala bentuk tuhan yang ada di bumi dan di langit. Kedua: illallah, kecuali Allah. Ini menetapkan bahwa satu-satunya Tuhan yang haq yang berhak untuk diibadahi hanyalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah bertutur: “Arti (kalimat tauhid ini) ialah tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata. La ilaha menafikan seluruh persembahan selain Allah. Illallah menetapkan peribadatan hanya kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya.” (al-Ushul ats-Tsalatsah)

Siapa yang benar-benar beribadah hanya kepada Allah semata dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang baik serta ia jauh dari peribadatan kepada selain Allah, sungguh ia telah berpegang dengan tali yang kokoh. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى.

“Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. al-Baqoroh: 256)

Dalam menafsirkan tali yang amat kuat adh-Dhohhak dan Sa’id bin Jubair rahimahumallah berkata, “yaitu kalimat la ilaha illallah.” (Tafsir Ibn Katsir)

SYARAT KALIMAT LA ILAHA ILLALLAH

Syarat kalimat tauhid itu ada tujuh, ia tidak akan bermanfaat kecuali ketujuh syarat tersebut terpenuhi. (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah, Syaikh Shalih al-Fauzan, hal. 134)
Ketujuh syarat tersebut terkumpul dalam dalam sebuah bait syair berikut ini:

عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ           مَعَ مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلِ لَهَا

Yaitu Ilmu, yakin, ikhlas, jujur (tulus), cinta, tunduk, dan menerimanya
Sebagian ulama menambahkan satu syarat lagi sehingga jumlahnya menjadi delapan. Dalam sebuah bait syair disebutkan:

وَزِيْدَ ثَامِنُهَا الْكُفْرَانُ مِنْكَ بِمَا          سِوَى الإِلَهِ مِنَ الأَنْدَادِ قَدْ أُلِهَا

Ditambah syarat kedelapan yakni engkau kufur dengan tuhan-tuhan yang diagungkan selain Tuhan yang Esa

Berikut perincian ringkas ketujuh syarat tersebut:

Pertama: Ilmu. orang yang mengucapkan kalimat tauhid harus memahami maknanya. Lawannya adalah al-jahlu (tidak tahu). Orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan lisannya namun ia tidak memahami makna dan kensekuensinya maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barang siapa yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang haq kecuali Allah niscaya ia masuk surga.“ (HR. Muslim).

Kedua: Yakin. Maksudnya orang yang melafazhkan syahadat ia harus meyakini kebenaran ucapannya itu. Sebagai lawannya adalah bimbang dan ragu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّيْ رَسُوْلُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيْهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan bahwasanya diriku adalah rasul utusan Allah, tidaklah seorang hamba berjumpa Allah dengan dua kalimat tersebut tanpa bimbang ragu melainkan ia akan masuk surga. (HR. Muslim).

Ketiga: Ikhlas. Seorang yang menucapkannya harus mengikhlaskan atau memurnikan agama ini karena Allah ta’ala semata. Sedangkan lawannya adalah kesyirikan. Firman-Nya:

فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ. أَلاَ لِلَّهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ.

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”(QS. az-Zumar: 2-3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ.

“Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan la ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari hatinya.“ (HR. Bukhari).

Keempat: Jujur (tulus). Lawannya adalah dusta. Syarat ini diambil dari sabda shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Siapa yang berkata la ilaha illallah dengan jujur (tulus) dari hatinya niscaya ia masuk surga.“ (HR. Ahmad)

Kelima: Cinta. Yaitu kecintaan yang menghilangkan lawannya yang berupa kebencian. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid ini harus mencintainya dan mencintai orang-orang yang mencintai kalimat ini. Adapun orang yang tidak mencintainya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.

Keenam: Tunduk. Yaitu berserah diri dan patuh dengan perbuatan atas peribadatan kepada Allah ta’ala.  Lawannya adalah berpaling dan meninggalkan. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid namun tidak tunduk dan patuh dengan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.

Ketujuh: Menerima. Yaitu dengan menampakkan kebenaran kalimat tauhid dengan perkataan. Lawannya adalah menolak. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah. Sebaliknya, ia wajib menerima kandungan makna kalimat tauhid dengan baik.

Demikianlah penjelasan ringkas seputar kalimat la ilaha illallah. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.

Sumber: https://abumusa81.wordpress.com/2012/11/08/hakekat-syahadat-la-ilaha-illallahu/

Cari Artikel