INILAH DOSA DAN BAHAYA DUSTA

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI---Dalam keseharian kita mengenal istilah kebohongon, baik kebohongan individu ataupun kebohongan publik, yang marak dibicarakan diberbagai media masa. Bohong atau dusta, menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna tidak sesuai dengan hal (keadaan dsb)yang sebenarnya atau palsu. Adapaun dalam bahasa Arab, kebohongan (al-kadzibu), menurut Profesor Dr. Rawwas Qal'ahji dalam Mu'jam Lughah al-Fuqaha, adalah lawan dari kejujuran.

Allah SWT sudah menetapkan bahwa tak ada satu pun perbuatan yang yang terlepas dari hisab termasuk ucapan:

---Ayat---

Janganlah kamu mengikuti apa saja yang tidak kamu ketahui. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta bertanggung jawaban (TQS al-Isra' [17]: 36).

Allah SWT pun mengingatkan bahwa ada malaikat yang selalu mendampingi manusia dan mencatat apa yang keluar dari lisannya:

Tiada suatu ucapan pun yang dia ucapkan melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir (TQS Qaf [50]:18).

Kedudukan seorang hamba di akhirat kelak salah satunya juga ditentukan dari kemampuannya menjaga liasnnya, termasuk jujur dalam perkataan. Nabi saw. bersabda:

Siapa aja yang menjamin untuk apa yang ada di atara dua rahangnya dan apa yang ada diantara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga bagi dirinya. (HR al-Bukhari).

Dengan demikian kejujuran adalah bagian integral dari agama ini, bukan sekedar demi pencitraan. Kejujuran dan keimanan merupakan dua hal yang saling berdampingan. Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bersama orang-orang yang benar/jujur. (shiddigin):

--- Ayat ---

Hai orang-orang yang beriman, bertawakallah kalian kepada Allah SWT, dan hendaklah kalian selalu bersama orang-orang yang benar/jujur (TQS at-Taubah [9]:119).

Di antara kadar keimanan seseorang ditandai dengan keteguhannya dalam menjaga lisannya agar senantiasa lurus. Nabi Muhammad saw. bersabda:

--- Ayat ---

Tidaklah lurus iman seseorang hamba sampai lurus hatinya dan tidaklah lurus hatinya sampai lurus lisannya (HR Ahmad).

Berkaitan dengan menjaga lisan, Iman Syafii rahimahullah telah berkata, "Jika seseorang mau berbicara, maka sebelum dia berbicara hendaklah berpikir. Jika tampak jelas maslahatnya maka dia berbicara. Jika dia ragu-ragu maka dia tidak akan berbicara sampai jelas maslahatnya."

Di antara lurusnya lisan adalah jujur dalam berbicara. Kejujuran ini akan mengantarkan pada kebaikan dan selanjutnya membawa pelakunya ke surga. Nabi Muhammad saw bersabda:

--- Ayat ---

"Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sungguh seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur sampai akhir ia menjadi orang benar-benar jujur." (HR. al-Bukhari).

Bahaya Dusta

Sungguh memprihatinkan sekarang ini umat Muslim menganggap kebohongan adalah sebagai hal yang biasa, bahkan dianggap sebagai bagian dari kehidupannya. Kita mengenal istilah Aplir Mop, Prank, rekayasa atau pencitraan atas suatu produk atau tokoh agar mendapatkan simpati dan mendapatkan dukungan. Hal ini berkembang di masyarakat bahkan menjadi industri tertentu. Pelaku bisnis sering membuat opini palsu tentang suatu produk agar dianggap penting oleh konsumen sehingga mereka akan mencari dan membeli produk tersebut. Jadilah produk itu harganya melambung dan membuat prestise pemiliknya. Terhadap hal ini Nabi Muhammad saw mengingatkan:

--- Ayat ---

"Para pedagang adalah tukang maksiat." Di antara para sahabat ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?" Rasulullah menjawab; "Ya, namun mereka sering bersumpah, namun sumpahnya palsu." (HR Ahmad dan ath Thabari).

Meski demikian Nabi Muhammad saw. Juga menyampaikan keutamaan para pedagang yang jujur dan dapat dipercaya:

--- Ayat ---

"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para nabi, shiddigin dan para syuhada." (HR at-Tirmidzi).

Berdusta bukanlah karakter seorang Muslim,  melainkan ciri kemunafikan, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

--- Ayat ---

"Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara, dusta; jika berjanji, ingka ; jika dipercaya, khianat." (HR al-Bukhari).

Diantara berkata dusta adlaah mencertiakan apa yang sebenarnya tidak ia saksikan. Artinya, ia mengarang-mengarang cerita yang kemudian disebarkan kepada orang lain.       

--- Ayat ---

"Di antara sebesar-besarnya kedustaan adalah orang yang mengaku matanya telah melihat apa yang sebetulnya tidak dia lihat." (HR al-Bukhari).

Dalam kehidupan, sering orang berdusta baik untuk keuntungan dirinya maupun untuk merampas hak orang lain, dan membuat orang lain celaka. Para koruptor memalsukan laporang keuangan, tanda bukti pembayaran, dsb. Ada juga orang-orang yang ingin menjatuhkan kehormatan seseorang dan merampas haknya tanpa takut memberikan kesaksian palsu di pengadilan maupun kepada orang lain. Padahal bersaksi palsu, apalagi untuk merampas hak sesama, adalah salah satu dosa besar yang sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad saw., "Perhatikanlah (wahai para Sahabat), maukah aku tunjukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?" Beliau mengatakan itu sampai tiga kali. Kemudian para sahabat mengatakan "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua." Sebelumnya beliau bersandar. Lalu beliau duduk dan bersabda, "Perhatikanla, dan perkataan palsu (perkataan dusta)." Beliau terus mengulangi hal itu (HR Muttafaq alaihi).

Dengan kesaksian palsu, pengadilan dapat memberikan keputusan yang akhirnya keliru dan merugikan orang yang tidak bersalah, atau menggugurkan hak yang semestinya menjadi miliknya. Lewat kesaksian palsu pula seorang yang tak bersalah dapat diperlakukan sebagai pesakitan, dijadikan musuh masyarakat sehingga dibenci banyak orang. Pantaslah bila Islam menempatkan kesaksian palsu sebagai dosa besar yang kelak akan menyeret pelakunya ke dalam siksa Allah SWT. "Kalian menyerahkan persengketaan kalian kepadaku. Namun, bisa jadi sebagian dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Karena kelihaian argumennya itu, lalu aku memutuskan bagi dia sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain, maka pada hakikatnya ketika itu aku telah menetapkan bagi dirinya sepotong api neraka. Oleh karena itu, hendaknya jangan mengambil hak orang lain." (HR al-Bukhari).

Perbuatan menipu dan memperdaya orang lain akan lebih berat lagi manakala dilakukan oleh para penguasa yang menipu rakyatnya. Nabi Muhammad saw bersabda:


"Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyatnya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga bagi dirinya." (HR Muttafaq 'alaih).

Al-Amir ash-Shan'ani di dalam Subul as-Salam menjelaskan bahwa ghissyu itu terjadi denga kezaliman dia terhadap rakyat dengan mengambil harta mereka, menumpahkan darah mereka, melanggar kehormatan mereka, menghalangi diri dari keperluan dan kebutuhan mereka, menahan dari mereka harta Allah SWT yang Allah tetapkan menjadi milik mereka yang dintentukan untuk pengeluaran-pengeluaran, tidak memberitahu mereka apa yang wajib atas mereka baik perkara agama dan dunia mereka, mengabaikan hudud, tidak menghalangi orang-orang yang membuat kerusakan, menelantarkan jihad dan lainnya yang di dalamnya terdapat kemaslahatan hamba, Termasuk mengangkat orang yang tidak melingkupi mereka dan tidak memperhatikan perintah Allah tentang mereka dan mengangkat orang yang mana Allah lebih meridhai orang lainnya padahal orang lain yang lebih diridhao oleh Allah itu ada. Hadis-hadis menunjukana haramnya al-ghisyyu (penipuan/khianat) dan bahwa itu termasuk dosa besar karena adanya ancaman terhadap (pelaku) al-ghisyyu itu sendiri.

Terhadap penguasa yang demikian, Nabi Muhammad saw. Mengingatkan, "Sungguh akan ada setelahku para pemimpin pendusta dan zalim. Siapa saja yang mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak akan minum dari telagaku." (HR Ahmad). Wallahu a'lam bin ash-shawab.

Hikmah Penutup 

Rasulullah saw. bersabda:

"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan, sedangkan orang yang jujur malah didustakan; penghianat dipercaya, sedangkan ornag yang amanah justru dianggap sebagai penghianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara. "Ada yang bertanya. "Apa yang dimaksud Ruwaibidhah? "Beliau menjawab. "Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas." (HR Ibnu Majah). 

PENGERTIAN DAN TATA CARA SHOLAT KHUSYU

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI-Pendidikan Agama Islam---Ibadah sholat yang kita lakukan hendaknya selalu khusyu, agar sholat menjadi lebih bernilai, bukan sekedar menunaikan kewajiban saja, tetapi merupakan ibadah yang sempurna untuk mencapai keridhoan Allah SWT.


Sebelum kita membahas lebih jauh tentang bagaimana sholat yang khusyu tersebut, alangkah baiknya kita pahami pengertian tentang khusyu itu sendiri.


Pengertian Tentang Khusyu

Tentang sholat yang khusyu ini Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:

Katakanlah : "Sesungguhnya aku diperintahkan menyembah Allah dengan tulus ikhlas, beragama karena-Nya semata-mata,"  Q: XXXIX (Al-Qur'an Surah Az-Zumar): 1

Secara mendasar ayat ini telah menuntun kita menuju pokok utama sasaran pembicaraan dalam blog ini, yaitu masalah khusyu". Pada hakikatnya pengertian sholat yang khusyu' itu telah terkandung oleh ayat di atas. Tatapi mengingat kenyataannya, keterbatasan kita sebagai manusia yang selalu ragu-ragu kita harus menambahkan lagi dengan pernyataan-pernyataan yang lain untuk menunjang pengertian tersebut dengan penjelasan af'al dari istilah itu.

Jika disusun secara lebih terurai, khusyu' itu akan menampilkan pengertian kurang lebih sebagai berikut:

Khusyu adalah menyengaja, ikhlas dan tunduk lahir dan bathin; dengan menyempurnakan keindahan bentuk/sikap lahirnya, serta memenuhi dengan kehadiran hati, kesadaran dan pengertian (penta'rifan) segala ucapan dan bentuk atau sikap lahir.

Arti khusyu’ dalam bahasa Arab ialah al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull (tunduk), dan as-sukuun (tenang). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu’kan matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara terminology khusyu’ adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Allah SWT yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Allah SWT. Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat hingga shalatnya berakhir.

Sedangkan menurut para ulama khusyu’ adalah kelunakan hati, ketenangan pikiran, dan tunduknya kemauan yang renadah yang disebabkan oleh hawa nafsu dan hati yang menangis ketika berada di hadapan Allah sehingga hilang segala kesombongan yang ada di dalam hati tersebut. jadi, pada saat itu hamba hanya bergerak sesuai yang diperintahkan oleh Tuhannya Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an kata khusyu’ disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda. Meskipun mayoritas ditujukan kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyu’ berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi.

Karenanya, termasuk ke dalam sholat khusyu' itu segala sesuatu yang menggambarkan tunduk dalam berbagai ragam segi sebagai berikut:
1. Sikap hormat, sungguh-sungguh dan tertib
(yang sudah barang tentu menolak sikap memain-maikan anggota badan, berpaling-paling, terburu-buru, dan sikap seenaknya).
2. Merendahkan suara, menyempurnakan tartil
(yang sudah barang tentu menolak suara yang berlebih-lebihan dalam lagu dan mengeraskannya, ucapan/lafadz yang tergesa-gesa dan sembrono)
3. Menenangkan sikap, memusatkan perhatian dan pikiran
(yang sudah barang tentu menolak sikap/berdiri yang tidak stabil, mata yang melihat-lihat ke kiri dan kekanan pikiran yang gelisah atau masih terpaut kepada hal-hal yang lain).

Sebenarnya istilah yang menggambarkan af'al khusyu ini bukanlah tertentu kepada shalat saja, melainkan juga dalam pekerjaan lain yang bukan shalat, bahkan dalam renungan ketika kesepian atau sampai-sampai ketika buang air dalam kamar mandi kecil sekalipun.
Kristalisasi sikap khusyu' di dalam shalat secara menyeluruh, dapat disimpulkan dalam pengertian ihsan yang dijelaskan Rasulullah saw:





Menyebah Allah seolah-olah engkau melihat Dia, karena walaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat engkau (Bukhari: 42 - Muslim; 1).

Itulah sebabnya Imam Ghazali mengatakan bahwa khusyuk itu adalah sebuah iman dan natijah keyakinan yang dikarenakan oleh kebesaran Allah SWT.


INILAH MAKNA DAN PENGERTIAN TAHLIL

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


1. MAKNA TAHLIL

Lafazh tahlil berasal dari kata:

هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا


"Halal" "Yuhalil" "Tahlil"

Artinya: "Mengucapkan la ilaha illallah"

Kalimat "la ilaha illallah" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna: "tidak ada Tuhan selain Allah."



Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata:
  هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا

yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
 

“Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Artinya:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. ." (QS.Muhammad, 19).

Kalimat "la ilaha illallah" disebut juga dengan kalimat tauhid karena dengan kalimat ini seseorang meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, artinya mengakui ke-Esa-an Allah

Kalimat "la ilaha illallah" disebut juga "kalimatul-ikhlas," (HR Tabrani) karena murni hanya berbicara tentang Allah SWT, tidak ada pembicaraan lain.

Kalimat ini disebut juga dzikir, karena denganNya seseorang berdzikir mengingat Allah SWT.

Kalimat "la ilaha illallah" disebut juga kalimat thayyibah (kata-kata yang baik), da'watul-haq (seruan kebenaran) dan al 'urwah al da'watul-haq (seruan kebenaran) dan al 'urwah al wustqa (pegangan yang kokoh).

Kalimat "la ilaha illallah" terdiri dari "nafi" dan "itsbat" "nafi" adalah menafikan (membatalkan semua yang dituhankan dan membatalkan ibadah kepada semua yang dituhankan, berbunyi: illallah.

Lafazh Allah berasal dari kata ilah (...), jamaknya alihah (...) artinya apa saja yang disembah atau yang dipertuhankah. Kemudian Lafazh ilah ini ditambah dengan alif dan lam makrifah, sehingga menjadi alilah (...), kemudian huruf hamzahnya dibuang dan lam pertama dimasukan ke dalam lam kedua (idgam), maka jadilah Allah (
اللَّهُ).

Sungguh menjakjubkan, apapun huruf dipermulaannya yang dikurangi, maknanya akan selalu menunjukkan kepada Dia yang punya nama. Kalau alif dihilangkan, maka akan muncul lillah (...), berarti untuk Allah atau karena Allah: kalau lam pertama dihapus, muncul lahu (...) berarti bagi-Nya; begitu pula jika lam kedua dibuang, maka akan tersisa huruf ha. Bila huruf ha ini dibaca secara sukun (...) maka akan muncul ucapan : "ah". inilah bunyi rintihan semua manusia yang menderita atau meringis, hal ini merupakan sebutannya terhadap Tuhan baik orang itu kenal kepada-Nya atau tidak.

Pada perkembangan terakhir, Allah hanya nama yang diperuntukan bagi Tuhan yang sebenarnya dan berhak untuk disembah.

2. TAHLIL DAN SYAHADAT

Seorang non muslim jika ia memeluk Islam dan Mualaf, ia harus mengatakan kalimat ""la ilaha illallah". Dengan kalimat ini ia mengakui ke-Esa-an Allah SWT. Hal ini disebut dengan syahadat tauhid. Syahadat tauhid ini disempurnakan dengan pengakuan akan kerasulan Nabi Muhammad SAW yang disebut syahadat rasul; sehingga berbunyi:

.........................


Artinya:
"Aku bersaksi (mengakui) bahwa tidak ada Tuhan (yang disembah dengan sebenarnya) melainkan Allah dan aku bersaksi (mengakui) bahwa Muhammad adalah Rasul Allah."

Dengan demikian, syahadat terbagi dua yaitu: syahadat tauhid dan syahadat Rasul.

1). Syahadat Tauhid:

................

Dengan kalimat ini seseorang
a. Mengakui bahwa hanya Allah-lah yang menciptakan alam semesta (Rabb al-'Alamin). pengakuan ini disebut Tauhid Rububiyyah.
b. Mengakui bahwa Allah-lah yang berhak disembah dan ditaati segala aturan (syari'at) Nya. Pengakuan  ini disebut Tauhid Uluhiyyah.

2). Syahadat Rasul:

Dengan kalimat ini seseorang mengakui bahwa:

a. Allah yang disembah dan ditaati itu adalah Tuhan yang diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang Maha Esa pada Dzat, sifat dan Af"al-Nya.
- Dzat Allah SWT diyakini akan wujud eksistensi-Nya
- Sifat Allah SWT disaksikan bekas-bekasnya melalui ayat-ayat-Nya yang terpampang di alam semesta dan pada diri manusia sendiri.
- Af'al Allah SWT dihayati terjadinya melalui gerak dan diam yang ada pada alam semesta ini di setiap saat dan waktu.

b. Ibadah yang dilaksanakan harus sesuai dengan acuan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan untuk mencari ridha Allah SWT (ikhlas untuk-Nya).

CANDA MENURUT SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM KRITERIA DAN TUJUANNYA[1]

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia----Canda tawa merupakan irama kehidupan yang tidak mungkin terhindarkan, apalagi jika kita hidup ditengah masyarakat. Terkadang canda itu menjadi cara untuk bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar kita, bahkan dalam kondisi tertentu canda menjelma menjadi metode pendidikan yang jitu. Tidak bisa dipungkiri, canda di saat-saat tertentu memang dibutuhkan untuk menciptakan suasana rileks dan santai guna mengendorkan urat syaraf, menghilangkan rasa pegal dan capek sehabis melakukan aktifitas yang menguras konsentrasi dan tenaga. Diharapkan setelah itu badan kembali segar, mental stabil, semangat bekerja tumbuh kembali, sehingga produktifitas semakin meningkat.

HUKUM CANDA DALAM ISLAM

Pada dasarnya, bercanda hukumnya mubah (boleh), selama materi candaan itu bersih dari semua yang terlarang atau diharamkan dalam agama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bercanda.

Al-‘Iz bin Abdissalam rahimahullah berkata, “Jika ada yang bertanya, ‘Bagaimana pendapat kalian tentang bercanda? Maka kami jawab, ‘Bercanda boleh bila menimbulkan rasa nyaman, baik itu bagi orang yang mengajak bercanda, atau bagi orang yang diajak bercanda, atau bagi keduanya.[2]

Imam Nawawi rahimahullah juga berpendapat senada sebagaimana disebutkan didalam kitab al-Adzkâr (hlm. 581). Di situ, beliau rahimahullah menetapkan bahwa bercanda dengan tujuan merealisasikan kebaikan, atau untuk menghibur lawan atau untuk mencairkan suasana, maka itu tidak terlarang sama sekali, bahkan canda seperti ini termasuk sunnah yang mustahab (disukai).

Diantara dalil-dalil yang mendasari bolehnya bercanda adalah sebagai berikut:

    Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dalam kitab Sunannya, no. 1913, dan dalam kitab asy-Syamâ’il al-Muhammadiyah, no. 238. Menurut beliau hadits ini derajatnya hasan shahih, dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata:

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا؟ قَالَ: نَعَمْ غَيْرَ إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا

Para Sahabat berkata, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya engkau mencadai kami.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Betul, akan tetapi saya tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang benar.[3]

    Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, no. 13817; Abu Daud, no. 4998 dan at-Tirmizi, no.1991 dari Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Anas Radhiyallahu anhu , seorang laki-laki meminta kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dibawa serta di atas tunggangannya, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا حَامِلُكَ عَلَى وَلَدِ نَاقَةٍ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا أَصْنَعُ بِوَلَدِ نَاقَةٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَهَلْ تَلِدُ الْإِبِلَ إِلَّا النُّوقُ

“Aku akan membawamu dengan anak unta.” Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah ada unta yang tidak dilahirkan oleh unta betina.”[4]

Artinya semua unta itu adalah anak dari unta betina yang melahirkannya.

    Hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim juga at-Tirmidzi dari Anas Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu bergaul dan membaur bersama kami, sampai-sampai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada adikku yang masih kecil:

يَا أَبَا عُميرٍ مَا فَعلَ النُّغَيرُ

 Wahai Abu Umair! Apakah yang telah dilakukan oleh an-nughair?[5]

an-Nughair adalah burung kecil.

Hadit-hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semisal menunjukkan bahwa bercanda itu boleh, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para Ulama. Terkadang hukum mubah (boleh) ini bisa naik derajatnya menjadi mustahab (disunatkan) apabila maksudnya untuk merealisasikan sebuah kebaikan atau menghiburkan lawan bicara, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Imam Nawawi di atas.

Al-Hafiz Ibn Hajar rahimahullah mengatakan, “Candaan yang bersih dari segala yang dilarang dalam agama hukumnya mubah. Apabila bertepatan dengan suatu kemaslahatan seperti bisa menghibur lawan bicara atau mencairkan suasana, maka hukumnya mustahab.”[6]

Izzuddin bin Abdissalam as-Syâfi’i rahimahullah mengatakan, “Dahulu aku pernah ditanya tentang canda, materinya dan canda yang diperbolehkan, maka aku jawab, ‘Canda disunnahkan diantara saudara, teman dan sahabat, karena canda bisa membuat hati senang dan suasana yang bersahabat, akan tetapi dengan syarat materi candaan tidak mengandung unsur tuduhan, ghibah dan tidak berlebihan sehingga bisa mengikis wibawa.”[7]

Dalam kitab al-Mausû’ah al-Kuwaitiyah (36/273) disebutkan bahwa bercanda tidak menghilangkan kesempurnaan, bahkan sebaliknya bercanda bisa menjadi pelengkap kesempurnaan jika sesuai dengan aturan syari’at. Misalnya, canda tapi tetap jujur tidak dusta, tujuannya untuk menarik dan menghibur orang-orang yang lemah, atau untuk menampakkan sikap lemah-lembut kepada mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda, namun canda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersih dari segala yang terlarang dan tidak sering dalam rangka mewujudkan kemaslahatan. Canda yang seperti ini hukumnya sunnah. Karena hukum asal perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib diikuti atau sunnah untuk diteladani kecuali ada dalil yang melarangnya. Dan dalam masalah canda ini tidak ada dalil yang melarang. Berdasarkan ini, maka jelas hukumnya sunnah sebagaimana yang dikatakan oleh para Ulama.

Berdasarkan nukilan perkataan para Ulama di atas diketahui  bahwa bercanda hukum asalnya mubah, namun terkadang bisa menjadi sunnah bila bermaksud menghibur, terutama bila melihat teman atau saudara dalam keadaan susah atau murung. Ini didukung dengan hadits dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , beliau Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa  anak Ummu Sulaim yaitu Abu Umair terkadang diajak canda oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pada suatu hari, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk mencandainya, akan tetapi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatinya sedang bersedih. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Ada apa dengan Abu Umair, saya melihatnya sedang bersedih?” Para Sahabat menjawab, “Wahai Rasûlullâh! Burung kecil yang biasa dia ajak bermain mati.” Lalu Rasûlullâhpun memanggilnya, “Wahai Abu Umair! Apa yang diperbuat oleh nughair?”

Apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam penggalan kisah di atas bertujuan meringankan beban kesedihan anak kecil yaitu Abu Umair Radhiyallahu anhu yang kehilangan burung kesayangannya.

HIKMAH DARI PENSYARIATAN CANDA

Dari pemaparan di atas tampak jelas bahwa hikmah disyariatkan bercanda yaitu menghibur saudara. Karena canda tidak diperbolehkan kecuali jika materinya berisi hal-hal yang bisa menghibur pelaku saja, atau orang yang dicandai atau dua-duanya, sebagaimana perkataan al-‘Iz bin Abdissalam rahimahullah.

Namun canda yang diperbolehkan atau bahkan yang disunatkan di atas terikat dengan ketentuan-ketentuan syari’at. Jika ketentuan-ketentuan ini dilanggar, berarti canda itu masuk kategori canda yang tercela dan terlarang.

KRITERIA CANDA YANG DIBOLEHKAN

Diantara ketentuan-ketentuan itu adalah:

    Selalu jujur dan tidak bohong

Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . Ketika para Sahabat berkata, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya engkau menyandai kami.” Beliau bersabda, “Betul, hanya saja saya tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang benar (jujur).

Dalil lainnya, hadits yang diriwayatkan al-Mubârak bin Fadhâlah dari al-Hasan al-Bashri, beliau berkata bahwa ada seorang nenek datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasûlullâh! Mintalah kepada Allâh Azza wa Jalla agar aku dimasukkan ke dalam surga.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek.” Mendengar ini, nenek itu pergi sambil menangis. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para Sahabatnya, “Kabarkan kepadanya bahwa dia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua. sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً ﴿٣٥﴾ فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا ﴿٣٦﴾ عُرُبًا أَتْرَابًا

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya. [Al-Wâqi’ah/56:35-37][8]

    Canda itu tidak berlebihan dan tidak dilakukan secara rutin

Ar-Rhâgib al-Asfahani rahimahullah berkata, “Apabila canda tidak berlebihan, maka itu terpuji.”

Canda yang berlebihan akan menyebabkan banyak tawa, terkadang dendam, bisa menjatuhkan wibawa, melalaikan orang dari zikir kepada Allâh dan melalaikan hal-hal penting dalam agama. Sedangkan canda yang rutin akan menyibukkan diri dengan permainan dan sesuatu yang sia-sia. Al-Murthada az-Zubaidi rahimahullah mengatakan, “Para imam mengatakan bahwa canda yang berlebihan mencoreng kewibawaan, dan menjauhkan diri dari canda sama sekali, melanggar sunnah dan sirah nabawiyah yang diperintahkan untuk diteladani. Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah.”[9]

Di sini ada poin penting yang dilanggar oleh banyak orang, dimana mereka menjadikan canda sebagai sebuah profesi untuk membuat manusia tertawa dengan kedustaan dan berpura-pura (akting), seperti para pelawak dan para kartunis yang sering menjadikan syari’at Islam sebagai bahan candaan, ditambah lagi materinya yang berisi celaan dan tuduhan. Ini semua karena kebodohan mereka terhadap ajaran agama Islam, kurang memiliki rasa malu dan akal mereka lemah. Na’udzu billah. Canda seperti ini akan menimbulkan kemarahan dan dendam di hati serta pelakunya mendapatkan ancaman keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Bahz bin Hakîm dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata, “Saya mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Celakalah orang yang mengucapkan sebuah perkataan dusta untuk membuat orang tertawa. Celakalah dia… Celakalah dia[10]

Disebutkan dalam kitab Faidul Qadîr, “Rasûlullâh mengulang-ulang do’anya dengan maksud memberikan gambaran betapa parah celaka yang akan menimpa itu. Karena dusta itu sendiri merupakan sumber semua kejelekan dan inti semua keburukan. Apabila dusta menyatu dengan keinginan memancing tawa yang bisa mematikan hati, menyebabkan lupa, maka akhirnya perbuatan ini menjadi keburukan yang paling jelek.”

Sebagian Ulama mengatakan bahwa merupakan kesalahan fatal menjadikan canda sebagai profesi yang dilakukan secara rutin dan berlebihan, kemudian dia berdalih dengan perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia ini seperti orang menghabiskan waktu untuk melihat dan menikmati tarian para dancer dan berdalih bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan ‘Aisyah Radhiyallahu anhu menonton tarian perang pada hari raya. Ini sebuah kesalahan.

    Candanya tidak menimbulkan rasa dongkol, marah dan dendam.

Apabila candanya menimbulkan hal-hal di atas, maka menurut para Ulama, hukumnya salah satu diantara haram atau makruh.[11]

Oleh karena itu termasuk dalam adab canda yaitu tidak bercanda dengan orang yang tidak bisa diajak bercanda. Karena bercanda dengan orang yang seperti hanya menjadi salah satu sebab permusuhan dan bisa memutus hubungan kekeluargaan. Sebagian orang menganggap semua perkataan dan perbuatan itu serius, atau tidak suka bercanda dengan orang tertentu. Berdasarkan ini, kita harus mengenali keperibadian lawan bicara kita, agar tidak salah dan berefek buruk ketika bercanda.

    Candanya bukan dengan seuatu yang metakutkan.

Apabila seperti itu, maka hukumnya tercela, bahkan bisa haram.

Dalilnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin as-Sâ-ib bin Yazîd dari bapaknya, dari kakeknya, dia mendengar Rasûlullâh bersabda:

لاَيَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيْهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا

Jangalah salah seorang diantara kalian mengambil barang saudaranya baik itu dalam rangka bercanda ataupun serius.[12]

Mengambil dengan tujuan bercanda maksudnya dia mengambil barang saudaranya dengan niat akan mengambalikannya.[13]

Dalil lainnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abu Laila, dia berkata, “Kami diberitahukan oleh para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu ketika mereka melakukan perjalanan bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian salah seorang dari mereka tertidur, sebagian dari mereka mendatanginya dan mengambil anak panahnya. Ketika orang tertidur itu terjaga dia kaget dan ketakutan, sehingga semua orang tertawa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah yang membuat kalian tertawa?” Mereka menjawab, “Kami mengambil anak panahnya kemudian dia terkejut.” Mendengar ini, Rasûlullâh bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Tidak halal bagi seorang Muslim menakuti  Muslim lainnya[14]

    Canda dilakukan denga tutur kata yang baik dan perbuatan yang elok.
Orang yang hendak mencandai orang lain harus menjauhi perkataan yang jelek dan keji, juga harus menjauhi perbuatan buruk yang bertolak belakang dengan adab kepada teman. Karena itu semua berpotensi mendatangkan kebencian dan kedengkian.

    Canda hendaknya diperuntukkan bagi orang yang membutuhkannya, seperti wanita dan anak-anak. Begitulah canda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sesungguhnya candaan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperuntukkan bagi wanita dan anak-anak.

TUJUAN DARI CANDA YANG DIPERBOLEHKAN

Islam membolehkan canda untuk mencapai tujuan-tujuan yang agung, diantaranya:

    Berpartisipasi dalam memperkokoh dan mempererat hubungan antar individu masyarakat. Karena salah satu tujuan di perbolehkannya canda adalah memberikan suasana segar dalam pergaulan diantara dua orang atau lebih yang saling bersahabat dan menjaga perasaan untuk ingin selalu jumpa.

    Meningkatkan semangat beraktivitas dan meningkatkan kemampuan dalam menangggung beban kehidupan. Karena manusia terkadang mangalami futur (lemah semangat atau lesu) dalam melakukan ibadah, bosan dengan kesibukan-kesibukan dan berbagai beban kehidupan, sehingga dia butuh refresing dan permainan yang diperbolehkan.

Khalîl bin Ahmad al-Farâhidi rahimahullah mengatakan bahwa manusia akan merasa terpenjara jika mereka tidak mau bercanda.[15]

Ini juga bisa menjadi metode yang jitu untuk membangkitkan semangat untuk beribadah, bekerja dan melakukan berbagai aktifitas yang positif.

    Mempermudah untuk meluluhkan hati orang lain agar mau tunduk dan taat. Itulah yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya baik kepada laki-laki, perempuan, ataupun anak-anak.
    Mengobati hati yang lemah. Oleh karena itu, kebanyakan canda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan bersama kaum wanita dan anak-anak demi mengobati hati mereka lemah.
    Menghadirkan senyum di bibir dan menebar kebahagian serta suka cita di hati.

Senyum dan tawa adalah hal yang dibutuhkan oleh semua orang. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tersenyum dan tertawa, namun senyum Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sering terlihat daripada tawa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaul dan bercanda dengan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kebahagian dan rasa suka cita dalam hati-hati mereka.

    Mendidikan orang yang diajak bercanda dan meluruskan prilakunya

Tujuan ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Bisyr al-Mâzini Radhiyallahu anhu , beliau berkata, “Ibuku memintaku untuk membawakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam setangkai buah anggur, akupun memakan sebagiannya sebelum aku sampaikan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah aku sampai dan menyerahkan anggur tersebut Beliau memegang telingaku seraya bersabda, “Wahai ghudar”[16]

Ghudar, artinya orang yang tidak menunaikan amanah.

Zhahir hadits ini menunjukkan bahwa Rasûlullâh ingin bermain dan bercanda dengan anak kecil ini.

Inilah sebagian kriteria dan tujuan diperbolehkannya bercanda. Barangsiapa memperhatikan tujuan dan kriteria dalam candanya maka candanya adalah canda yang diperbolehkan. Namun, barangsiapa melanggarnya atau melanggar sebagiannya berarti dia menyimpang dari jalur kebenaran, dan terjatuh dalam canda yang tercela. Canda yang tercela : semua canda yang merusak rasa malu dan mencoreng kehormatan. Diantara kriteria canda yang tercela sebagai berikut:

    Canda yang mengandung unsur ejekan terhadap agama Islam atau salah satu syari’atnya. Candaan seperti bisa menyebabkan orang yang melakukannya keluar dari Islam, karena mengejak ajaran Islam salah satu diantara yang bisa membatalkan keislaman seseorang.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allâh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” , Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman [At-Taubah/9:65-66]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Mengejek Allâh, ayat-ayat-Nya, para Rasul-Nya merupakan kekufuran. Pelakunya bisa menjadi kafir dengan sebab perbuatannya itu.”[17]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah ketika menafisirkan ini mengatakan, “… Sesungguhnya menghina atau mengejek Allâh Azza wa Jalla , ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya adalah berbuatan kufur yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam. Karena pokok ajaran agama ini terbangun diatas pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla , pengaguangan terhadap agama-Nya dan Rasul-Nya, sementara mencela salah satunya bertentangan menghilangkan pokok agama ini dan sangat bertentangan dengannya.”

Semisal dengan ini, perbuatan sebagian orang yang mengejek sebagian sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seperti mengejek jenggot, hijab atau celana yang di atas mata kaki atau sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya. Perkataan dan perbuatan seperti ini adalah kemungkaran. Dan ini merupakan perbuatan orang-orang munafik. Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua dari perkataan dan perbuatan yang sangat berbahaya ini.

Masalah ketuhanan, kerasulan, wahyu, dan agama merupakan masalah yang terhormat dan mulia. Siapapun tidak diperbolehkan menyia-nyiakannya, baik dengan mengejek, atau menertawakannya, atau merendahkannya. Jika ada orang yang berani melakukan itu, berarti dia telah kufur. Karena perbuatannya tersebut mengisyaratkan penghinaannya terhadap Allâh Azza wa Jalla , Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan syari’at-Nya. Orang yang pernah melakukannya wajib bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dari perbuatannya yang jelek tersebut.

Diantara kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam masalah ini yaitu menjadikan masalah-masalah yang ghaib yang wajib diimani sebagai bahan candaan, seperti masalah surga, neraka atau siksa kubur yang dijadikan oleh Allâh Azza wa Jalla sebagai pengingat dan motivator bagi seorang hamba untuk meraih apa yang telah dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat.

Oleh karena itu perbuatan ini wajib dihindari.

    Mengejek orang lain dengan kedipan mata atau dengan sindiran

Dalam al-Qur’an, Allâh telah melarang hal tersebut, sebagaimana firman-Nya Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [Al-Hujurat/49: 11],

Ibnu Katsir rahimahulla berkata, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang perbuatan mengejek manusia, yaitu perbuatan meremehkan, dan mengoolok-olok manusia, sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الكِبْرُ بَطَرُ الْـحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Kesombongan itu adalah menolak kebenaran, dan merendahkan manusia,

Perbuatan merendahkan dan meremehkan orang lain adalah perbuatan yang diharamkan. Boleh jadi orang yang direndahkan atau diremehkan lebih tinggi kedudukannya disisi Allâh Azza wa Jalla , atau lebih dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla daripada orang mengejek dan merendahkan.[18]

Sebagian orang yang suka mengolok terkadang menemukan orang yang bisa mereka jadikan bahan ketawaan dan candaan. Na’ûdzu billâh. Perbuatan seperti ini perbuatan terlarang dan hendaklah orang-orang seperti ini mengetahui dan mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ …  كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya dan meremehkannya …. sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim diharamkan bagi Muslim yang lain.[19]

    Canda yang bisa mencelakai orang yang dicandai

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُشِيرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ

Tidak boleh bagi salah seorang dari kalian mengarahkan atau mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, karena dia tidak tahu bisa jadi syaitan mengganggu tangannya sehingga dia bisa terjatuh kedalam kubangan api neraka[20],

Dan dalam riwayat Muslim, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أشَارَ إلَى أخِيهِ بِحَدِيدَةٍ ، فَإنَّ المَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ ، وَإنْ كَانَ أخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ

Barangsiapa mengacungkan potongan besi kepada saudaranya, maka dia dilaknat Malaikat sampai dia meninggalkannya, walaupun itu saudara seibu dan sebapak.[21]

Al-Hafiz Ibnu Hajar t berkata, “Dalam hadits tersebut terdapat larangan dari segala sesuatu yang bisa menghantarkan kepada semua yang terlarang, walaupun yang sesuatu terlarang tersebut tidak terjadi, baik itu ketika bercanda atau serius.”[22]

Pada sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Walaupun itu saudara kandungnya” terdapat penekanan dalam menjelaskan keumuman larangan, tidak diperbolehkan bercanda seperti diatas kepada siapapun, dan dalam situasi apapun, baik canda ataupun serius, karena membuat muslim menjadi takut, gusar, resah hukumnya haram pada setiap keadaan. Karena terkadang juga senjata yang dipakai bermain itu benar-benar mengenai saudaranya tanpa sengaja.[23]

Maka hati-hatilah wahai saudaraku dari perbuatan seperti di atas, perbuatan yang bisa menghantarkan kita pada ancaman dasyat, yaitu terjauhkan dari rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

    Canda yang mengandung dusta dan ghibah

Poin pertama yaitu tentang candaan yang mengandung dusta sudah dijelaskan pada penjelasan di atas. Adapun poin yang kedua, yaitu ghibah, ini merupakan penyakit yang buruk dan termasuk dosa besar. Cerita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa Isra’ mi’raj mestinya sudah memberikan gambaran betapa buruknya perbuatan ini. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِيْ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُون بها وُجُوْهَهُمْ وصُدورَهم فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيْلُ؟ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُـحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِي أَعْرَاضِهِم

Ketika saya diangkat ke langit (dalam peristiwa isra’ dan Mi’raj), saya melalui satu kaum yang memiliki kuku panjang terbuat dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka, maka saya berkata, ‘Siapakah mereka itu wahai Jibril? Jibril Alaihissallam menjawab, ‘Mereka adalah orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatan mereka.’[24]

Terkadang perbuatan buruk ini terlihat indah dan bagus bagi orang sebagian orang, sehingga dia tertarik untuk melakukannya. Semua dilakukan dengan dalih canda dan untuk menghilangkan rasa jenuh dan bosan, padahal tanpa dia sadari dia telah terjatuh dalam perbuatan ghibah yang diharamkan, yang telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

Tahukah kalian, apa itu ghibah? Para Sahabat berkata, ‘Allâh dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ghibah adalah kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak sukai.’[25]

Jadi, canda, ramah tamah, dan membuat orang lain menjadi senang dan bahagia tidak bisa dilakukan dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Akhirnya, inilah beberapa ketentuan dan tujuan bercanda. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikannya bermanfaat bagi kami dan semua yang membacanya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari majalah al-Ishlah, edisi 07, dengan judul al-Mizâh fi Sunnah, karya Abdul Majid

[2] Qawâ’idul Ahkâm fi Mashâlihul Anâm,  2/391

[3] Hadist ini shahih, lihat kitab As-Shahîhah,  no. 1726

[4] Sanad hadist ini shahih sesuai dengan syarat imam al-Bukhâri dan Muslim. Lihat  Mukhtasar Syamâ’il, Imam al-AlBâni, no. 203

[5] HR. Al-Bukhâri, no. 5774; Muslim, no. 4003, dan Tirmizi, no. 305

[6] Fathul Bâri, 10/527

[7] Al-Mirah fil Mizâh, hlm. 8

[8] Diriwayatkan oleh at-Tirmizdi dalam Syamâ’il, no. 238, dan hadits ini dinilai hasan oleh al-Albâni dalam Mukhtasharnya, no. 205

[9] Tâjul ‘Arûs, dalam materi huruf mim za ha

[10] HR. At-Tirmidzi, no. 2315; Abu Daud, no. 4990 dan dishahihkan oleh imam al-Albani dalam Shahîh at-Tirmizi no. 1885

[11] Qawâidul Ahkâm,  2/391, dan al-Azkâr an-Nawawiyah, hlm. 581

[12] HR. At-Tirmidzi no. 2160; dan Abu Daud, no. 5003; dan lafaz hadist dari Abu Daud

[13] Disebutkan oleh al-‘Iz bin abdissalam dalam Qawâ’id al-Ahkâm, 2/392

[14] Imam ahmad dalam Musnadnya no.23064, dan dishahihkan oleh imam al-Albani dalam Ghayatul Marâm, no. 447

[15] Al-Adâb asy-Syariyah, 2/321

[16] Ibnu Sunni, no. 401; dan al-Bukhâri dalam at-Târîkh, no.2673. Hadist ini menjadi hasan dengan beberapa jalan yang dimiliki

[17] Majmû’ Fatâwâ, 4/173. Cetakan al-Ubaikan

[18] Tafsîr al-Qur’ânil ‘Azhîm, 13/154. Cetakan Qurthubah

[19] Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, no. 4650 dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

[20] HR. Al-Bukhâri dan Muslim

[21] HR. Muslim, no. 2616

[22] Fathul Bâri, 13/25

[23] Dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas dalam Syarah shahih Muslim, 16/170

[24] HR. Abu Daud, no.4878. Hadist ini shahih. Lihat as-Shahîhah, no. 533

[25] HR. Muslim, no.2589


Sumber: https://almanhaj.or.id/

Masjid Baiturrahman Tak Roboh Diterjang Tsunami, Begini Penjelasan Mengagumkan Ust Somad

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sisa-Harimanusia---Bencana besar pernah terjadi di Tanah Aceh tahun 2014 lalu, menyisakan banyak kisah sedih dan kenangan pedih yang tidak terlupakan. Dalam rangka mengambil hikmah atas terjadinya musibah tsunami Aceh tahun 2014, Pemerintah Provinsi Aceh telah menyelenggarakan dzikir internasional di Banda Aceh.


Pada acara tersebut Da'i Nasional Ustadz Abdul Somad Lc MA juga turut diundang menjadi pembicara utama dalam tabligh akbar yang dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Dalam rangkaian perjalanan dakwah itu pula, Ustadz Somad menjelaskan salah satu sebab tak robohnya Masjid Raya Baiturrahman meski diterjang tsunami lengkap dengan anginnya.

Pohon kelapa tumbang, tower runtuh, ribuan bangunan kokoh rata dengan tanah. Tapi, mengapa Masjid Baiturrahmah tak goyang sedikit pun?

"Digoncang gempa sekian skala richter, dengan angin kencang, dengan air, ombak, pohon kelapa tumbang, tower-tower yang kokoh pun hancur. Mengapa Masjid Baiturrahman tidak hancur?" tanya Ustadz Abdul Somad saat mengisi ceramah subuh di Masjid Baiturrahman Aceh beberapa waktu lalu.

Menurul lulusan strata dua Darul Hadits Kerajaan Maroko ini, ada banyak teori yang mampu menjelaskan kokohnya Masjid Baiturrahman dari terpaan angin dan gelombang tsunami. Tapi ada satu alasan paling mendasar di balik kekokohan masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini.

"Teori pertama dan utama mengatakan, karena dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Habis sudah semua cerita (alasan)." kata Ustadz Somad disambut pekik takbir dari jamaah.

Alasan lain yang dikutip oleh Ustadz Somad ialah jendela dan pintu yang terbuka sehingga gelombang air tsunami masuk melalui banyak celah dan tidak langsung menabrak dinding atau tiang masjid.

Sedangkan alasan lainnya, menurut Ustadz Somad, karena amanahnya pengurus masjid yang membangun dengan komposisi semen dan pasir yang sesuai takaran alias tidak dikorupsi.

"Tiang masjid semennya utuh karena tidak dikorupsi." lanjut Ustadz Somad menjelaskan.

Dalam ceramah tersebut, Ustadz Somad juga mengingatkan umat Islam Aceh untuk senantiasa meramaikan masjid dan berada dalam jamaah. Itulah yang mengantarkan umat Islam menuju kemenangan karena bersatu dalam Islam yang mulia. (Sumber)


 Begini Penjelasan Mengagumkan 
Ust. Somad. Video from Youtube


INILAH 25 NASEHAT ISLAM PENTING YANG BERSUMBER DARI AL-QUR'AN DAN HADIST

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

25 Nasihat Islami yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Al Qur’an dan Hadits adalah dua pedoman utama manusia dalam menjalani hidup di dunia untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Ketika mengalami masalah dan hambatan, mnusia seringkali butuh nasihat islami untuk lebih mengingat Allah SWT agar kembali sejuk hati dan pikirannya. Salah satu caranya adalah dengan menyimak kata-kata nasihat islami yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. Berikut ini adalah kata-kata nasihat islami yang sekiranya mampu menyejukkan hati dan pikiran.
  1. Dan tolong-menolonglah kalian dalam melaksanakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”. (Al-Mâidah : 2)
  2. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. — (QS.2:216), Al Quran
  3. Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. (HR. Tirmidzi)
  4. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. — (QS.2:245), Al Quran
  5. Takutlah kalian terhadap sikap kikir, karena sesungguhnya kikir itu telah membinasakan orang2 sebelum kalian.(HR Muslim)
  6. Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. (QS. Al-Tahrim: 8)
  7. Kejujuran adalah ketentraman, dan kebohongan adalah kebimbangan. (HR.Tirmidzi)
  8. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. — (QS.2:277), Al Quran
  9. Tidak kecewa orang yang istikharah, tidak menyesal orang yang bermusyawarah & tidak akan melarat orang yang hemat.(HR.Thabrani)
  10. Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. — (HR. Ad-Dailami), Hadist
  11. Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan.(HR.Muslim)
  12. “Barangsiapa yang mengucapkan : “Subhanallahil ‘Adhim wa bi-Hamdih”, ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma di surga” (HR. Turmudhi)
  13. Allah lebih mengetahui terhadap apa yang mereka lakukan sejak mereka diciptakan.(HR.Bukhari,Muslim)
  14. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. — (QS.2:212), Al Quran
  15. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (Thaha:2)
  16. Orangtua adalah pintu surga yang paling tengah, apabila kamu mau maka sia-siakanlah pintu tersebut atau peliharalah.(HR.Tirmidzi)
  17. Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri. — (HR. Bukhari), Hadist
  18. Termasuk dari kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.(HR.Tirmidzi)
  19. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. — (QS.16:18), Al Quran
  20. Di antara akhlak seorang mukmin adalah baik dalam berbicara, tekun bila mendengarkan, berwajah ceria, dan menepati janji.(HR. Ad-Dailami)
  21. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
  22. Sungguh sangat unik perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur dan jika ia mendapat ujian ia bersabar, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)
  23. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.(HR. Muslim)
  24. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad) agar kalian diberikan rahmat.” (QS. Ali ‘Imran: 132)
  25. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Az Zumar:10)
Demikianlah 25 Nasihat Islami yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits, semoga bermanfaat. terimakasih.

Cara Menghitung Nisab Zakat Profesi / Penghasilan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

SAHKAH SHALATNYA PRIA YANG MEMAKAI CELANA KETAT MENAMPAKAN BENTUK TUBUH

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Berdasarkan syariat dan hukumnya memakai pakaian apapun dibolehkan dalam Islam, asal sesuai dengan hukum-hukum Islam seperti tidak menampakan aurat, dan kecuali pakaian-pakaian tertentu yang termasuk dalam dalil-dalil yang menunjukkan pelarangan. Selain itu Islam tidak menetapkan model pakaian tertentu untuk shalat. Selama pakaian tersebut memenuhi syarat maka boleh dipakai untuk salat, apapun modelnya.

Dengan demikian, yang perlu kita pegang adalah bahwa hukum asal memakai celana panjang adalah mubah. Namun para ulama memang membahas keabsahan salat orang yang saat salat dengan memakai celana panjang pada 2 keadaan berikut:

1. Celana panjang yang dipakai masih menampakkan warna kulit dan menampakkan bentuk tubuh (ketat)

Pada kondisi ini para ulama ijma (bersepakat) bahwa hukumnya haram dan salatnya tidak sah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An Nawawi, ulama besar mahdzab Syafii, beliau berkata: "Jika sebagian aurat sudah tertutupi dengan sesuatu yang berbahan kaca, sehingga masih terlihat warna kulitnya, maka tidak sah salatnya tanpa ada perbedaan pendapat di antara ulama." (Al Majmu, 3/173)
Bahkan jika warna kulit hanya terlihat dengan samar, tetap tidak sah salatnya. Dijelaskan oleh Ibnu Qudamah, ulama besar mazhab Hambali, beliau berkata: "Menutup aurat sampai warna kulit tertutupi secara sempurna, hukumnya wajib. Jika warna kulit masih tampak oleh orang di belakangnya namun samar, yaitu masih bisa diketahui warna kulitnya putih atau merah, maka tidak sah salatnya. Karena pada kondisi demikian belum dikatakan telah menutupi aurat." (Al Mughni, 1/651)

2. Celana panjang yang dipakai telah menutupi warna kulit secara sempurna namun masih menampakkan bentuk tubuh (ketat)

Pada kondisi ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama mengatakan shalatnya tidak sah. Diantaranya Ibnu Hajar Al Asqalani, ulama besar mahdzab Syafii, beliau berkata: "Aku mendengar ini dari Asyhab, bahwa orang yang mencukupkan diri salat dengan memakai celana panjang padahal ia sanggup memakai pakaian yang tidak ketat, ia wajib mengulang salatnya pada saat itu juga, kecuali jika ia tidak tahu malu." (Fathul Bari, 1/476)

Tidak sahnya salat orang yang memakai pakaian ketat juga merupakan pendapat Syaikh Ibnu Baz, mantan ketua Komite Fatwa Saudi Arabia, ketika ditanya tentang hal ini beliau menjawab: "Jika celana pantalon ini menutupi aurat dari pusar sampai seluruh paha laki-laki, longgar dan tidak ketat, maka sah salatnya. Namun lebih baik lagi jika di atasnya dipakai gamis yang dapat menutupi hingga seluruh pahanya, atau lebih baik lagi sampai setengah betis, karena yang demikian lebih sempurna dalam menutupi aurat. Salat memakai sarung lebih baik daripada memakai celana panjang jika tidak ditambah gamis. Karena sarung lebih sempurna dalam menutupi aurat." (Majmu Fatawa Ibnu Baz,1/68-69, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2480).

Dalam penjelasan Syaikh Ibnu Baz ini juga ditegaskan bolehnya salat dengan memakai celana panjang tanpa ditambah gamis atau sarung, asalkan tidak ketat. Namun sebagian ulama berpendapat salatnya tetap sah jika ia telah menutupi warna kulit dengan sempurna walaupun bentuk tubuh masih terlihat (ketat). Sebagaimana pendapat Imam An Nawawi, bahkan beliau membantah ulama yang berpendapat salatnya tidak sah:

"Jika warna kulit telah tertutupi secara sempurna dan bentuk tubuh semisal paha dan daging betis atau semacamnya masih nampak, salatnya sah karena aurat telah tertutupi. Memang Ad Darimi dan penulis kitab Al Bayan menyampaikan argumen yang menyatakan tidak sahnya salat memakai pakaian yang masih menampakkan bentuk tubuh. Namun pendapat ini jelas-jelas sebuah kesalahan." (Al Majmu, 3/173).

Demikian juga pendapat Ibnu Qudamah, beliau menyatakan sahnya salat memakai pakaian yang ketat namun beliau tidak menyukai orang yang melakukan hal tersebut: "Jika warna kulit sudah tertutupi dan bentuk tubuh masih nampak, salatnya sah. Karena hal tersebut tidak mungkin dihindari (secara sempurna). Namun orang yang salat memakai pakaian ketat adalah orang yang tidak tahu malu." (Al Mughni, 1/651).

Sebagian ulama juga berpendapat salatnya sah namun pelakunya berdosa dikarenakan memakai baju ketat. Sebagaimana pendapat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan hafizhahullah, ulama besar di Saudi Arabia saat ini, beliau berkata: "Baju ketat yang masih menampakkan bentuk tubuh wanita, baju yang tipis dan terpotong pada beberapa bagian, tidak boleh memakainya. Baju ketat tidak boleh digunakan oleh laki-laki maupun wanita, terutama bagi wanita, karena fitnah wanita lebih dahsyat. Adapun keabsahan salatnya tergantung bagaimana pakaiannya. Jika pakaian ketat ini dipakai seseorang untuk salat, dan telah cukup untuk menutupi auratnya, maka salatnya sah karena aurat telah tertutup. Namun ia berdosa karena memakai pakaian ketat. Sebab pertama, karena dengan pakaian ketatnya, ia telah meninggalkan hal yang disyariatkan dalam salat, ini terlarang. Sebab kedua, memakai baju ketat dapat mengundang fitnah karena membuat orang lain memalingkan pandangan kepadanya, apalagi wanita." (Muntaqa Fatawa Shalih Fauzan, 3/308-309).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa letak perbedaan pendapat di antara para ulama adalah dalam memutuskan apakah memakai pakaian ketat dalam salat itu sudah termasuk menutup aurat atau tidak. Dengan demikian ini adalah perkara khilafiyyah ijtihadiyyah, yang masing-masing pendapat dari ulama tersebut harus dihormati. Namun yang paling baik adalah menghindari hal yang diperselisihkan dan mengamalkan hal yang sudah jelas bolehnya. Sehingga memakai pakaian yang longgar dan lebar hingga tidak menampakkan warna kulit dan tidak menampakkan bentuk tubuh adalah lebih utama.

Kemudian perlu digarisbawahi, seluruh penjelasan di atas berlaku bagi setiap orang yang memiliki kemampuan dalam pakaian, ia berkecukupan dalam berpakaian dan mampu mengusahakan untuk memiliki pakaian yang longgar dan tidak ketat. Adapun orang yang tidak berkemampuan untuk berpakaian yang longgar, misalnya orang miskin yang hanya memiliki sebuah pakaian saja, atau orang yang berada dalam kondisi darurat sehingga tidak mendapatkan pakaian yang longgar, maka salatnya sah dan ia tidak berdosa. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah yang menceritakan dirinya ketika hanya memiliki sehelai kain untuk salat, maka Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda: "Jika kainnya lebar maka gunakanlah seperti selimut, jika kainnya sempit maka gunakanlah sebagai sarung." (HR. Bukhari no.361).

Allah Taala juga berfirman: "Bertakwalah kalian semampu kalian." (QS. At-Taghabun 16)
Demikian penjelasan kami. Wallahualam. [Ustadz Kholid Syamhudi, Lc./Yulian Purnama].


Sumber: inilah.com

MENGAPA KEBATINAN MERUSAK SYARI'AT ISLAM ??!!

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

PAI----Kita sering mendengar tentang Aliran kebatinan yang banyak diberitakan media masa akhir-akhir ini. Banyak umat muslim yang kurang memahami ajaran Islam yang benar menurut syariat, turut terjebak mengikuti aliran ini. 

Apa yang disebut aliran kebatinan itu? 

Secara kebahasaan, Batin bermakna bagian dalam, samar dan tersembunyiSecara istilah, batiniyah bermakna kelompok yang mengaku bahwa zhawahir (makna-makna terang) al-Qur’an dan hadits memiliki makna batin (tersembunyi), tak obahnya kulit dengan sari patinya, yang dapat dipahami oleh orang-orang tertentu, bukan oleh orang-orang awam.

Menurut keterangan Asy-Syaikh Ibnul Jauzi, bahwa gerakan kebatinan merupakan suatu golongan yang tersendiri, bertujuan hendak meloloskan diri dari Agama Islam dengan menimbulkan faham yang bukan-bukan dan bertentangan sekali dengan ajaran Islam yang benar.

Kebatinan itu merusak syari'at Islam, tepat juga seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Uqil:

"Islam itu binasa di antara dua golongan: Kaum batin dah kaum zhahir. Kaum batin merusak zharinya syaria'at dengan tafsir-tafsir yang mereka da'wakan, sehingga tidak ada dasar keterangannya, sehingga tidak ada yang tinggal sedikitpun dalam syari'at, melainkan mereka sudah membuat arti yang lainnya, sehingga mereka gugurkan kewajibanya yang wajib, dan larangan yang dilarang. Adapun kaum zhahir mereka mengambil yang dilarang. Adapun kaum zhahir mereka mengambil yang nyatanya saja dari pada perkara yang perlu kepada ta'wil. Maka mereka bawa sifat-sifat dan nama-nama Allah, menurut pendapat akal mereka saja.

Yang paling benar berdiri di antara dua golongan itu, yaitu kita mengambil zhahirnya, selama tidak ada dalil yang memalingkannya. Dan kita buang semua yang batin, yang tidak ada bukti dalil-dalil syari'at".

Hal ini dikemukakan begitu jauh, karena begitu bahaya kebatinan itu sangat besar bagi kerusakan syari'at Islam.

Di tanah air kita Indonesia sudah banyak orang yang terkena aliran kebatinan itu, walaupun berbeda dari asalnya. Mereka mengaku beragama Islam, tetapi cara sholatnya sangat aneh yaitu cukup dengan niat saja. Sungguh mereka telah ikut dan disesatkan oleh Syetan.  Na'udzubillahi min dzalik, tsumma na'udzubillah.


Baca juga Kenali dan Waspadai ALIRAN KEBATINAN di sekitar kita!! di sini >>>>

INILAH CARA CEPAT MENGUASAI LAGU-LAGU TILAWAH AL-QUR'AN

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم




PAI----Dalam membaca Al-Qur'an ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan. Di antara yang harus mendapat perhatian serius adalah soal "mengindahkan atau memperbagus irama". Tentu ini merupakan bagian kecil saja dari bagian-bagian yang lain yang penting.
Soal suara, kita sepakat bahwa setiap kita diberikan anugerah suara yang khas. Ada yang sama namun kebanyakan orang berbeda suaranya. Bahkan bila ada orang yang mukanya mirip suara mereka biasanya agak berbeda. Sampai di sini tentu kita faham bahwa ini merupakan 'athifah' atau bakat masing-masing. Selain itu, bersuara juga dalam kondisi khusus merupakan anugerah terindah. Betapa tidak, bila ada seorang bayi lahir, suara tangisannya sangat ditunggu-tunggu, dan orang-orang yang mengerumuninya tersenyum gembira.

Selanjutnya di atara bukti kuasa Allah adalah Ia menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang datar, bergelombang, mendayu, dan bergetar. Di samping itu ada yang bersuara lembut ada yajuga yang berat dan serak. Ada yang di dalam ada juga yang mengeluarkan suaranya persis berdengung ke luar lewat hidung. Semua itu merupakan keanekaragaman yang luar biasa.

Dari perkataan di atas, tibalah sekarang pada soal mengolah suara. Seperti yang kita tahu bahwa suara ada yang mudah sekali diolah ada pula yang seolah tidak mau berubah. Dalam tataran pendidikan, tentu pada dasarnya suara dapat diolah. Buktinya pelatihan-pelatihan vokal sangat diminati dari dahulu hingga sekarang. Maka dari segi ini dapatlah kita mengambil sudut pandang bahwa ada suara yang sangat bagus dan indah, ada juga yang krang bagus atau bahkan disebut sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Kalimat ini menemukan kristalnya pada adanya frasa "suara emas". Artinya suara ini berkelas dan mahal.



Manusia menyukai Keindahann

Selain manusia punya potensi fitrah berkebaikan, ia juga dianugerahi semangat mengenal hal baru, dan berhasrat pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Maka semua yang dilakukannya sangat dipengaruhi oleh citra kebenaran, kebaikan, dan keindahan menurut dirinya. Setiap orang memiliki citra masing-masing yang pada dasarnya tidak bisa diintervensi oleh orang lain. Menurut orang mungkin indah namun menurutnya belum tentu begitu. Ini bisa diketahui dari sebuah kalimat fakta di masyarakat yang sering menyebut seseorang yang bercitra beda itu dengan sebutan (maaf) misalnya; gila atau buta.

Pada titik ini kita berhenti sejenak. Barang kali beragama juga selain memuaskan hasrat mencari kebenaran dan kebaikan, juga (dimungkinkan) sebagai bentuk pemenuhan hasrat akan keindahan. Teks-teks agama banyak yang mengindikasikan hal itu. Dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Indah, dan ia saking indahnya tidak ada satu pun makhluk yang menyamai keindahan-Nya.

Manusia memang sangat gemar keindahan dengan citranya masing-masing. Bahkan manusia diyakini sebagai wujud paling indah di mayapada ini. Bahkan ia diberi hidup dan akal. Maka keindahan yang tanpa ruh itu tidak sempurna. Begitu pula orang yang ganteng atau cantik bila mati atau tidak berakal menjadi kurang keindahannya.


Suara Indah sangat dicari Manusia

Konon katanya dahulu putera-puteri adam ada yang hidup di perkampungan-perkampungan kecil dan terpiah-pisah. Ada yang hidup di gunung-gunung ada juga yang hidup di lembah-lembah. Dan sudah menjadi fitrah hidup manusia yang ingin berpasangan. Maka putera-puteri itu ingin lah saling mengenal. Hingga para lelaki di antara mereka membuat seruling yang bersuara merdu saat ditiup. Itu membuat perhatian para puteri Adam terpusat perhatiannya. Dan orang yang bisa meniup seruling dengan nada yang indah akan mendapat perhatian lebih.

Kisa di alinea itu terjadi di masa lalu, lalu bagaimana dengan kejadian di masa sekarang. Dapatlah bisa disampaikan bahwaitu tetap dan akan berlangsung seperti itu. Sudah fitrahnya begitu. orang yang bersuara emas akan mendapatkan perhatian lebih dari sesamanya. Ia akan banyak yang mendekati dan biasanya mahal bila diundang.


Pentingnya Suara Indah dalam Tilawah Al-Qur'an

Sebelum lebih lanjut, mari kita simak keterangan berikut ini;
أَخْبَرَنَا الْفِرْيَابِيُّ , قَالَ: نا صَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ قَالَ: نا الْأَوْزَاعِيُّ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ , عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَلَّهُ أَشَدُّ أَذَنًا إِلَى الرَّجُلِ الْحَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى الْقَيْنَةِ» قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ: يَعْنِي أَذَنًا: اسْتِمَاعًا "
Dalam teks berbahasa ini ada yang bisa kita fahami, bahwa yang berusaha memperbagus suara ketika membaca Al-Qur'an akan mendapatkan kesempatan besar bacaannya lebih didengarkan oleh Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.


Mari kita menyimak lagi satu keterangan tentang hal ini;
وَأَخْبَرَنَا الْفِرْيَابِيُّ , قَالَ: نا أَبُو قُدَامَةَ , وَعُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: أنا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , عَنْ شُعْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنِي طَلْحَةُ بْنُ مُصَرِّفٍ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ , , عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ»
Keterangan ini meminta orang yang membaca Al-Qur'an agar berusaha menghiasi bacaan Qur'annya dengan kebenaran tajwid dan keindahan suara, tentu dengan penghayatan dan niat kuat untuk mengamalkan ajarannya.

Dalam ataran filosofis tentu harus pula memperhatikan suara yang seperti apa yang pantas bagi bacaan Al-Qur'an. Salah satunya tentu kita harus mencari informasi lebih banyak tentang bagaimanakan dahulu Rasulullah melantunkannya di hadapan para sahabat-sahabatnya, atau bagaimana sahabat-sahabat Rasulullah melantukan bacaan Al-Qur'an di hadapan Rasulullah SAW atu di halaqah-halaqah dzikir.
Baik untuk catatan saja bahwa ada kriteria tertentu yang sangat baik ketika membaca Al-qur'an, di antaranya adalah keterangan berikut ini;
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ السَّقَطِيُّ قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ الْقَوَارِيرِيُّ , قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ , قَالَ: نا إِبْرَاهِيمُ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِي إِذَا سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ حَسِبْتَهُ يَخْشَى اللَّهَ»

Nah, itulah salah satunya. Suara yang indah dan mengingatkan kita akan bahaya dan huru-hara siksa Allah dan neraka, atau membuat hati tertarik dengan surga dengan mendengar bacaan Al-Qur'an dengan suara tersebut. Dalam ilmu jiwa ada disebutkan bahwa jiwa atau ruh itu akan saling mengenal. Yang bik akan mengenal yang baik dan yang buruk akan mengenali yang buruk. Dari sini menghadirkan hati yang khusyu' saat membaca Al-Qur'an harus sangat diusahakan lagi.


Urgensi Lagu-Lagu Tilawah Al-Qur'an

Di alinea-alinea di atas telah disebutkan bahwa suara indah sangat penting. Dan bila kita melatihnya dengan tujuan bersyukur kepada  Allah dan beribadah kepadanya dengan mengerahkan segenap potensi yang ada tentu itu hal yang sangat baik sekali. Dan Islam sangat perhatian dalam masalah ini. Beginilah indah nya Islam. Ia itu "syumul" meliputi dan mengatur dari bagian terkecil hidup manusia hingga aspek-aspek besar yang meliputi hajat dan risalah hidupnya. Ia mendorong penggunaan potensi dan nikmat Allah pada tempat yang benar, baik dan indah sesuat dengan ajarannya.

Dalam hal lagu, Peradaban Islam mencatat bahwa ada setidaknya 7 lagu pokok dalam tilawah Al-Qur'an. Dan tentu dari 7 lagu ini ada variasi dan keindahan dan pemanis masing-masing. Trik dan gaya penyampaiannya telah banyak dipelajari di banyak tempat. Kapankah lag ini digunakan dengan bentuk aslinya dan kapan pula ia harus dipotong atau dilantunkan dengan variasi baru ang menggigit dan lebih meninju hati pendengar lagi.

Tujuh lagu dalam bacaan Al-Qur'an ini merupakan standar. Ia diambil dari negeri-negeri Arab ang meliputi Jazirah Arabia. Tentunya kembali pada pemahaman di atas, bahwa semua harus atas persetujuan Nabi SAW.

Kita sebut satu persatu; Pertama Bayyati, Shaba, Hijaz, Rasst, Nahawand, Syika, dan Jihar Ka. Dari tujuh ini ada tingkatan nada dan variasi masing-masing. Kita dapat mempelajari dan mengetahui trik melantunkannya dari gelaran MTQ baik di dalam negeri atu di luar negeri.

Untuk para Qori di Indonesia, variasi pelantunan ke-tujuh lagu itu berkiblat kepada H Mu'ammar atau H Chumaidi. Kemudian qari-qari yang lain. Dan Para guru itu sangat dipengaruhi oleh gaya variasi lagu timur tengah khussnya Mesir. Qari-Qari dari tanah Nabi Yusuf ini sangat digemari oleh putera-puteri Indonesia. Beragam variasi bisa kita pelajari sesuai dengan kecocokan suara dan gaya yang ingin di duplikasi.


Cara Cepat mempelajari Tujuh Lagu Al-Qur'an

Tenang saja, sub judul ini merupakan bukan sesuatu yang sulit. Ingat suara adalah fitrah dan anugerah. Bila orang lain bisa tentu kita bisa. Maka kesungguhan, do'a dan keuletan akan sangat ampuh dan berperan penting dalam pelatihan apapun.

Pertama, harus di sampaikan bahwa ke-tujuh lagu di atas telah mngindonesia. arinya itu telah tersebar dalam bacaan Al-Qur'an atau kitab, lagu religi, bahkan dalam lagu adzan. Hanya saja kita sering tidak tahu namanya. Untuk pertama kali jangan hiraukan dulu bila sulit menebak nama. Manfaatkanlah referensi lagu adzan atau surat-surat pendek yang telah dikenali. Lanjutkan jangan segan-segan untuk melantunkannya kembali.

Kedua, sering-seringlah mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari H. Muammar atau H. Chumaidi. Di situ kita bisa mengenal variasi dari ke-tujuh lagu itu. Ingat, sering mendengar berarti kita merangsang otak untuk mengingat.

Ketiga, tentu ini yang pokok, belajarlah pada guru dan di tempat khusus. Belajar di hadapan guru secara langsung akan meningkatkan akselerasi kemampuan kita. Ini disebut berkah talaqqi dan silaturahim dalam berilmu. Janganlah kita sering-sering mengambil ilmu dengan mencukupkan diri dai menonton video, mendengar MP3, atu membaca buku, tanpa kita bertemu guru. Maka belajarlah [pada Pesantren Al-Qur'an dan Tahfidz agar kita mengalami Quantum dan akselerasi dalam menguasai lagu-lagu Al-Qur'an. 

* * *

Cari Artikel